LD PCINU Mesir Perkuat Kapasitas Dai Muda Indonesia Berbasis Manhaj Al-Azhar
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:00 WIB
Pelatihan dan Sertifikasi Dai Internasional Berbasis Manhaj Al-Azhar di Qaah Imam Ahmed al-Thayyeb, Gedung Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, Kairo, September 2026 (PCINU Mesir)
Kairo, NU Online
Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (LD PCINU) Mesir bersama Forum Da’iyah Fatayat (Fordaf) Mesir membekali dai muda Indonesia dengan pemahaman manhaj Al-Azhar dan metodologi dakwah untuk menghadapi tantangan masyarakat kontemporer.
Pembekalan tersebut dilakukan melalui Program Pelatihan dan Sertifikasi Dai Internasional Berbasis Manhaj Al-Azhar yang berlangsung pada 27 September hingga 7 Oktober 2026 di Qa’ah Imam Ahmed al-Thayyeb, Gedung Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, Kairo, Mesir.
Materi pelatihan mencakup manhaj Al-Azhar, metodologi hukum Islam dan fatwa kontemporer, fikih realitas (fiqh al-wāqi‘), retorika dakwah, etika dialog, psikologi komunikasi, respons terhadap pemikiran kontemporer, serta pemanfaatan media digital.
Ketua Panitia Pelaksana, M Alaikas Salam, mengatakan program tersebut dirancang terutama bagi mahasiswa tingkat akhir Al-Azhar dan lulusan baru yang akan kembali ke Indonesia untuk mengabdikan diri melalui dakwah.
“Program ini kami rancang untuk mahasiswa tingkat akhir Al-Azhar atau mereka yang baru lulus (fresh graduate). Beberapa peserta juga sedang menempuh pendidikan magister. Nantinya, mereka diharapkan dapat kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri melalui dakwah,” ujarnya.
Menurut Alaikas, pembekalan dai tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan khazanah keilmuan Islam klasik atau turats. Dai juga perlu memiliki kemampuan memahami realitas sosial agar dapat menyampaikan pesan agama sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Perkembangan teknologi, perubahan pola komunikasi, dan beragam persoalan sosial menuntut pendakwah menguasai metode penyampaian pesan yang argumentatif, bijaksana, dan relevan dengan kondisi masyarakat.
Sementara itu, perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo, Hendra Satya Pramana, berharap pelatihan tersebut dapat melahirkan dai Indonesia yang memiliki kapasitas keilmuan kuat dan mampu menjawab tantangan dakwah pada masa mendatang.
Baca Juga
Lima Pendekatan Dakwah Wali Songo
“Kita berharap akan lahir dai-dai hebat dari Al-Azhar. Kalian yang mengikuti pelatihan ini sangat beruntung karena mendapatkan pembekalan langsung dari para pakar mengenai dakwah yang efektif, cara merespons isu, dan bagaimana menjawab tantangan zaman,” tuturnya.
Hendra juga mengingatkan bahwa kemampuan berdakwah harus disertai kesediaan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keteladanan menjadi salah satu unsur penting agar pesan dakwah dapat diterima masyarakat.
“Sebelum berdakwah kepada orang lain, terlebih dahulu kalian harus berdakwah kepada diri sendiri. Apakah dakwah yang kalian sampaikan benar-benar dapat menyentuh hati? Jika kalian meyakini dan mengamalkannya, kalian akan lebih mudah menyampaikannya kepada masyarakat. Dakwah yang paling efektif adalah dakwah melalui contoh dan keteladanan,” katanya.
Ia berharap pelatihan peningkatan kapasitas dai dapat terus diselenggarakan oleh PCINU Mesir maupun organisasi keislaman lainnya. Hendra menyatakan KBRI Kairo siap mendukung kegiatan serupa untuk memperkuat kapasitas dai Indonesia.