Penerima Beasiswa Inkubasi Santri PBNU Juara Musabaqah di Kerajaan Maroko
Ahad, 7 Juni 2026 | 15:00 WIB
PIC Beasiswa Maroko RMI PBNU Muhammad Iqbal di Pesantren Yayasan Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). (Foto: dokumentasi panitia)
Yogyakarta, NU Online
Sebanyak 108 mahasiswa NU alumni program Inkubasi Beasiswa Santri kini tersebar di tujuh perguruan tinggi di Maroko. Mereka telah menorehkan prestasi-prestasi membanggakan.
PIC Beasiswa Maroko RMI PBNU Muhammad Iqbal menyebutkan bahwa para mahasiswa penerima beasiswa di tujuh kota tersebar: Kenitra, Fes, Oujda, Marrakech, Casablanca, El Aioun, dan Taroudant. Mereka belajar pada lembaga Ta'lim 'Atieq yang berada di bawah naungan Wizaratul Awqof wa Asy-Syu'un Al-Islamiyyah Kerajaan Maroko.
Dari ratusan mahasiswa tersebut, sejumlah nama mencuat dengan prestasi luar biasa di berbagai musabaqah (kompetisi) tingkat nasional Maroko. Hal itu disampaikan saat penutupan program Inkubasi Beasiswa Santri ke Maroko 2026 di Pesantren Yayasan Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026).
Nizzar Muhammad Faaruq, misalnya. mahasiswa Ma'had Fatimah Al-Fihriyyah di Fes itu berhasil meraih Juara 2 Musabaqah Hifdzil Qur'an. Pencapaian ini menjadi bukti nyata keunggulan santri NU dalam bidang tahfiz yang selama ini menjadi salah satu keunggulan sistem pendidikan pesantren.
Prestasi tak kalah membanggakan ditorehkan oleh Farrihna Bihurin In, mahasiswi Ma'had Faqih Rohuny di Kenitra. Ia meraih Juara 1 Musabaqah Hifdzul Ahaditsil Muwatho'. Keberhasilan Farrihna dalam menghafal hadits-hadits kitab Al-Muwatho' karya Imam Malik ini menunjukkan kesungguhan dan kapasitas keilmuan santri putri NU di panggung internasional.
Dari kampus Ma'had Al-Qadi Al-Faqih Abdellah Bensaid Al-Oujdi di Oujda, dua santri NU sekaligus berhasil berjaya. Keduanya adalah Ahmad Zairofi Amin meraih Juara 1 Musabaqah Hifdzil Qur'an kategori 15 juz, sedangkan Muhammad Idris Abdurrahman meraih Juara 1 Musabaqah Hifdzil Qur'an kategori 5 juz. Dua gelar juara dari satu perguruan tinggi sekaligus ini menjadi penanda kuat bahwa santri NU mampu bersaing dan unggul dalam lingkungan akademik internasional.
Melihat prestasi itu, Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menyatakan bahwa capaian-capaian tersebut menjadi motivasi besar bagi program inkubasi yang terus dijalankan.
"Beasiswa ini merupakan ikhtiar untuk meningkatkan kapasitas personal dan khidmah kepada Jamaah dan Jam'iyah," ujar KH Hodri Ariev saat penutupan program inkubasi.
Sebagai informasi, program Inkubasi Beasiswa Santri ke Maroko merupakan upaya strategis dalam menyiapkan santri Nahdlatul Ulama yang memiliki kesiapan akademik, bahasa, dan keilmuan Islam untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
RMI PBNU berkomitmen untuk terus mengoptimalkan program inkubasi sebagai jembatan bagi santri NU yang ingin melanjutkan studi ke Maroko.
Dengan bimbingan alumni dan simulasi muqobalah yang intensif, diharapkan angkatan-angkatan berikutnya dapat mengikuti jejak para pendahulunya berprestasi di negeri orang tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai ke-NU-an yang telah ditanamkan di pesantren.
Untuk diketahui, dalam dua tahun terakhir program beasiswa ini mendapat dukungan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, dengan pengelolaan kegiatan berkoordinasi dengan NUS, NU Scholarship. Dukungan ini memperkuat keberlanjutan program dan memungkinkan lebih banyak santri NU untuk mendapatkan akses beasiswa.