Nasional

Anak-Anak di Palangka Raya Alami Batuk dan Muntah di Tengah Kabut Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:00 WIB

Anak-Anak di Palangka Raya Alami Batuk dan Muntah di Tengah Kabut Asap Karhutla

Pesan seorang anak yang menjadi korban terdampak karhutla. (Foto: Dok istimewa)

Jakarta, NU Online

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kian mengancam kesehatan warga, baik orang dewasa maupun anak-anak. Salah satu dampaknya dirasakan langsung oleh keluarga Monica Chrisdayanti. Ia mengungkapkan, bayinya mengalami batuk hingga muntah dan penurunan berat badan di tengah paparan asap yang berkepanjangan.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa konsentrasi partikulat PM2.5 di Palangka Raya mencapai 470,8 pada Rabu (21/10/2026) pukul 11.00 WIB. Angka tersebut masuk kategori berbahaya.


Monica mengatakan, kondisi anaknya diketahui saat menjalani pemeriksaan rutin bulanan ke bidan. Meski sudah makan dan minum, bayinya mengalami muntah setelah batuk sehingga berat badannya menurun.


“Jadi saya lihat kok anak saya batuk muntah terus. Jadi sampai setiap bulan itu karena ada jadwal harus ke bidan, jadi kita ke bidan ini berkurang berat badannya,” ujar Monica, dikutip NU Online dari akun Instagram Narasi Newsroom, Rabu (21/10/2026).


Ia mengatakan, setelah berkonsultasi dengan dokter, kondisi tersebut diduga berkaitan dengan paparan kabut asap. Anak sulungnya juga sesekali mengalami batuk.


“Kalau memang berpenyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan) seperti virus-virus biasanya ya, itu bisa kita hentikan misalnya dengan obat,” katanya.


Menurut Monica, bidan dan dokter menyarankan keluarganya memberikan vitamin D kepada bayinya. Pasalnya, selama sekitar tiga bulan, keluarganya kesulitan mendapatkan sinar matahari akibat kabut asap.


“Jadi obat-obatan semua yang harus masuk, vitamin harus banyak masuk. Sudah enggak bisa kita ambil lagi dari luar ruangan,” tuturnya.


Ancaman asap juga dirasakan Monica sendiri. Ia mengatakan, indikator alat pemurni udara atau air purifier di kamarnya selalu menunjukkan warna merah saat subuh. Ia pun mengalami batuk.


Untuk mengurangi paparan asap, warga mendirikan Rumah Aman Asap. Fasilitas tersebut menjadi ruang yang lebih aman bagi keluarga, terutama ketika kondisi udara di luar memburuk.


Meski demikian, Monica mengaku khawatir terhadap dampak jangka panjang penggunaan obat-obatan dan terapi berulang bagi anaknya. Dalam kondisi tertentu, bayinya bahkan harus mendapatkan terapi oksigen.


“Soalnya kalau misalnya setiap hari saya harus panggil terapis untuk nebulizer itu kan obatnya ada obat-obatannya. Jadi saya juga memikirkan jangka panjang untuk kesehatannya karena sering dikasih obat-obatan itu kan lebih berbahaya lagi seperti itu. Jadi kadang harus dikasih terapi oksigen aja untuk bayi saya,” tuturnya.


Selain dampak kesehatan, Monica menyoroti berbagai keterbatasan yang dihadapi warga, mulai dari pasokan listrik, pendingin ruangan, dan sinyal komunikasi hingga antrean bahan bakar minyak (BBM). Kondisi tersebut semakin menyulitkan warga untuk melindungi diri dari paparan kabut asap.


“Di kotanya pun parah juga, apalagi di kampungnya,” imbuhnya.


Monica menilai, gotong royong warga melalui pembagian masker dan vitamin serta pendirian Rumah Aman Asap belum cukup untuk mengatasi persoalan selama kebakaran masih terus terjadi.


“Jangan anggap bercanda ya. Kalau mau berakhir, otomatis yang bakar harus berhenti. Tapi kalau misalnya seterusnya seperti itu, setiap malam setiap hari selalu ada kebakaran, itu enggak akan ada jeda dan enggak akan ada hentinya kami rasa itu sudah tidak normal,” tegasnya.