Fragmen

NU Ibarat Sebuah Kapal: Perjalanan Peserta Muktamar Ke-11 di Banjarmasin 1936

Rabu, 5 Agustus 2026 | 15:05 WIB

NU Ibarat Sebuah Kapal: Perjalanan Peserta Muktamar Ke-11 di Banjarmasin 1936

Ilustrasi perjalanan para peserta Muktamar ke-11 NU pada 1936 dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Muktamar tahun itu diselenggarakan di Banjarmasin (Foto: AI)

Pada 1936, NU menggelar muktamar ke-11 di Kalimantan selatan. Sebuah tempat yang mungkin tak terbayangkan para kiai di Jawa. NU yang semula dianggap hanya akan tumbuh di Surabaya saja, pada akhirnya melebarkan sayap dan menyelenggarakan kongresnya di pulau Borneo. 


Sebelumnya, pada 1930, di Martapura, Kalimantan Selatan berdiri cabang NU. Itulah mungkin cabang pertama di luar Jawa. Syekh Kasyful Anwar yang mengupayakannya, sebagaimana diungkapkan koran Bintang Borneo pada berita berjudul “Pergerakan Islam” menyebutkan bahwa dia menghubungkan Islam di Martapura dengan Nahdlatul Ulama di Jawa. 


Poen Kabarnja di Martapoera hendak diadakan tjabangnja Nahdlatoel Oelama,” tulis koran tersebut edisi No. 108, 18 Juli 1930. 


Berita itu senada dengan keterangan koran Swara Publiek edisi No. 144, 3 Juli 1930. Diperkuat kembali oleh Bintang Borneo setahun kemudian pada berita berjudul “Nahdatoel Oelama di Kalimantan”. Berita No 172 17 November 1931 tersebut menyebut hanya ada satu cabang di Kalimantan, yaitu Martapura. 


Mungkin muktamar di Kalimantan Selatan tersebut sebagai bentuk penghargaan dari HBNO (PBNU) kepada cabang, seluruh anggota NU di Kalimantan Selatan, serta Syekh Kasyful Anwar. 


Keberangkatan Para Muktamirin
Sebelum berangkat ke tanah Borneo, para peserta muktamar dari berbagai cabang di pulau Jawa terlebih dahulu berkumpul di Surabaya. Mereka menginap semalam di hotel-hotel di sekitaran Kertopaten. Mereka yang menginap di Hotel Sentausa mendapatkan diskon 50 persen. 


Berdasarkan verslag (laporan) muktamar ke-11 NU, para peserta yang jauh dari Surabaya seperti Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan, tetap hadir. Namun, karena muktamar ini harus menempuh perjalanan terjauh, beberapa cabang diwakili bagian syuriyah merangkap tanfidziyah. 


NU Cabang Cirebon misalnya biasanya mengirimkan KH Abbas Buntet dan KH Abu Chair di tiap muktamar, kali ini hanya diwakili KH Abdul Chalim Leuwimunding sebagai tanfidziyah merangkap syuriyah. NU Cabang Palembang: hanya mengirimkan Salim bin Muhammad Alkaaf. KH Mas Abdurrahman Menes yang rutin hadir sejak muktamar pertama di Surabaya pada 1926, kali ini tidak tercatat di absen. 


Berita Nahdlatoel Oelama 18-19 Jumadil Ula 1355 H tahun ke-5 menggambarkan peristiwa para peserta muktamar di Tanjung Perak. Setelah berkumpul pada Jumat 5 Juni 1936, keesokan harinya, para peserta muktamar berangkat ke Tanjung Perak menuju ke kapal Jansen. 


Di pelabuhan tersebut sekitar 3.000 orang tampak memadati Tanjung Perak untuk mengantar keberangkatan para peserta. Di tengah kerumunan, berbaris rapi rombongan murid dari kira-kira 21 madrasah sambil mengumandangkan lagu-lagu merdu. Panji-panji indah milik madrasah turut menghiasi suasana, berdampingan dengan bendera Nahdlatul Ulama yang berkibar megah di atas kapal.


Namun, sayang sekali hingga pukul 16.45, KH Abdul Wahab Chasbullah belum tampak hadir di kapal. Meskipun NU tidak bergantung hanya pada satu orang pemimpin, mengingat kedudukan beliau sebagai Algemeene Secretaris (Sekretaris Umum) Hoofdbestuur (Pengurus Besar), keterlambatannya cukup mengecewakan. Bagi orang yang tidak mengetahui beratnya beban tanggung jawabnya, mungkin akan cenderung menyalahkan. 


Namun, bagi yang memahami siapa Kiai Wahab dan tugas berat yang dihadapinya, hal tersebut tidaklah mengherankan. Niat dan komitmen Kiai Wahab yang bijaksana tentu tidak perlu diragukan lagi. Walaupun tertinggal dan tidak bisa berangkat dalam satu kapal bersama para peserta kongres (congressisten) lainnya, ia tetap menyusul menggunakan kapal lain, sehingga segala kekurangan yang ada dapat teratasi, meskipun belum sesempurna yang diharapkan.


