Madinah, NU Online
Jumat (12/06/2026) pukul sembilan pagi, lantai dasar Masjid Nabawi mulai dipenuhi jamaah dari berbagai pintu. Padahal, salat Jumat baru akan dimulai tiga setengah jam lagi. Namun, saf-saf sudah mulai rapat. Hanya ada beberapa celah tersisa, yang dalam hitungan menit segera terisi.
Jamaah haji dari berbagai penjuru dunia dengan segala ragam gaya, warna, dan ukuran pakaian—mulai dari yang bergamis anggun hingga berkaus oblong santai—telah mengambil tempat sejak entah kapan. Mungkin sejak pukul delapan. Mungkin pukul tujuh. Atau bahkan sejak subuh, ketika langit Madinah belum sepenuhnya terang.
Mereka datang lebih awal karena meyakini sebuah prinsip sederhana: tempat yang baik harus dijemput, bukan ditunggu. Pilihan menjemput saf ini bukan sekadar dorongan spiritual, melainkan juga tuntutan realitas di lapangan yang harus dihadapi oleh para jamaah.
Ustadz Efriza Bukhori Firouk, Pembimbing Ibadah (Bimbad) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja Madinah Sektor 4, mengatakan bahwa jamaah haji Indonesia yang ingin mendapat tempat di dalam Masjid Nabawi harus tiba sebelum pukul 10.30. Itu batas paling lambat tanpa ampun. Lewat dari jam itu, akses ke bagian dalam masjid sudah ditutup total.
"Otomatis mereka harus salat di lantai dua atau di halaman. Konsekuensinya, di halaman itu panas. Payung-payung hidrolik memang membantu berteduh, tetapi hawanya tetap menyengat. Dan hampir semua jamaah sudah tahu risiko itu," kata lulusan Universitas Islam Madinah Jurusan Ushuluddin ini saat ditemui di Hotel Rua Al-Dhiyafa, Sabtu malam (13/06/2026).
Maka tak heran jika jamaah mengalir sedari pagi. Mereka enggan terusir ke pelataran luar dan harus berhadapan dengan semprotan angin gurun yang panas.
Ikatan Iman yang Melampaui Batas Negara
Jamaah yang mengisi masjid itu sebagaimana mulanya yaitu beragam yang kemudian disatukan Nabi Muhammad jadi satu barisan: suku Aus dan Khazraj, kaum Ansor dan Muhajirin, budak elian hamba sahaya dengan bekas tuannya, pedagang dan ahlussunah shuffah penghuni selasar masjid.
Masjid ini memang dibangun atas dasar persaudaraan, bukan untuk membeda-bedakan. Sejak hari pertama berdiri, kaum Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan di bawah atapnya, dalam satu ikatan iman yang melampaui sekat suku dan asal-usul.
Berabad-abad kemudian, yang berubah hanya nama, orang-orangnya, dan asal-usulnya. Variasi itu justru kian meluas: warga Ankara berdampingan dengan orang Samarinda; orang Lahore bersebelahan dengan orang Tidore. Orang Garut di samping Bairut. Orang Sukabumi bersebelah dengan Karachi.
Mungkin tak ada perkenalan, bahkan tidak ada sapa sama sekali. Namun, mereka cukup tahu bahwa orang di sebelahnya datang untuk tujuan yang sama.
Ketika batuk terdengar dari satu sudut dan dijawab bersin dari sudut lain, rasanya mustahil mengenali dari negara mana asal batuk dan bersin tersebut. Di sini, semua sama.
Shalat Jumat masih jauh. Masing-masing membawa cara menunggunya sendiri. Ada yang mengambil mushaf dari pilar masjid, membukanya, lalu membaca lembar demi lembar dengan bibir bergerak pelan. Ada yang berdzikir sambil meraba biji tasbih satu per satu. Ada pula yang melantunkan doa-doa panjang tanpa henti dengan mata terpejam. Sementara mereka yang betisnya mulai pegal memilih bersandar ke tiang, selonjoran, lalu memijat kakinya perlahan.
Dari Batang Kurma ke Marmer
Tiang-tiang masjid tempat jamaah bersandar kini berdiri kokoh dari marmer, menjulang tinggi menopang atap yang menaungi lebih dari satu juta jamaah sekaligus. Karpet tebal terhampar tanpa debu. Udara sejuk mengalir konstan dari sistem pendingin entah dengan teknologi apa. Semua kenyamanan ini terasa seperti sebuah kemewahan yang kontras seperti beda satu musim di luar sana.
Padahal pada mulanya, tiang-tiang itu hanyalah batang pohon kurma. Atapnya pun dari daun kurma yang tidak sepenuhnya rapat menutup langit. Di masa lalu, Nabi Muhammad saw berkhutbah dengan bersandar pada salah satu batang pohon tersebut, sebelum akhirnya dibuatkan mimbar kayu dengan tiga anak tangga (Muhammad Hesein Haekal: Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW, hlmn194).
Masjid ini tumbuh dari abad ke abad, bermutasi dari ruang terbuka berlantai tanah menjadi bangunan megah yang terus diperluas dari generasi ke generasi. Mulai era kekhalifahan hingga dinasti, kesultanan, dan kini kerajaan.
