Nasional

Karhutla Belum Reda, Rais Aam PBNU Ajak Masyarakat Terus Berdoa agar Musibah Segera Berakhir

NU Online  ·  Selasa, 20 Oktober 2026 | 16:45 WIB

Karhutla Belum Reda, Rais Aam PBNU Ajak Masyarakat Terus Berdoa agar Musibah Segera Berakhir

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengajak masyarakat berdoa agar berbagai musibah yang menimpa bangsa segera berakhir. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra.


Ajakan tersebut disampaikan di hadapan jamaah pengajian Syarah Kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya, Jumat (16/10/2026).


Kiai Miftach menyoroti kebakaran hutan yang menurutnya belum tertangani dengan baik. Asap yang ditimbulkan tidak hanya berdampak terhadap warga di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga berpotensi membahayakan masyarakat lain yang terpapar.


“Kita mohonkan dengan Suratul Fatihah ini agar situasi musibah-musibah yang terjadi, termasuk kebakaran hutan yang sampai sekarang belum bisa ditangani dengan baik, yang mengakibatkan para penduduk setempat atau bahkan yang lain ini terkena asap, mungkin teracun, mungkin apa, begitu yang jadi musibah,” kata Kiai Miftach.


Selain karhutla, ia menyinggung erupsi gunung yang menyemburkan abu dan berbagai bencana lain yang menimbulkan kesulitan bagi masyarakat. Menurutnya, musibah tersebut juga dapat mengganggu perekonomian negara.


“Atau meletusnya gunung, anak gunung, yang juga menyemburkan abu dan semua, apa pun yang menjadi hal-hal yang menjadikan sebagai musibah bagi kita semuanya atau apa pun yang mengganggu perekonomian daripada negara kita, mari kita baca Suratul Fatihah,” ujarnya.


Karena itu, Kiai Miftach mengajak masyarakat membaca Surah Al-Fatihah sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon pertolongan Allah agar berbagai musibah segera teratasi dan upaya penanganannya berjalan dengan baik.


“Semoga oleh Allah segera diselesaikan, segera bisa upaya-upaya ikhtiar ini segera ditangani dengan baik,” tuturnya.


Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 14 Oktober 2026, penanganan karhutla masih difokuskan di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Hingga 13 Oktober, kebakaran tercatat melanda lahan mineral seluas 513,89 hektare dan lahan gambut seluas 7,8 hektare di Kalimantan Tengah.


Upaya pemadaman masih dilakukan melalui operasi darat, pengerahan personel gabungan, pengeboman air (water bombing), dan operasi modifikasi cuaca. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla masih berlangsung meskipun intensitas kebakaran di sejumlah wilayah mulai menurun.


Selain itu, BPBD Kalimantan Barat juga sempat memperpanjang status tanggap darurat karhutla pada 5–18 Oktober 2026 karena kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah dan kabut asap terus menyelimuti kota Pontianak dan sekitarnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang