Sempat Diizinkan Lakukan Pemulihan Fisik, Timnas Iran Langsung Diusir AS ke Meksiko Usai Jalani Pertandingan
Selasa, 16 Juni 2026 | 14:00 WIB
Skuad Timnas Iran di Piala Dunia 2026 menjelang lawan New Zealand pada Selasa (16/6/2026) WIB. (Foto: instagram @iran_football_federation)
Los Angeles, NU Online
Sikap pemerintah Amerika Serikat terhadap delegasi Tim Nasional Iran dalam gelaran Piala Dunia 2026 menuai sorotan. Di satu sisi, Washington memberikan izin masuk bagi para pemain Iran untuk bertanding. Namun di sisi lain, belasan ofisial dan staf pendukung tim dilaporkan tidak memperoleh visa untuk memasuki negara tersebut.
Menurut laporan Reuters, sejumlah 15 anggota Federasi Sepak Bola Iran dan staf pendukung tim gagal mendapatkan visa Amerika Serikat menjelang pertandingan perdana Iran di Piala Dunia 2026. Kondisi ini memicu kritik dari Federasi Sepak Bola Iran yang menilai FIFA tidak mampu memastikan seluruh delegasi peserta memperoleh perlakuan yang sama.
Supervisor Timnas Iran, Mehdi Mohammad Nabi, menyebut FIFA gagal melakukan koordinasi yang memadai dengan pemerintah Amerika Serikat terkait akses masuk bagi delegasi Iran. Ia menilai persoalan visa tersebut telah mengganggu persiapan tim menjelang turnamen.
Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat tetap mengizinkan para pemain Timnas Iran memasuki wilayahnya untuk menjalani pertandingan fase grup. Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menyatakan skuad Iran dapat masuk ke Amerika Serikat sehari sebelum pertandingan dan kembali ke Meksiko setelah laga usai.
Akibat berbagai kendala tersebut, Iran memindahkan pusat latihan mereka dari Arizona ke Kota Tijuana, Meksiko. Langkah ini diambil untuk memudahkan mobilitas tim sekaligus meminimalkan hambatan administratif yang dihadapi selama turnamen berlangsung.
Ketegangan tidak berhenti pada persoalan visa. Setelah bermain imbang 2-2 melawan New Zealand pada laga perdana Grup G di Los Angeles, Timnas Iran juga diperintahkan kembali ke Tijuana pada malam yang sama. Pelatih Iran Amir Ghalenoei mengaku terkejut karena tim sebelumnya berencana menginap di California untuk menjalani pemulihan fisik sebelum kembali ke markas latihan.
Situasi tersebut terjadi di tengah hubungan yang masih sensitif antara Iran dan Amerika Serikat. Reuters melaporkan bahwa pemerintah AS menerapkan pemeriksaan ketat terhadap sejumlah individu yang memiliki keterkaitan dengan institusi tertentu di Iran, termasuk mereka yang diduga berhubungan dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Presiden FIFA Gianni Infantino membela organisasinya dari berbagai kritik terkait persoalan visa. Menurutnya, FIFA tidak memiliki kewenangan untuk mengabaikan aturan imigrasi suatu negara karena keputusan pemberian visa sepenuhnya berada di tangan pemerintah negara tuan rumah.
Kasus yang menimpa delegasi Iran menjadi salah satu kontroversi terbesar pada awal penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Pengacara olahraga internasional Khayran Noor menilai penyelenggaraan Piala Dunia 2026 memperlihatkan kontradiksi antara semangat inklusivitas olahraga dan realitas geopolitik.
"Jika partisipasi dapat dibentuk oleh realitas geopolitik di luar permainan itu sendiri, apakah hal itu pada akhirnya akan merusak cita-cita inklusif yang diklaim oleh turnamen-turnamen ini?" ujar Khayran dikutip dari Al Jazeera.
“Sepak bola bersifat global, tetapi mobilitas global tidak; Piala Dunia berada tepat di persimpangan kontradiksi tersebut,” katanya.