Lokasi Muktamar NU dari Masa ke Masa (Bagian Pertama-Masa Kolonial)
Jumat, 3 Juli 2026 | 12:00 WIB
Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nadhlatul Ulama (NU) yang rencananya akan dihelat pada 1-5 Agustus 2026, hal yang banyak dibahas publik yakni soal lokasi penyelenggaraan Muktamar NU. Lokasi penyelenggaraan muktamar ini bakal diputuskan setelah dilakukan peninjauan terhadap sejumlah daerah yang mengajukan diri sebagai tuan rumah.
Sebagaimana diketahui, tiap tahun peserta Muktamar NU dari masa ke masa semakin bertambah. Dari yang hanya berjumlah ratusan hingga terakhir pada Muktamar ke-34 tahun 2021, tercatat sebanyak 1.959 peserta resmi. Jumlah ini ditambah dengan kuota panitia sebanyak 336 orang, sehingga totalnya mencapai 2.295 orang.
Jumlah tersebut, tentu belum ditambah dengan para romli, sebuah istilah untuk menyebut rombongan yang ikut hadir ke arena Muktamar NU, bukan sebagai peserta resmi, melainkan sebagai pengantar peserta resmi atau sekadar meramaikan dengan ikut membuka stand jualan, jalan-jalan, ingin melihat wajah para ulama, dan aneka motif lainnya. Kehadiran para romli ini, akan menambah semarak penyelenggaraan Muktamar NU.
Muktamar NU sendiri, sejak NU berdiri satu abad lalu hingga kini, telah berlangsung selama 34 kali. Dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU disebutkan, Muktamar NU menjadi forum permusyawaratan tertinggi di dalam perkumpulan Nahdlatul Ulama. Pada awalnya, Muktamar NU dihelat satu tahun sekali, kemudian mengalami beberapa perubahan dan kini dilaksanakan setiap lima tahun sekali oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Adapun lokasi Muktamar juga berpindah-pindah. Dari Surabaya hingga lampung. Dari hotel hingga pondok pesantren. Pada serial pertama ini, penulis menyajikan data lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-1 hingga 15 (Tahun 1926-1940), sedangkan untuk muktamar dari tahun 1946 hingga 2021, akan dibahas pada serial berikutnya. Berikut lokasi penyelenggaraan Muktamar NU dari masa ke masa (Bagian Pertama, 1926-1940):
1. Hotel Muslimin dan Masjid Sunan Ampel Surabaya (Muktamar ke-1, 2, dan 3, 1926-1928)
Pada masa awal berdiri, NU berkantor pusat di Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Sasak Nomor 23 (ada pula yang menyebut Nomor 66, sesuai alamat majalah Berita Nahdlatoel Oelama) Surabaya. Di lokasi bangunan yang berdekatan dengan Masjid Ampel inilah, kantor pusat pertama PBNU berdiri, yang kala itu masih disebut HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama).
Baca Juga
Menuju Lokasi Muktamar
Alhasil, Muktamar NU pertama kali dilaksanakan di kota yang sama dengan kantor NU kala itu, yakni di Surabaya. Dalam buku Fragmen-fragmen Muktamar NU dari Era Kolonial hingga Milenial (A Mukafi dkk, Numedia Digital Nusantara, 2021, hlm. 2) menyebutkan Muktamar NU pertama diselenggarakan di Surabaya, tak lama setelah NU berdiri dan tetap terselenggara di kota tersebut sampai muktamar ketiga (1928).
Berdasarkan penuturan Barur Rohim dari Komunitas Pegon (2026), Muktamar NU yang pertama bertempat di Hotel Muslimin yang beralamat di Jalan Peneleh No 52 (kini Jalan Makam Pahlawan No 77) Surabaya, yang berjarak kurang lebih 1,5 km dari Stasiun Kota Surabaya.
Dalam Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) No 2 Tahun 1 disebutkan, pelaksanaan Muktamar NU yang pertama dihelat pada 14-16 Rabiul Awwal 1345 H atau bertepatan dengan 22-24 September 1926 dengan dihadiri 93 ulama dari Jawa dan Madura, serta 3 ulama lain dari luar wilayah tersebut.
Setahun berselang, Muktamar ke-2 NU diselenggarakan di lokasi yang sama dengan yang pertama. Yang membedakan adalah jumlah peserta serta antusiasme masyarakat dalam menyemarakkan perhelatan muktamar. Dari jumlah peserta, Muktamar ke-2 NU, dihadiri 146 kiai dari 36 daerah, serta 238 peserta dari kalangan bukan petani, yakni pejabat, saudagar, aktivis, dan lain-lain.
Kemudian, yang tidak kalah penting, hasil-hasil Muktamar NU diumumkan ke publik pada sebuah rapat akbar yang diselenggarakan di Masjid Ampel Surabaya. Acara apel akbar ini dihadiri kurang lebih 18 ribu jamaah, yang memenuhi Masjid Ampel dan sekitarnya.
Muktamar ke-3 NU diselenggarakan pada 8-11 September 1928, masih di Hotel Muslimin Surabaya. Untuk pertama kalinya, Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari membacakan qanun asasi NU, yang disimak oleh para peserta Muktamar yang mendapatkan selebaran kopian qanun asasi tersebut.
2. Hotel Arabistan dan Masjid Agung Semarang (Muktamar ke-4, 1929)
Setelah tiga kali berturut-turut, Muktamar NU digelar di Surabaya, pada perhelatan keempat, lokasi muktamar bergeser ke Jawa Tengah. Faktor utamanya, selain banyak para pendiri NU yang berasal dari daerah ini juga telah bermunculan beberapa cabang baru, seperti di Semarang, Pekalongan, Kudus, Blora, dan lain-lain. Faktor inilah yang membuat kesiapan Jawa Tengah menjadi lokasi Muktamar ke-4 NU.
Kota Semarang dipilih karena sebuah kota yang memiliki pelabuhan dan menjadi pusat kaum pergerakan kala itu. Muktamar NU keempat digelar pada 12-15 Rabiuts Tsani 1348 H/17-20 September 1929 M di Hotel Arabistan Kampung Melayu Semarang.
Muktamar di Semarang tergolong sukses karena dihadiri 1.450 peserta terdiri dari 350 kiai, 900 pengawal kiai dan 200 pengurus tanfidziyah. Saat Muktamar keempat di Semarang sudah terdaftar: 63 Cabang (13 Jawa Barat, 27 Jawa Tengah, dan 23 Cabang Jawa Timur). Penutupan Muktamar digelar di Masjid Agung dan Alun-Alun Semarang dengan dihadiri 10 ribu jamaah.
3. Hotel Oranye dan Masjid Jami' Pekalongan (Muktamar ke-5, 1930)
Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) edisi tahun 1349 H memuat laporan tentang Muktamar ke-5 NU tahun 1930 yang diselenggarakan sejak Selasa, 15 Rabi’ul Akhir atau 8 September 1930, bertempat di Hotel Oranye dan Masjid Jami’ Pekalongan.
“Kongres Nahdlatul Ulama kang kaping gangsal dhawah tahun 1349 Hijriah. Punika manggen wonten Griya (Oranye Hotel) Kampung Kepatihan Straat Pekalongan. Wiwit malem Selasa (tanggal 15) dumugi dinten Kamis (17) wulan Rabi’uts Tsani 1349 / 8 dumugi 11 September 1930. Salajeng malam Jum’at, tanggal 18 sedaya putusan kadamel Openbaar (ijtima’ umume) wonten Masjid Jami’ Pekalongan.”
(Kongres Nahdlatul Ulama yang kelima jatuh (terselenggara) pada tahun 1349 Hijriah. Bertempat di Hotel Oranye Kampung Kepatihan Straat Pekalongan. Dimulai sejak malam Selasa (tanggal 15) hingga Kamis (17) bulan Rabiuts Tsani 1349 atau bertepatan dengan tanggal 8-11 September 1930 M. Kemudian, pada malam Jumat, tanggal 18 Rabiuts Tsani semua hasil pembahasan diplenokan bersama, bertempat di Masjid Jami' Pekalongan).
4. Hotel Oranje dan Tajug Agung Masjid Cirebon (Muktamar ke-6, 1931)
Muktamar ke-6 NU digelar di Hotel Oranje Cirebon pada 24-26 Agustus 1931. Salah satu faktor yang menjadikan Cirebon dipilih sebagai tuan rumah, yakni lokasinya berada di antara wilayah Jawa Barat (Sunda) dan Jawa Tengah (Jawa).
Dengan kata lain, NU yang sudah memiliki basis di Jawa Timur dan Tengah, agar semakin berkembang ke wilayah Barat. Selain itu kemiripan dengan tiga lokasi sebelumnya, Cirebon juga dikenal sebagai wilayah yang memiliki pelabuhan, yang akan memudahkan akses transportasi pada masa itu.
Kesukaran mengadakan rapat umum dalam Tajug Agung Masjid Kota Cirebon, dapat diatasi oleh KH Abdul Wahab dengan mencari dukungan dari Adviseur voor Indlandsche Zaken di Jakarta.
5. Bekas Bangunan Hotel di Sunia Raja dan Masjid Besar Bandung (Muktamar ke-7, 1932)
Tahun berikutnya, giliran Bandung yang menjadi tuan rumah Muktamar NU. Lokasi yang dipilih yakni sebuah gedung bekas hotel yang beralamat di Jalan Sunia Raja No 22 Bandung. Letaknya, di sebelah tenggara Stasiun Bandung Kota serta berdekatan dengan Jalan Otista Bandung.
Muktamar NU di Bandung berlangsung pada tanggal 12 sampai 16 Rabiul Tsani 1351 H bertepatan dengan 15 sampai dengan 19 Agustus 1932 M. Menurut laporan muktamar tahun itu, hadir 197 ulama dan 210 pengiringnya dan tamu lain-lain dari 83 daerah di Indonesia.
Muktamar itu diakhiri dengan openbaar (rapat umum) yang berlangsung di Masjid Besar Kota Bandung dengan dihadiri 10 ribu kaum muslimin dari berbagai daerah terdekat sekitar Jawa Barat serta para peserta muktamar dari berbagai daerah di Indonesia.
6. Rumah Sayid Ismail Al-Athas, Batavia (Jakarta) (Muktamar ke-8, 1933)
Barur Rohim dalam artikel berjudul Menyusuri Jejak Muktamar VIII NU di Batavia (2025), menerangkan gedung yang pernah menjadi lokasi Muktamar ke-8 NU pada 6-11 Mei 1933, kini menjadi Museum Tekstil Jakarta yang terletak di Jalan KS. Tubun, Palmerah, Jakarta Barat. Tak jauh dari Pasar Tanahabang.
Sayid Ismail bin Abdullah bin Alwi Al-Athas, sebagai pemilik gedung, mempersilakan pelaksanaan muktamar di tempat tersebut secara gratis. PBNU dalam laporannya yang dimuat di SNO, No. 3 Tahun IV, Rabiul Awal 1349 H menulis demikian:
“Nahdlah bertempat kongres di situ tidak dengan sewa setengah sen pun. Hanya dari kedermawanannya yang mulia tuan rumah tadi. Padahal, umpama Nahdlah menyewa sampai lebih dari empat ratus rupiah, maka masih berasa murah.”
Dengan fasilitas ini, Muktamar yang dihadiri 162 orang utusan cabang NU dan 373 tamu undangan (Daftar hadir Muktamar VIII NU, lihat SNO, No. 5 Tahun IV, Jumadil Awal 1349 H) dapat berjalan dengan lancar hingga purnaacara. Rapat umum yang sedianya dihelat di Masjid Tanah Abang, dipindah ke depan gedung muktamar, karena masjid tidak muat.
7. Madrasah Al-Chairiyah, Pesantren Lateng dan Masjid Besar Banyuwangi (Muktamar ke-9, 1934)
Pada edisi keenam, lokasi muktamar kembali bergeser ke timur, tepatnya di Banywuangi. Dalam dokumen yang dikumpulkan Perpustakaan PP Lakpesdam NU berjudul Catatan Singkat Kongres NU ke-4 hingga 10, memuat kutipan dari berita LINO No. 6 Juli 1971 hal. 3-7. disebutkan mengenai pembentukan Konsul NU.