Di era modern, proyek raksasa terus berlanjut. Raja Abdul Aziz Al-Saud memerintahkan perluasan pada 1951 (Oase.id). Raja Fahd kembali memperluasnya pada 1985 hingga kapasitasnya melonjak menjadi 700.000 jamaah (Islamiclandmarks.cm). Proyek ini diteruskan oleh Raja Abdullah pada 2012 dengan area tambahan seluas 400.000 meter persegi, mendongkrak kapasitas total masjid hingga menampung sekitar 1,8 juta jamaah (Saudipedia.com).
Di dalam kemegahan arsitektur modern yang melintasi berbagai zaman ini, teknologi hari ini turut berkelindan dengan ibadah. Kini, di dalam masjid yang sama, beberapa jamaah menunggu salat Jumat sambil membuka Instagram dan Facebook atau mendengarkan ayat suci mengalun dari layar ponsel. Ada yang menyempatkan diri mengirim pesan ke grup keluarga, membagikan foto selfie, bahkan melakukan panggilan video demi memenuhi permintaan doa dari istri, anak, atau sahabat di tanah air.
Keheningan Tanpa Kotak Amal
Pemandangan di dalam masjid adalah karnaval budaya. Ada peci hitam, putih, cokelat, hingga merah. Serban melilit kepala dengan cara yang berbeda-beda hingga imamah putih panjang yang diurai di bahu. Dan penutup-penutup kepala yang entah apa namanya. Tak sedikit pula kepala dibiarkan terbuka tanpa penutup.
Busana mereka pun beragam. Gamis putih, abu-abu, cokelat tua, hingga hitam. Sarung bermotif kotak Bugis kontras dengan sarung tenun Jawa dan sarung polos dari belahan bumi lain. Ada jamaah yang bertubuh jangkung hingga kepalanya menyembul di antara saf, ada pula yang pendek hingga hampir tersembunyi di antara bahu-bahu tetangganya. Tua dan muda, kurus dan tambun, berbaur dalam spektrum warna kulit hitam, cokelat, kuning langsat, hingga putih pucat.
Di luar sana, mereka mungkin dipisahkan oleh jabatan, saldo rekening bank, atau warna paspor yang menentukan derajat visa mereka. Namun di sini, mereka duduk di lantai yang sama, di atas karpet yang sama, menghadap ke arah yang sama.
Sesekali seseorang berdiri, menyedekapkan tangan di dada seolah-olah sedang salat. Padahal, mungkin ia hanya sedang mengusir kantuk atau meluruskan badan yang kaku. Di sudut lain, ada yang menggeliat, lalu duduk kembali. Ada pula yang berdiri kemudian menendang-nendangkan kakinya ke ruang kosong dengan hati-hati, menjaga agar tidak mengenai jamaah yang duduk di depannya.
Di sebuah barisan, dua jamaah haji Indonesia berusia di atas 60 tahun duduk mengenakan seragam batik resmi. Salah satunya mengeluarkan botol minyak kayu putih Cap Lang dari saku. Begitu dioleskan di dahi, sekitar mata, dan di bawah hidung, aroma khasnya langsung menyebar tipis, membelah udara dingin pendingin ruangan. Sebuah ikhtiar sederhana untuk mengusir kantuk setelah berjam-jam duduk diam.
Rasa kantuk itu wajar datang. Di masjid ini, prosesi menunggu shalat Jumat berlangsung dalam senyap dan lam. Tidak ada suara puoujian atau selawatan seperti di masjid-masjid kampung di Indonesia. Tidak ada pula pengumuman dari pengeras suara tentang kematian si Fulan atau Fulanah. Yang ada hanyalah desir pendingin udara, lembaran mushaf yang dibalik pelan, dan sesekali batuk yang tak jelas dari mana asalnya.
Selain itu, tidak ada pengumuman dari pengurus masjid yang melaporkan rincian pemasukan dan pengeluaran minggu ini. Tidak ada kabar perbaikan toilet atau renovasi menara, pun tidak ada pembacaan saldo kas hingga Jumat lalu. Tidak ada pula kotak amal kayu—atau kendaraan kecil berlubang di punggungnya—yang merayap membelah saf, berharap diselipkan uang receh.
Tiang Masjid
Masjid Nabawi merupakan salah satu masjid dengan banyak tiang. Selain menyangga lantai dua, kadang tiang itu digunakan sandaran jamaah untuk mengusir penat yang kian berat, sebagian jamaah memilih bersandar di dekat tiang masjid, menatap langit-langit, bahkan mungkin ada yang tak sengaja sampai tertidur.
Bimbad Madinah, Ustadz Efriza, menjelaskan bahwa jamaah yang sudah berada di dalam masjid dan batal bisa mengambil air wudlu. akan diberi karcis khusus oleh petugas agar bisa masuk lagi.
"Sepertinya tahun kemarin tidak ada aturan seperti itu. Namun, tahun sekarang mulai diberlakukan. Nah, jamaah yang di dekat tiang biasanya yang kembali dari mengambil wudlu karena tempat sebelumnya diisi jamaah lain" tambah Efriza.
Waktu terus berjalan dan saf kian merapat. Jamaah yang baru datang harus jeli mencari celah-celah sempit yang tersisa, menyisipkan badan di sudut yang masih longgar.
Pukul 11.52, setelah lebih dari dua jam keheningan yang khusyuk, adzan berkumandang. Lafalnya sama persis dengan adzan di Iskandaria atau Surabaya. Hanya nadanya yang sedikit berbeda.
Namun, siapa pun yang pernah mendengarnya akan langsung mengenali panggilan itu. Kepala tidak perlu berpikir; tubuh sudah tahu harus melakukan apa. Sebagian jamaah mendirikan shalat sunat. Adzan itu hanyalah adzan awal menjelang shalat Jumat.
Menembus Lorong Waktu
Keheningan kembali merayap pelan. Di sebagian jamaah yang tengah ribuan jamaah yang kembali duduk, pikiran seolah melayang, menembus megahnya lantai marmer menuju lorong masa lalu.
Nalar kita seakan dibawa kembali ke masa mimbar kayu tiga anak tangga itu; ke masa ketika batang pohon kurma masih berdiri di tempat tiang marmer ini berada; ke masa ketika tanah ini pertama kali dibeli oleh Nabi dari dua anak yatim bernama Sahl dan Suhail bin 'Amr.
Di lantai yang kita duduki ini, dahulu pernah berpijak telapak kaki Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, hingga Ali bin Abi Thalib.
Ketika Nabi Muhammad saw tiba di Yathrib—yang kemudian bersalin nama menjadi Madinah—dalam peristiwa hijrah, untanya yang bernama al-Qashwa berhenti dan berlutut di tempat penjemuran kurma milik Sahal dan Suhail. Nabi kemudian membeli tanah tersebut untuk membangun masjid sekaligus tempat tinggalnya (Haekal: 184).
Beliau tidak hanya memerintah, tetapi turut bekerja dengan tangannya sendiri, mengangkat tanah bersama kaum Muhajirin dan Anshar. Bagian masjid yang beratap—selasar yang kemudian dikenal sebagai Ahlush Shuffah—menjadi tempat tinggal bagi Muslim miskin yang tidak memiliki rumah (Haekal: 189).
Pada mulanya, kiblat shalat di masjid ini menghadap ke Baitul Maqdis di Yerusalem. Menjelang tujuh belas bulan Nabi menetap di Madinah, turunlah wahyu untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram di Makkah. Arah itulah yang kini dihadapi oleh seluruh jamaah yang memenuhi masjid ini (Haekal: 200-201).
Berabad-abad kemudian, ulama-ulama besar Nusantara juga menginjakkan kaki di lantai yang sama. Mulai dari Syekh Abdurrauf Singkili, Syekh Burhanuddin Ulakan, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Syekh Yusuf Makassar, hingga Syekh Arsyad Al-Banjari. Jejak itu diteruskan oleh Syekh Abdul Ghani Bima, Tuan Guru Saleh Hambali Bengkel, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Nawawi Banten, hingga sang pendiri organisasi besar kita: Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan.
Mereka datang dari tanah yang amat jauh, di zaman ketika perjalanan ke Madinah harus bertaruh nyawa dan memakan waktu berbulan-bulan di atas kapal laut. Mereka duduk, menunggu, dan berzikir di bawah atap masjid yang sama ini.
Kini, orang Kairo, Islamabad, Kano, Damaskus, Ankara, Lahore, Sukabumi, Makassar, Samarinda, hingga Tidore, semuanya berdiri di atas lantai yang sama. Menghadap arah yang sama. Menunggu suara yang sama.
Pukul 12.21, suara "Assalamualaikum"—salam pembuka dari khatib—terdengar melalui pengeras suara yang sangat jelas dan volume yang pas, kemudian adzan kembali’ berkumandang, disusul dengan khotbah.
Pukul 12.40, iqamah dilantunkan. Shalat dua rakaat dengan surat-surat singkat, al-Ashr dan Al-Ikhlas. Pukul 12.47, imam mengucap salam ke kanan dan ke kiri. Salat Jumat telah usai.
Perlahan-lahan jamaah bergerak. Sebagian langsung keluar masjid, sebagian masih duduk melanjutkan dzikir dan wirid, atau sekadar berdiam diri. Beberapa jamaah mendirikan shalat sunah ba'diyah.
Namun, sebagian lagi,vbergegas menuju toilet di luar masjid, membentuk antrean yang mengular panjang di muka pintu. Orang Islamabad di belakang orang Baghdad, jamaah Kairo di depan jamaah Bojonegoro.
Mungkin beberapa di antara mereka sudah menahan hajat sejak satu atau dua jam lalu. Mereka memilih bertahan menahan diri daripada harus kehilangan saf yang sudah susah payah dijaga sejak pagi hari. Saat keluar dari toilet, wajah-wajah itu tampak begitu lega. (MCH2026/Abdullah Alawi)