Akar Maksiat Merasa Puas pada Diri Sendiri, Gus Mus: Orang Alim Harus Terus Belajar
Selasa, 3 Maret 2026 | 19:00 WIB
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube NU Online)
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menguraikan bahwa akar dari berbagai bentuk kemaksiatan dan kelalaian manusia adalah sikap merasa puas terhadap diri sendiri.
Menurutnya, rasa puas diri menjadi pangkal munculnya maksiat, kelalaian, dan dorongan hawa nafsu. Sebaliknya, sumber dari ketaatan, kesadaran, dan penjagaan diri (iffah) justru lahir dari sikap tidak pernah merasa cukup atas diri sendiri.
“Pokok dari setiap kemaksiatan, kelalaian, dan syahwat adalah rasa puas terhadap diri sendiri. Sebaliknya, pokok dari setiap ketaatan, kesadaran, dan penjagaan diri adalah tidak adanya rasa puas terhadap diri sendiri,” ujar Gus Mus, sapaan akrabnya, pada Pengajian Ramadhan ditayangkan di akun YouTube NU Online diakses Senin (2/3/2026).
Gus Mus menjelaskan, seseorang yang merasa dirinya sudah baik, sudah benar, dan sudah sempurna, cenderung terjebak dalam sikap lalai. Rasa puas tersebut membuat seseorang berhenti mengoreksi diri dan enggan memperbaiki kekurangan.
“Semua itu berakar dari rasa puas diri—merasa dirinya sudah baik, sudah benar, sudah sempurna,” ungkapnya.
Sebaliknya, orang yang bijaksana justru selalu merasa kurang. Ia menyadari bahwa ilmunya belum cukup, sehingga terus berusaha menambah pengetahuan. Ia merasa kebijaksanaannya belum sempurna, sehingga berupaya memperbaiki diri.
Dalam pengajian yang membahasa Kitab Al Hikam karya Imam Ibnu Athailah tersebut, Gus Mus bahkan menyampaikan perbandingan yang cukup tegas. Ia menyebut, lebih baik berteman dengan orang bodoh yang tidak pernah merasa puas terhadap dirinya, daripada berteman dengan orang alim yang merasa puas terhadap ilmunya.
Gus Mus menjelaskan orang bodoh yang dimaksud ialah mereka yang tidak merasa puas dan akan terus belajar dan memperbaiki diri. Sementara itu, orang alim yang merasa cukup dengan ilmunya justru akan terhenti perkembangannya.
“Ilmu apa lagi yang dimiliki orang alim jika ia sudah merasa puas dengan dirinya? Dan kebodohan apa yang melekat pada orang bodoh jika ia tidak pernah merasa puas dan terus berusaha memperbaiki diri?” tuturnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu melanjutkan bahwa asal setiap ketaatan adalah kesadaran dan harga diri sebagai hamba Allah. Kesadaran bahwa manusia bisa lupa dan bisa ingat, bisa tahu dan bisa tidak tahu, membuat seseorang tidak mudah merasa puas atas pencapaian dirinya.
Jika seseorang merasa sudah alim, kata dia, maka ia tidak akan lagi mencari ilmu. Namun jika ia tidak pernah merasa puas, maka proses belajar akan terus berlangsung sepanjang hayat.
Ia mencontohkan tradisi para kiai terdahulu yang berpindah-pindah pesantren untuk menuntut ilmu. Mereka tidak merasa cukup belajar di satu tempat, melainkan terus mencari guru dan memperdalam pengetahuan di berbagai majelis.
“Itulah sikap orang alim sejati: tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki,” terang kiai yang juga penyair dan budayawan itu.