"Konsulat untuk Djawa Tengah Utara M Masna Tjirebon, Djawa Tengah Selatan R H Muchtar, untuk Djawa Tengah Timur KH Abdul Djalil Kudus, untuk Malang R Iskandar Sulaiman, untuk Pasuruan KH Dahlan, untuk Djawa Barat Sdr. Zainal Arifin, untuk Palembang S. Abdullah Gathmyr, untuk Barabai Kalimantan KH Sulaiman Kurdi, dan untuk Madura berkedudukan di Bangkalan, KH A Munif."
Rapat Umum diadakan di Masjid Besar Banyuwangi, yang dihadiri oleh Rais Akbar KH M Hasyim Asy'ari.
8. Rumah KG Surya Sugiyanta, Masjid Mangkunegaran, dan Masjid Agung Kasunanan Surakarta (Muktamar ke-10, 1935)
Pada tanggal 13-19 April 1935 M / 9-14 Muharram 1354 H, Kota Solo yang kala itu masih menjadi ibu kota Kerajaan Kasunanan Surakarta dan dipimpin Paku Buwana X, terpilih sebagai tuan rumah penyelenggara Congres atau Muktamar ke-10 Nahdlatul Ulama.
Proses persiapan dan dinamika penyelenggaraan Muktamar kesepuluh ini tercatat lengkap dalam buku Poeteosan Congres Nahdlatoel ‘Oelama’ ka 10 di Solo Soerakarta Tanggal 13-19 April 1935 yang diterbitkan oleh HBNO.
Adapun lokasi penyelenggaraan muktamar, yakni di rumah Kanjeng Gusti Surya Sugiyanta Mangkunegaran. Rumah Kanjeng Gusti Surya Sugiyanta putra KPPA Mangkunegara V (Lahir 1887 M), terletak di Giyantan (di masa kini terletak sekitar SMA Muhammadiyah 1 Surakarta, pen). Kemudian juga Masjid Agung Kasunanan dan Masjid Mangkunegaran yang digunakan untuk acara lokasi Openbaar (pengajian umum).
Meskipun penyelenggaraan muktamar dilaksanakan di Kota Solo, tetapi beberapa cabang terdekat seperti Klaten dan Boyolali juga ikut membantu cabang Solo dalam melayani para tamu serta kelancaran pelaksanaan muktamar
9. Gedung Congres Banjarmasin dan Kediaman KH Abdurrahman Martapura (Muktamar ke-11, 1936)
Untuk pertama kalinya, Muktamar NU diselenggarakan di wilayah luar Jawa. Tepatnya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Barur Rohim dalam artikel berjudul Mengenang NU Banyuwangi dari Langgar Al-Hinduan Banjarmasin (2019) menuliskan muktamar tersebut bertempat di sebuah "Gedung Congres" yang beralamat di Sungai Messa 23, sebagaimana yang dimuat di Berita Nahdlatoel Oelema.
Gedung Congres yang dimaksud tak lain adalah Langgar Al-Hinduan, yaitu mushala yang berdiri sekitar tahun 1915. Tempat ini didirikan oleh Habib Salim bin Abubakar al-Kaff atas tanah wakaf istrinya, Syarifah Salmah Al-Hinduan. Dari marga istrinya tersebut, tempat shalat itu diberi nama.
Di tempat yang kini beralamat di Jalan Piere Tendean, Banjarmasin Tengah, tampak bangunan dua lantai dengan luas kurang lebih 150 meter persegi berdiri di pinggir jalan, menghadap ke Sungai Martapura yang membelah kota. Bangunan yang didominasi warna hijau dan putih itu tepat di atas pintunya, tertulis dengan aksara Arab: Al-Hinduan.
Rapat umum sedianya akan diadakan dua kali, yakni di gedung kongres dan Masjid Besar Banjarmasin. Namun, karena masjid masih dalam renovasi, rapat umum di Masjid Besar Banjarmasin dibatalkan.
Sebagai gantinya, atas permintaan cabang Martapura, diselenggarakan sekali lagi resepsi penutup di kediaman KH Abdurrahman Martapura, sekitar 40 KM dari Banjarmasin. Sebagaimana ditulis Abu Bakar Atjeh dalam Biografi KH A Wahid Hasyim, semua peserta muktamar diangkut perahu menyisir sungai, menuju ke lokasi penutupan.
