Ahmad Tohari: Korupsi Berakar dari Mentalitas Mendewakan Harta dan Mengejar Kekayaan
Selasa, 9 Juni 2026 | 22:00 WIB
Sastrawan budayawan Ahmad Tohari saat perbincangan dengan NU Online di kediamannya Desa Tinggarjaya, Jatilawang Banyumas Jawa Tengah, Jumat (5/6/2026). (Foto: NU Online/Kendi Setiwan)
Banyumas, NU Online
Kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik terus bermunculan di Indonesia dari waktu ke waktu. Maraknya praktik korupsi menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar pelanggaran hukum. Menurut sastrawan dan budayawan Ahmad Tohari, korupsi berakar dari cara pandang sebagian masyarakat yang menjadikan kekayaan sebagai ukuran utama keberhasilan hidup, bahkan mendewakan harta benda.
Menurut penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu, banyak orang merasa lebih dihargai dan lebih eksis ketika memiliki harta, kendaraan mewah, atau aset yang dapat dipamerkan kepada publik.
“Orang merasa lebih eksis dengan kepemilikan benda, uang, atau mobil. Padahal sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa secara mutlak,” ujarnya dalam perbincangan dengan NU Online di kediamannya di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (5/6/2026).
Ahmad Tohari menilai pandangan tersebut menjadi salah satu akar munculnya perilaku koruptif. Ketika kekayaan dijadikan tujuan utama hidup, jabatan dan kekuasaan kerap dipandang sebagai jalan tercepat untuk mengumpulkan harta.
Ia mengingatkan bahwa seluruh kepemilikan manusia bersifat sementara. Bahkan manusia, katanya, tidak memiliki kuasa penuh atas dirinya sendiri, apalagi terhadap harta benda yang suatu saat akan ditinggalkan.
“Untuk apa bersikukuh dengan aset yang kita miliki? Kepemilikan itu tidak langgeng,” katanya.
Kesederhanaan sebagai Jalan Kebahagiaan
Ahmad Tohari mengatakan bahwa kebahagiaan justru lebih mudah ditemukan oleh mereka yang tidak menggantungkan hidup pada harta benda. Ia mencontohkan tokoh-tokoh yang memilih hidup sederhana dan tidak menjadikan kekayaan sebagai pusat kehidupan.
Menurutnya, semakin banyak harta yang dimiliki seseorang, semakin besar pula beban pikiran yang sering menyertainya. Kekhawatiran tentang cara menjaga, mengembangkan, atau mempertahankan kekayaan dapat mengurangi ketenangan hidup.
Karena itu, kesederhanaan menjadi prinsip yang terus dipegangnya hingga kini.
“Saya mengikuti kehidupan sederhana. Tema besar kehidupan saya adalah kesederhanaan. Semuanya saya sederhanakan, pakaian, makanan, rumah, bahkan angan-angan,” tuturnya.
Namun, kesederhanaan yang dimaksud bukan berarti hidup dalam kekurangan atau mengabaikan kebutuhan keluarga. Ia menegaskan bahwa setiap orang tetap harus bekerja dan memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
“Jangan sampai kelaparan. Jangan sampai tidak punya uang untuk berobat ketika keluarga sakit,” katanya.
Dalam pandangannya, ukuran hidup sederhana adalah terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan secara layak tanpa berlebihan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, konsep tersebut dikenal sebagai hidup secukupnya.
“Bukan menjadi orang kere. Berkecukupan, tetapi tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup,” ujarnya.
Tetap Berkontribusi untuk Negara
Di tengah kritik terhadap praktik korupsi, Ahmad Tohari juga menekankan pentingnya kontribusi warga negara melalui pembayaran pajak.
Ia mengaku tetap membayar pajak dari royalti karya-karyanya maupun dari investasi yang dimiliki. Menurut perhitungannya, kontribusi pajak yang dibayarkannya mencapai sekitar Rp20 juta per tahun. Bagi seseorang yang hidup di desa dan bukan pengusaha besar, angka tersebut tergolong cukup besar.
“Negara ini memang membutuhkan biaya. Saya membayar pajak dan saya ikhlas,” katanya.
Baginya, tanggung jawab warga negara tidak boleh berhenti hanya karena adanya kasus korupsi. Yang perlu diperkuat adalah kesadaran moral bahwa harta hanyalah sarana, bukan tujuan hidup.
“Kalau hidup secukupnya dan tidak diperbudak harta, orang akan lebih mudah merasa tenang dan berbahagia,” tegasnya.