Cegah Kulit Kering saat Puasa, Gunakan Pola Minum Air Putih 2-4-2
Senin, 2 Maret 2026 | 08:00 WIB
Jakarta, NU Online
Puasa selama kurang lebih 12 jam setiap hari tidak hanya berdampak pada pengendalian emosi dan kesehatan mental, tetapi juga memengaruhi kelembapan serta elastisitas kulit. Hal ini disampaikan Ketua Bidang Kesehatan (Bidkes) Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Lasem, Aileen Fuzti Nadia.
Nadia menjelaskan, secara anatomi fisiologi kulit terdiri atas tiga lapisan, yakni epidermis, dermis, dan hipodermis. Pada lapisan epidermis terdapat stratum korneum yang berfungsi menyimpan kadar air. Di bawahnya terdapat sebum atau minyak alami kulit yang membantu mempertahankan kelembapan.
“Ketika berpuasa sekitar 12 jam, tubuh berpotensi mengalami dehidrasi ringan. Cairan dalam tubuh akan diprioritaskan untuk organ vital seperti jantung, otak, dan ginjal. Dampaknya, kulit bisa menjadi lebih kering atau justru tampak lebih berminyak,” ujar Nadia kepada NU Online, Senin (2/3/2026).
Ia menegaskan, kondisi tersebut bersifat sementara dan akan membaik setelah asupan cairan terpenuhi saat berbuka dan sahur. Namun, pola makan juga sangat memengaruhi kondisi kulit.
Menurutnya, konsumsi berlebihan karbohidrat sederhana, gorengan, serta minuman berkafein seperti teh dan kopi yang bersifat diuretik dapat memperburuk kondisi dehidrasi. Sebaliknya, asupan vitamin dan mineral dari buah serta sayur berkuah sangat membantu menjaga kelembapan kulit.
“Secara umum kebutuhan cairan orang dewasa sekitar 30-35 mililiter per kilogram berat badan per hari. Dalam cuaca panas bisa meningkat menjadi 35-40 mililiter per kilogram berat badan,” jelasnya.
Untuk menjaga kecukupan cairan, Nadia merekomendasikan pola minum air putih 2-4-2 selama puasa. Dua gelas saat berbuka (sebelum dan sesudah makan), empat gelas di malam hari secara bertahap, dan dua gelas saat sahur. Pola ini dinilai lebih efektif dibandingkan minum dalam jumlah besar sekaligus.
Ia juga menekankan pentingnya gizi seimbang sesuai panduan “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan, dengan komposisi karbohidrat, protein, sayur, dan buah yang cukup. Sayur berkuah seperti bayam atau sayur asem, serta sumber protein hewani dan nabati, dapat membantu menjaga elastisitas kulit.
Selain asupan dari dalam, perawatan luar juga diperlukan. Nadia menyarankan penggunaan pelembap secara rutin setelah mandi serta tabir surya minimal SPF 30-35 PA++ saat beraktivitas di luar ruangan. Sunscreen perlu diulang setiap 3-5 jam, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia.
“Penurunan elastisitas kulit saat puasa bersifat sementara dan dapat kembali normal jika asupan cairan dan nutrisi diperbaiki,” pungkasnya.