10. Hotel Mansion dan Rumah KH Nachrawi Malang (Muktamar ke-12, 1937)
Surat Kabar Pemandangan eidisi 1 Juli 1937 mengabarkan penyelenggaraan Muktamar NU di Malang yang bertempat di Hotel Mansion Kota Malang pada 23-24 Juni 1937. Sementara Abu Bakar Atjeh, dalam Biografi KH A Wahid Hasyim menyebutkan, rapat juga diselenggarakan di rumah KH Nachrawi Thohir.
Dalam rapat di kediaman Kiai Nahcrawi tersebut, sempat terjadi pertentangan pendapat mengenai Ansor. Pada akhirnya, KH Hasyim Asy'ari sendiri yang turun langsung memimpin jalannya rapat tersebut, dengan nasihat yang terurai dengan lemah lembut, sehingga banyak yang terharu dan banyak yang tidak dapat menahan air matanya.
11. Menes Banten (Muktamar ke-13, 1938)
Salah satu usulan yang cukup menggemparkan dalam Muktamar ini adalah supaya NU menaruh seorang wakilnya di Volksraad (Dewan Rakyat), yang artinya NU akan masuk ke gelanggang politik praktis. Namun, usul ini kemudian ditolak.
Dalam Rapat Umum yang digelar di Alun-Alun Menes, yang dikunjungi oleh puluhan ribu penduduk Bantam atau Banten, yang terkenal kuat dalam agamanya, diumumkan kongres atau muktamar berikutnya yang akan diselenggarakan di Magelang.
12. Hotel Semarang dan Masjid Jami', Kota Magelang (Muktamar ke-14, 1939)
KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya berjudul Berangkat dari Pesantren (LKiS, 2013, hal. 178) menerangkan Muktamar ke-14 NU dihelat hampir selama seminggu (15 - 21 Juli 1939), bertempat di Hotel Semarang Pecinan Magelang dan Masjid Jami' Magelang.
Pemilihan Kota Magelang, dalam konteks masa itu yang penuh dengan tantangan, sebagai tuan rumah Muktamar NU, tentu tidak bisa dibandingkan dengan situasi sekarang. Kiai Saifuddin menggambarkan sebagai berikut:
"Konsul R.H Mukhtar bekerja keras untuk “membabat hutan” serta meratakan jalan menuju ke muktamar Magelang, dengan didampingi oleh Sekretaris Majelis Konsul Kiai Ahmad Zuhdi, dibantu oleh Ketua NU cabang Purworejo KH Jamil dan Ketua Cabang Temanggung di Parakan, Mas Fandi. Konsul R.H. Mukhtar memasuki Kota Magelang yang baginya masih asing. Berhari-hari ia pelajari situasi dan kondisi Magelang dan sekitarnya, sesudah itu barulah direncanakan dari mana kerja harus dimulai."
Atas kerja keras tersebut, Muktamar NU dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan berbagai kebijakan penting.
13. Gedung Stadstuin, Gedung Nasional Indonesia dan Masjid Besar Ampel Surabaya (Muktamar ke-15, 1940)
Muktamar ke-15 NU pada 15-21 Juni 1940, dihelat di beberapa tempat yakni Gedung Stadstuin untuk rapat umum, Gedung Nasional Indonesia (GNI) yang terletak di Bubutan untuk rapat Ansor NO, tak jauh dari Stasiun Pasar Turi Surabaya. Selain itu, sidang Muslimat NU juga dilaksanakan di Masjid Besar Ampel.
Muktamar ini menjadi perhelatan terakhir di masa kolonialisme Hindia Belanda dan muktamar berikutnya diselenggarakan setelah Indonesia merdeka, tahun 1946.
Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (Jatayu, Solo, 1984, hlm. 110) keterlibatan NU di dalam perjuangan kemerdekaan semakin menonjol, terutama melalui wadah MIAI. Oleh karena itu, pada Muktamar ke-15 ini, selain membahas masalah keagamaan, juga persoalan lain terkait kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda.