WHO: Lebih dari 1.300 Orang Meninggal Akibat Gelombang Panas Ekstrem di Eropa
Selasa, 30 Juni 2026 | 19:00 WIB
Peta visual cuaca menggunakan warna (dari kuning ke merah tua) untuk menunjukkan bahwa wilayah Eropa sedang dilanda suhu ekstrem atau gelombang panas yang sangat menyengat. (Foto: tangkapan layar)
Jakarta, NU Online
Gelombang panas ekstrem melanda sejumlah wilayah di Eropa sejak pertengahan Juni 2026. Lonjakan suhu udara yang tidak biasa itu memicu kematian berlebih (excess deaths) di berbagai negara dalam waktu singkat.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, melaporkan bahwa lebih dari 1.300 orang meninggal dunia akibat cuaca ekstrem tersebut.
"Lebih dari 1.300 kematian berlebih telah tercatat sejak 21 Juni yang terkait dengan suhu tinggi di Eropa," tulis Tedros melalui akun X miliknya, dikutip NU Online, Selasa (30/6/2026).
Tedros menyebut perubahan iklim dan pemanasan global sebagai penyebab utama meningkatnya frekuensi gelombang panas. Menurutnya, fenomena yang dahulu diperkirakan hanya terjadi "sekali seumur hidup" kini hampir terjadi setiap tahun.
"Fenomena gelombang panas 'sekali seumur hidup' kini terjadi hampir setiap tahun. Kita telah diperingatkan," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 150 juta orang terdampak cuaca ekstrem tersebut. Menurut Tedros, Eropa kini menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Ia bahkan menyebut stres akibat panas sebagai silent killer atau "pembunuh diam-diam".
"Eropa adalah benua yang memanas paling cepat di Bumi, dengan laju pemanasan dua kali lipat dari rata-rata global. Stres panas sering disebut sebagai 'pembunuh diam-diam'. Selain itu, rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk menghadapi suhu setinggi ini," lanjutnya.
Senada dengan Tedros, Kepala Informasi Iklim Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), John Kennedy, mengatakan bahwa gelombang panas ekstrem diperkirakan akan semakin sering terjadi dengan intensitas dan durasi yang terus meningkat. Menurutnya, Eropa merupakan kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia.
"Gelombang panas seperti ini merupakan fenomena yang telah lama diprediksi sebagai dampak perubahan iklim. Dalam 50 tahun sejak gelombang panas bersejarah pada 1976, Eropa secara keseluruhan telah menghangat sekitar dua derajat Celsius. Ini adalah benua yang mengalami pemanasan tercepat, dan suhu ekstrem juga terus meningkat," ujarnya, dikutip NU Online dari laman resmi WMO, Selasa (30/6/2026).
Rekor Suhu di Sejumlah Negara Eropa
Berdasarkan laporan Sekretariat WMO, berikut sejumlah rekor suhu yang tercatat di berbagai negara Eropa.
- Jerman (27-28 Juni): Mengalami gelombang panas bersejarah dengan rekor baru selama tiga hari berturut-turut. Suhu tertinggi mencapai 41,7 derajat Celsius di Coschen. Sebanyak 252 stasiun cuaca mencatat rekor baru, sementara suhu malam hari mencapai 29,4 derajat Celsius di Saxony Timur.
- Hungaria (28 Juni): Mencatat rekor suhu Juni sebesar 40,7 derajat Celsius di dekat Budapest dan diperkirakan masih akan meningkat.
- Polandia dan Republik Ceko: Sama-sama mencatat rekor suhu tertinggi baru. Polandia mencatat suhu sementara mencapai 40,5 derajat Celsius.
- Austria (29 Juni): Wina mencetak rekor suhu Juni sebesar 40 derajat Celsius dan berada dalam status Peringatan Merah.
- Inggris (25-26 Juni): Memecahkan rekor suhu Juni selama tiga hari berturut-turut dengan suhu tertinggi 37,3 derajat Celsius di wilayah selatan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Peringatan Merah diberlakukan selama tiga hari berturut-turut.
- Belanda (26 Juni): Mengeluarkan Peringatan Merah pertama untuk delapan provinsi dan mencatat rekor suhu Juni nasional sebesar 39,4 derajat Celsius.
- Denmark: Memecahkan rekor nasional yang bertahan sejak 1975 dengan suhu 37 derajat Celsius di dua lokasi.
- Swiss: Basel bagian utara mencatat rekor suhu Juni sebesar 39 derajat Celsius.
- Prancis (24 Juni): Mengalami hari terpanas dalam sejarah dengan rata-rata suhu nasional mencapai 30 derajat Celsius. Suhu lokal bahkan menyentuh 43,8 derajat Celsius di Pulluau. Sebanyak 58 departemen berstatus Peringatan Merah, memicu risiko kebakaran hutan dan menyebabkan 40 orang meninggal akibat insiden tenggelam saat berupaya mendinginkan diri.
- Spanyol (23-24 Juni): Mencatat hari-hari terpanas pada bulan Juni sepanjang sejarah. Suhu di sejumlah wilayah melampaui 40 derajat Celsius, sementara Kota Bilbao mencatat rekor suhu Juni sebesar 42,7 derajat Celsius.
Melalui inisiatif Early Warnings for All, WMO memastikan masyarakat yang rentan memperoleh peringatan dini dan panduan keselamatan sebelum gelombang panas ekstrem terjadi. Program tersebut diperkuat melalui kerja sama WMO dan WHO dalam membangun sistem peringatan dini kesehatan terhadap panas guna mendukung pelaksanaan Rencana Aksi Panas serta menyediakan data iklim yang dapat dimanfaatkan oleh otoritas kesehatan.
Selain itu, melalui Global Heat Health Information Network (GHHIN), WMO bersama sejumlah mitra Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkuat tata kelola penanganan krisis dengan menyediakan panduan teknis dan berbagai perangkat bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk mengantisipasi risiko gelombang panas yang terus meningkat.