Daerah

Sate Apaleh Geurugok, Ikon Kuliner yang Menjaga Tradisi dan Kebersamaan di Kota Santri Bireuen

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:00 WIB

Sate Apaleh Geurugok, Ikon Kuliner yang Menjaga Tradisi dan Kebersamaan di Kota Santri Bireuen

Sate Apaleh Geurugok. (Foto: Helmi Abu Bakar)

Bireuen, NU Online

Sate Apaleh Geurugok telah lama dikenal sebagai ikon kuliner yang tidak hanya menghadirkan cita rasa khas, tetapi juga menjaga tradisi dan mempererat kebersamaan masyarakat di Kota Santri Bireuen, khususnya saat Ramadhan.


Asap tipis dari panggangan sate mengepul di alun-alun Keude Geurugok, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen. Aroma daging yang dipanggang di atas bara arang menyebar hingga ke jalan lintas Medan-Banda Aceh yang ramai dilalui kendaraan.


Memasuki waktu berbuka puasa, warung Sate Apaleh menjadi salah satu pusat keramaian warga. Ratusan pengunjung mulai memadati lokasi, mulai dari anak muda, keluarga, hingga rombongan teman lama yang ingin menikmati suasana Ramadhan bersama.


Pemandangan tersebut tampak pada Jumat (13/3/2026), ketika meja-meja panjang dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah. Sebagian datang untuk berbuka puasa bersama keluarga besar, sedangkan yang lainnya menjadikan tempat ini sebagai ajang reuni kecil lintas komunitas.


Salah satu pengunjung, Safrizal atau yang akrab disapa Pak WA, datang bersama keluarganya dari Panteraja untuk menikmati hidangan sate yang telah lama dikenal luas di Aceh.


Menurutnya, berbuka puasa di Sate Apaleh menghadirkan pengalaman berbeda karena memadukan cita rasa dan suasana kebersamaan yang hangat.


“Kami sengaja datang bersama keluarga untuk buka puasa di sini. Rasanya sangat nikmat, dagingnya besar dan bumbunya khas,” ujar Pak WA.


Sate Apaleh Geurugok dikenal dengan potongan daging yang besar, dipanggang di atas bara arang, serta disajikan dengan kuah dan bumbu kacang khas. Keunikan ini membuat banyak orang selalu ingin kembali menikmati hidangan tersebut.


Bagi para pengguna jalan lintas Medan-Banda Aceh, singgah di warung ini seakan menjadi pengalaman yang tak boleh dilewatkan. Kehadirannya telah melekat sebagai bagian dari identitas kuliner di kawasan Gandapura.


Haris Munandar, atau yang akrab disapa Gus Atok, menilai bahwa Sate Apaleh tidak hanya dapat dilihat dari kelezatannya. Ia menyebut kuliner tersebut sebagai bagian dari warisan leluhur yang sarat nilai budaya dan filosofi kehidupan masyarakat Aceh.


“Dalam kuliner endatu (leluhur), yang dijaga bukan hanya rasa. Ada nilai kesabaran, ketekunan, dan penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan oleh orang-orang tua kita,” ujar Gus Atok.


Menurutnya, proses memanggang sate menggunakan bara arang memiliki makna tersendiri karena membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan pengalaman agar menghasilkan rasa yang sempurna.


Gus Atok menilai filosofi tersebut mencerminkan karakter masyarakat Aceh yang menjunjung ketekunan dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan.


“Bara arang itu seperti simbol kesabaran. Ia membakar perlahan, tetapi menghasilkan rasa yang kuat. Begitu juga tradisi yang diwariskan oleh endatu kita, dijaga dengan kesabaran agar tetap hidup sampai sekarang,” katanya.


Ia juga menambahkan bahwa warung kuliner tradisional seperti Sate Apaleh memiliki peran sosial yang penting sebagai ruang pertemuan masyarakat dari berbagai latar belakang.


“Warung seperti ini bukan hanya tempat makan. Ia menjadi tempat orang bertemu, berbagi cerita, dan mempererat silaturahmi. Apalagi saat Ramadhan, ketika orang-orang berkumpul untuk berbuka puasa bersama,” tambahnya.


Di tengah berkembangnya kuliner modern, keberadaan Sate Apaleh menjadi pengingat bahwa warisan budaya dapat hidup dalam keseharian masyarakat. Tradisi tersebut terus terjaga melalui kebiasaan sederhana yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Bagi masyarakat Aceh, khususnya di Bireuen, Sate Apaleh bukan sekadar usaha kuliner, tetapi juga bagian dari identitas lokal yang terus hidup dan berkembang.