Kesehatan

Cuaca Tak Menentu, Waspadai Rhinitis Alergi Berkepanjangan dan Cara Penanganannya

Rabu, 22 April 2026 | 20:00 WIB

Cuaca Tak Menentu, Waspadai Rhinitis Alergi Berkepanjangan dan Cara Penanganannya

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini, penyakit mudah menyerang tubuh apabila tidak didukung metabolisme yang baik.


Dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT), I Gede Wahyu Adi Raditya, menyampaikan bahwa rhinitis alergi atau yang kerap dikenal sebagai pilek berkepanjangan disebabkan oleh peradangan pada hidung akibat gangguan pada saluran THT.


Ia menjelaskan, kondisi rhinitis alergi sering kali disertai gejala lain, seperti munculnya benjolan kecil di belakang telinga. Hal tersebut merupakan pembesaran kelenjar getah bening yang terjadi akibat infeksi pada area hidung, tenggorokan, atau telinga. Pembengkakan ini umumnya akan membaik seiring dengan teratasinya infeksi.


Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang membuat rhinitis alergi sulit dikontrol. Di antaranya adalah adanya penyakit lain yang tidak hanya terbatas pada hidung, tetapi juga dapat melibatkan seluruh saluran pernapasan hingga kondisi sistemik tubuh. Selain itu, diagnosis yang kurang tepat serta adanya penyakit penyerta turut memperparah kondisi.


“Faktor lain juga berasal dari pasien, seperti kurangnya kepatuhan dalam penggunaan obat, serta adanya faktor pemicu seperti debu, serbuk bunga, dan bulu kucing,” ujar I Gede Wahyu kepada NU Online, Rabu (22/4/2026).


Ia menambahkan, rhinitis yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi, seperti rinosinusitis dan asma. Hal ini dipicu oleh kebiasaan penderita yang bernapas melalui mulut akibat sumbatan hidung kronis.


Untuk mencegah rhinitis berkepanjangan, penderita perlu menghindari berbagai faktor pemicu.


“Hindari konsumsi makanan berminyak, minuman dingin dan tinggi gula, paparan asap rokok, serta alkohol. Selain itu, penggunaan kipas angin atau pendingin ruangan (AC) perlu dibatasi, serta menggunakan masker untuk mencegah paparan alergen,” jelasnya.


Dalam hal pengobatan, ia menekankan bahwa terapi rhinitis alergi tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Pengobatan bisa berlangsung minimal tiga tahun, sehingga diperlukan komitmen dan kepatuhan pasien serta dukungan keluarga.


Selain terapi obat, tindakan medis juga dapat dilakukan pada kondisi tertentu, terutama pada pasien dewasa. Tindakan tersebut meliputi prosedur untuk mengecilkan bagian rongga hidung yang membesar.


Metode penanganan lain yang dapat dilakukan antara lain irigasi hidung menggunakan larutan saline untuk membersihkan lendir dan alergen, serta imunoterapi atau suntik alergi guna membangun kekebalan tubuh dalam jangka panjang.


Untuk pengobatan mandiri, beberapa obat antihistamin dapat digunakan tanpa resep dokter, seperti cetirizine, loratadine, fexofenadine, dan chlorpheniramine (CTM), serta dekongestan untuk meredakan hidung tersumbat.


Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan obat-obatan tertentu harus berdasarkan resep dokter, seperti cefixime, methylprednisolone, dan Rhinos SR. “Obat-obatan tersebut tidak dianjurkan untuk dikonsumsi sembarangan dan harus sesuai dengan anjuran dokter,” pungkasnya.