Ceramah Prof Haris di KJRI Toronto: Umat Islam Minoritas Berpeluang Raih Pahala Lebih Besar
Selasa, 3 Maret 2026 | 23:14 WIB
Pengajian dan Buka Bersama di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Toronto, Kanada, pada Sabtu (28/2/2026). (Foto: istimewa)
Toronto, NU Online
Jumlah umat Islam di negara Kanada termasuk minoritas. Kondisi seperti itu membawa peluang pahala lebih besar bagi umat Islam, karena menghadapi berbagai kesulitan dalam menjalankan ibadah.
Hal itu disampaikan pendakwah NU, Prof H M Noor Harisudin dalam Pengajian dan Buka Bersama di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Toronto, Kanada, pada Sabtu (28/2/2026), sebagaimana disampaikannya kepada NU Online, Selasa (3/3/32026).
“Semakin banyak masyaqqah-nya, maka semakin banyak pahalanya,” ujar Prof Haris.
Menurutnya, umat Islam di Kanada menghadapi tantangan dalam menjalankan ibadah, mulai dari keterbatasan jumlah masjid, persoalan regulasi, relasi sosial, ketersediaan makanan halal, hingga faktor cuaca yang sangat dingin.
Kondisi tersebut berbeda dengan negara-negara mayoritas Muslim sebagaimana di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Mesir, dan Arab Saudi.
Namun, kata Prof Haris, kesulitan tersebut justru menjadi kelebihan tersendiri dalam perspektif ajaran Islam.
“Rasulullah bersabda, al-ajru bi qadri at-ta‘abi (pahala itu bergantung pada kadar kepayahan). Makanya, sama-sama shalat Subuh berjamaah di masjid, antara Kanada dan Indonesia tentu berbeda. Kalau di Kanada dengan cuaca minus 23 derajat, tentu butuh usaha yang lebih besar. Di situlah pahala menjadi lebih banyak,” jelas Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat itu.
Konsep masyaqqah dan rukhsah
Dalam kajian fiqih, masyaqqah berarti kesulitan yang melekat dalam setiap pembebanan hukum Islam. Ibadah seperti shalat, puasa, haji, dan zakat selalu mengandung unsur kesulitan.
Allah, kata Prof Haris, memberikan pahala berdasarkan kadar kesungguhan dan kepayahan tersebut.
Namun, apabila kesulitan telah melampaui batas kemampuan manusia, maka berlaku konsep rukhsah (dispensasi). Dalam fiqih dikenal istilah azimah sebagai hukum asal, dan rukhsah sebagai keringanan karena kondisi tertentu (fi halatin khashshah).
“Di Kanada, umat Islam bisa mendapatkan rukhsah karena adanya kesulitan tertentu dalam menjalankan ibadah,” ujar Direktur World Moslem Studies Center itu.
Ia mencontohkan, saat musim panas, waktu berbuka puasa bisa lebih awal meski waktu Maghrib masih lama. Dalam kondisi cuaca sangat dingin, seseorang dapat mengusap sepatu saat wudhu tanpa harus membukanya. Bahkan dalam kondisi tertentu, shalat yang tidak memungkinkan ditunaikan di tempat kerja dapat di-qadha di rumah tanpa berdosa.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikam Mangli, Kaliwates, Jember, itu menegaskan bahwa rukhsah adalah bentuk kemudahan yang diberikan syariat, bukan pelemahan ajaran.
Dakwah dan fiqih minoritas
Meski demikian, Prof Haris mengingatkan agar umat Islam tidak terus-menerus berada dalam kerangka fiqih minoritas.
“Ke depan, fiqih minoritas ini bisa jadi tidak relevan jika umat Islam menjadi mayoritas dan seluruh fasilitas ibadah telah tersedia seperti di Indonesia. Jika sudah mudah beribadah, tentu pendekatannya akan berbeda,” kata Wakil Ketua PP Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara tersebut.
Ia menilai dakwah menjadi kunci peningkatan kuantitas dan kualitas umat Islam di Toronto khususnya dan Kanada pada umumnya. Namun, dakwah harus disesuaikan dengan kearifan lokal setempat.
“Dakwah di sini harus disampaikan dengan bijaksana, bil hikmah wal mau‘izhah al-hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan,” tuturnya.
Apresiasi dari Konjen RI
Sementara itu, Konsul Jenderal RI di Toronto Vivie Damayanti menyampaikan apresiasi atas kehadiran Prof Haris dalam kegiatan tersebut.
“Kami sudah lama rindu tausiyah. Monggo, kami dinasihati agar menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Vivie sebelumnya pernah bertugas di Seoul, Korea Selatan, dan Den Haag, Belanda.
Pengajian dan buka puasa bersama tersebut dihadiri puluhan peserta yang terdiri atas pimpinan, home staff, dan local staff di lingkungan KJRI Toronto.
Hadir pula perwakilan masyarakat Muslim Toronto, antara lain Ustadz Subhan dari Masjid Istiqlal dan Ustadz Riza dari MIIT (Muslim Institute of Islamic Toronto) beserta rombongan masing-masing.