Nasional

Alissa Wahid: Kesehatan Mental Bukan Sekadar Urusan Gen Z

Ahad, 11 Oktober 2026 | 14:00 WIB

Alissa Wahid: Kesehatan Mental Bukan Sekadar Urusan Gen Z

Psikolog Keluarga dan Direktur Jaringan Gusdurian Alissa Wahid. (Foto: istimewa)

Yogyakarta, NU Online

Isu kesehatan mental kini tidak lagi bisa dipandang sebelah mata atau sekadar dianggap sebagai tren sesaat di kalangan Generasi Z (Gen Z). Hal ini menepis anggapan masyarakat yang kerap menyederhanakan masalah kesehatan mental sebagai urusan anak muda dan fenomena healing.


Psikolog Keluarga Alissa Wahid menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan persoalan laten yang sangat kompleks dan membutuhkan penanganan serius dari level keluarga hingga masyarakat.


​"Kita sering menganggap bahwa kesehatan mental itu urusannya Gen Z, tetapi sebetulnya ini adalah isu laten yang selama ini sering menjadi isu pinggiran dibandingkan isu kemiskinan atau ketangguhan keluarga," ujar Alissa dalam kegiatan peluncuran Jaringan Psikolog Nahdliyin Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026).


​Alissa menjelaskan bahwa kerentanan mental yang dialami Gen Z sangat erat kaitannya dengan posisi mereka sebagai digital native yang lahir di era transisi digital.  


Hal ini berbeda dengan generasi terdahulu yang tumbuh dalam pola interaksi keluarga besar dan lingkaran sosial dunia nyata, Gen Z sering kali menghadapi ruang gerak fisik yang terbatas serta keterisolasian sosial.


​"Orang tua dan kakek-nenek generasi terdahulu hidup dalam keluarga besar dan punya banyak teman di dunia nyata. Sementara Gen Z terbelah di rumah kerap terisolasi, lalu mereka berkenalan dengan dunia maya yang begitu luas dengan tingkat anonimitas tinggi," ungkapnya.


​Selain tantangan interaksi digital, ketidakpastian ekonomi, perubahan geopolitik, fenomena pamer kemewahan (flexing) di media sosial, hingga imajinasi relasi yang tidak realistis (relationship goals) dinilai turut memicu distorsi kognitif. 


"Dampaknya tidak main-main, mulai dari meningkatnya angka perceraian, kasus melukai diri sendiri (self-harm), kekerasan di satuan pendidikan, hingga maraknya depresi," ujar Alissa.

​
​Untuk mengatasi kompleksitas tersebut, Alissa menekankan pentingnya membangun ekosistem pendukung yang kuat di tingkat mikrosistem seperti keluarga, sekolah, dan pesantren maupun mesosistem (interaksi antar-lingkungan tersebut).


​Dalam konteks warga Nahdliyin dan masyarakat luas, ia mendorong penggunaan pendekatan yang selaras dengan nilai-nilai tradisi dan ajaran agama yang adaptif. 


Nilai-nilai dasar seperti tawasut (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i'tidal (tegas/adil) dapat menjadi pijakan mental yang kokoh bagi generasi muda.


​"Kita tidak takut dengan perkembangan zaman, tetapi tugas kita adalah menentukan apakah perkembangan tersebut membawa kemaslahatan atau tidak. Mempertahankan nilai-nilai dan tradisi yang baik akan membantu anak-anak kita menata kehidupan dengan landasan yang kuat di tengah dunia yang berubah cepat," pungkas Alissa.