Daerah

Tantangan Desainer Grafis di Tengah Menjamurnya Penggunaan AI

Ahad, 1 November 2026 | 06:30 WIB

Tantangan Desainer Grafis di Tengah Menjamurnya Penggunaan AI

Siswa MAN 2 Rembang usai mengikuti Workshop Desain Grafis, Sabtu (31/10/2026) di Perpustakaan Al-Kautsar MAN 2 Rembang, Jawa Tengah. (Foto: Dok Ayu Lestari)

Rembang, NU Online

Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa tantangan baru bagi dunia desain grafis, terutama dalam menjaga kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan etika berkarya di kalangan pelajar.


Pemilik Ryu Design Studio Sabilatus Salamah mengatakan, kehadiran AI membawa perubahan besar dalam akses informasi. Jika sebelumnya seseorang harus datang langsung ke perpustakaan untuk mencari informasi, kini berbagai pertanyaan dapat diajukan melalui AI dan dijawab dalam waktu singkat.


Karena itu, menurutnya, kemampuan memeriksa kebenaran informasi menjadi hal penting. Informasi yang diperoleh melalui AI tetap perlu diverifikasi menggunakan sumber tepercaya, seperti buku dan artikel ilmiah bereputasi.


Hal tersebut disampaikan Sabilatus dalam Workshop Desain Grafis di Perpustakaan Al-Kautsar MAN 2 Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (31/10/2026).


Ia juga menilai, desain yang dihasilkan AI masih memiliki keterbatasan karena prosesnya bergantung pada perintah pengguna dan belum sepenuhnya melibatkan kreativitas manusia.


“Desain AI itu tidak sesuai dengan kaidah desain. Komposisinya terkadang asal-asalan dan tidak rapi. Mungkin terlihat bagus saat pertama kali dilihat, tetapi semakin lama justru terasa jenuh dan penuh sesak. Membosankan serta tidak memiliki ciri khas,” ungkapnya.


Lebih lanjut, Sabilatus menyebut ada tiga hal utama yang harus dimiliki seorang desainer, yakni kreativitas, ciri khas, dan etika. Ketiganya menjadi aspek penting yang perlu dipertahankan di tengah perkembangan teknologi AI.


Menurutnya, kreativitas manusia tetap memiliki keunggulan karena setiap individu mempunyai karakter dan gaya desain yang beragam. Sementara itu, desain yang dihasilkan AI dinilainya cenderung memiliki pola visual serupa dan terkadang kurang memperhatikan komposisi.


“Ketika mencari informasi, sebaiknya tetap dipastikan kebenarannya melalui buku-buku yang ada. Masih banyak juga buku yang tidak bisa ditiru AI, misalnya buku novel, jurnal, dan esai,” tuturnya.


Senada, Kepala Perpustakaan Al-Kautsar MAN 2 Rembang Khoirul Anam menilai kehadiran AI dalam dunia desain merupakan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, AI dapat menjadi alat yang mempercepat proses kreatif.


“Tugas guru bukan lagi melarang, tetapi menuntun siswa agar tetap memiliki proses berpikir,” ujar Anam.


Ia menjelaskan, kreativitas justru berisiko terhambat apabila AI dijadikan sebagai titik akhir. Hal itu terjadi ketika siswa hanya menyalin hasil yang dibuat teknologi tanpa melakukan kurasi maupun pengembangan lebih lanjut.


“Kreativitas manusia bukan hanya soal hasil yang bagus, tetapi juga tentang proses ketika mengalami kebuntuan, mencari referensi di buku, dan berdiskusi,” jelasnya.


Anam menegaskan, AI tidak dapat menggantikan proses belajar dan riset. Karena itu, ia selalu mengingatkan para siswa agar menjadikan AI sebagai alat bantu, sementara gagasan dan isi karya tetap harus bersumber dari proses literasi dan riset mereka sendiri.


Ia mengakui, kemudahan yang ditawarkan AI juga berpotensi menimbulkan kemalasan berpikir. Sebagian siswa menjadi enggan membuat sketsa secara manual maupun membaca buku desain grafis karena merasa berbagai kebutuhan dapat diperoleh secara instan melalui teknologi digital.


Tantangan lainnya adalah munculnya anggapan bahwa siswa tidak lagi perlu mempelajari dasar-dasar desain grafis. Padahal, pemahaman mengenai prinsip tata letak, teori warna, dan tipografi tetap menjadi fondasi penting untuk menghasilkan karya berkualitas.


Sebagai bentuk edukasi, Anam menyampaikan prinsip 3M dari Perpustakaan Al-Kautsar dalam menyikapi perkembangan AI, yakni Membaca, Mengurasi, dan Menjaga Akhlak Digital.


“Ilmu membentuk akhlak, literasi menuntun masa depan. AI boleh canggih, tetapi adab dan nalar kritis harus tetap lebih canggih,” pungkas Anam.