Ketika kapal membunyikan peluit yang pertama, menandakan kapal akan berangkat, berpidatolah KH Jasin: 
 

“...mengoetjapkan sjoekoer dan melahirkan goembiranja serta poela mengoetjapkan beberapa sja'ir jang mengandoeng poedjian2 pada N.O. dan oemmat Islam jang giat bekerdja oentoek goenanja uemoem, achirnja beliau mengoetjapkan do'anja jang dengan gemoeroeh disamboet AMIN dari pengantar jang beriboe2 itoe.” 


Setelah pidato Wakil Rais HBNO KH Abdoerrachman tentang upaya upaya serta susah payahnya NU untuk melaksanakan muktamar di luar Jawa tiada lain untuk menjunjung tinggi ajaran Islam dan menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar, kapal Jansen pun bersiap mengarungi lautan. 


“…maka fluit kapal jang penghabisan berboenji dan kapal meolai renggang meninggalkan daratan; dari kedoea pehak pengantar dan jang diantarkan nampaklah perlambaian jg berarti, dan memberi semangat bekerdja, bekerdja sampai maksoed kita berhasil; demikianlah lambat laoen daratan kita tinggalkan pada djam 5 sorenja hari Sabtoe menoedjoe ke tengah semodera jang bergelombang besar.”


Menurut BNO, pelayaran menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-11 di Banjarmasin pada Juni 1936 bukan sekadar perjalanan fisik mengarungi lautan, melainkan sebuah refleksi filosofis tentang hakikat berorganisasi. Dalam tafsirannya, pelayaran tersebut diibaratkan sebagai gambaran nyata dari dinamika pergerakan NU: sebuah kapal besar yang tengah mengarungi samudera luas bergelombang demi mengantarkan umat menuju cita-citanya.


Perjalanan menyeberangi lautan lebar menuju pulau tujuan merupakan metafora dari perjuangan jam'iyah NU. Dalam pergerakan ini, nasib dan keselamatan pelayaran sangat bergantung pada kecakapan para pemimpinnya—Hoofdbestuur (Pengurus Besar) dan pengurus daerah—yang bertindak sebagai nakhoda serta juru mudi.


Kepemimpinan yang tangguh dan bijaksana menjadi kunci utama. Gelombang besar samudra akan menguji ketahanan setiap orang di dalamnya. Mereka yang tidak tahan diempas gelombang, atau ragu terhadap arah pelayaran, berisiko terempas dan tertinggal di tengah samudera. Pergerakan ini menuntut keteguhan hati, baik dari jajaran pimpinan yang mengemudikan arah maupun dari para anggota yang mengarungi perjalanan bersama.


Kemudian, setelah mengarungi Laut Jawa, kapal memasuki Sungai Belitung, sebuah sungai yang saat ini terletak di Kecamatan Banjarmasin Barat. Hingga mendekati Muara Sungai Banjar pada Ahad sore 7 Juni, kegembiraan para penumpang meluap. Rasa mabuk laut dan jerih payah pelayaran seolah sirna seketika saat tujuan sudah di depan mata. Namun, pelayaran ini memberikan pelajaran moral yang sangat berharga ketika kapal terpaksa menurunkan jangkar karena air sungai yang surut, menunggu pasang pada Senin pagi.


Menurut BNO, peristiwa tertahannya kapal di muara ini disimbolkan sebagai peringatan kritis bagi pemimpin dan yang dipimpin:


Pertama, menghindari kelalaian. Ketika cita-cita atau tujuan organisasi sudah semakin dekat, sikap gegabah, lalai, dan euforia berlebihan justru menjadi ancaman terbesar. Rintangan sering kali datang di saat-saat terakhir menjelang garis akhir.


Kedua, ujian keuangan. Artikel tersebut memberikan analogi tajam: "Sekalipun kapal kita (NU) baik, kalau airnya (uang/daya dukungnya) surut, kandaslah dia." Hal ini menegaskan pentingnya tata kelola dan kesiapan logistik organisasi yang sehat untuk menopang kepemimpinan yang baik.


Oleh karena itu, kepemimpinan dan warga NU diajak untuk selalu insyaf (sadar) dan waspada, agar jarak yang sudah dekat tidak kembali menjadi jauh akibat kelengahan di saat kritis.


Sambutan di Banjarmasin
Setelah masa menanti berakhir, pada Senin, 8 Juni 1936 pukul 06.00 pagi, kapal kembali mengangkat jangkarnya dan berlayar memasuki Sungai Banjar. Sambutan hangat nan megah menyambut kedatangan para congressisten (peserta muktamar).


Sekitar 3.000 warga dan pengantar memadati Pelabuhan Banjarmasin. Rombongan murid-murid madrasah mengumandangkan lagu-lagu merdu, diselingi tiga kali dentuman meriam penghormatan dari pihak penyambut. Pemimpin dan yang dipimpin melebur dalam kehangatan jabat tangan, penghormatan, serta arak-arakan bersama setelah melewati pemeriksaan pelabuhan.