Asap Karhutla Ancam Paru-paru Anak, Warga Kalimantan Desak Pemerintah Bertindak
Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:30 WIB
Jakarta, NU Online
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan dan mengancam kesehatan warga, terutama anak-anak. Warga mendesak pemerintah segera mengambil langkah serius untuk menghentikan kebakaran serta menjatuhkan sanksi kepada pihak yang lalai atau melakukan pembakaran.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa konsentrasi partikulat PM2.5 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mencapai 470,8 pada Rabu (21/10/2026) pukul 11.00 WIB. Angka tersebut masuk kategori berbahaya. Pada waktu yang sama, konsentrasi PM2.5 di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mencapai 349,1 dan juga masuk kategori berbahaya.
Sementara itu, konsentrasi PM2.5 di Samarinda, Kalimantan Timur, mencapai 97,8; Kubu Raya, Kalimantan Barat, 70,2; serta Sintang, Kalimantan Barat, 58,8. Ketiga wilayah tersebut masuk kategori tidak sehat.
Pengelola Rumah Aman Asap Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) Kalimantan, Agnes Yesiska, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak paparan asap dalam jangka panjang, terutama bagi anak-anak.
Ia mengatakan, anaknya hampir empat bulan tidak keluar rumah, bahkan sekadar ke teras.
“Karena saya ibu, melihat kondisi saat ini dan anak saya sudah hampir 4 bulan tidak keluar rumah, bahkan ke teras pun tidak yang dikhawatirkan adalah bagaimana kondisi paru-parunya ke depan,” ujarnya dikutip NU Online dari Instagram Narasi Newsroom, pada Rabu (21/10/2026).
Agnes menyampaikan bahwa anaknya telah dua kali mengalami flu dan batuk selama periode tersebut. Batuk yang dialami anaknya bahkan terjadi pada malam hari hingga menyebabkan muntah.
“Pasca asap ini ataupun ketika asap ini masih berlangsung tanpa penanganan medis dan penanganan-penanganan seperti apa lagi yang harus kita lakukan untuk minimal anak-anak kita ini tidak jatuh sakit yang berkepanjangan, batuk yang berkepanjangan,” ungkapnya.
Ia mengatakan, Rumah Aman Asap telah diakses hampir 500 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen merupakan anak-anak dan 10 persen lainnya balita.
“Mereka datang ke sini naik motor dengan kondisi asap yang cukup tebal. Apa sih yang mereka mau dapat? Satu, ruangan yang punya akses udara yang cukup baik karena di rumah mereka enggak ada,” tuturnya.
Menurut Agnes, sebagian pengunjung mengalami sesak napas dan membutuhkan nebulisasi untuk membantu mengatasi gangguan pernapasan. Ada pula yang memerlukan bantuan oksigen.
“Jadi mereka membutuhkan itu. Bagaimana yang rumahnya di sekitaran area terbakar dengan ekonomi yang cukup lemah, tidak punya air purifier, lalu ibunya tidak bekerja, bapaknya mungkin ojol yang sekarang terdampak asap juga, harus membeli vitamin,” katanya.
Ia menambahkan, warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli vitamin dan obat-obatan di tengah paparan asap karhutla. Pengeluaran tersebut menjadi beban tersendiri bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
“Karena jujur, vitamin dan obat-obatan saat ini itu punya budget yang cukup tinggi kalau kita mau bertahan dengan antibodi yang sehat, yang kuat,” katanya.
Agnes menegaskan bahwa dampak paparan asap dalam jangka panjang tidak boleh dianggap sepele. Ia mendesak pemerintah dan para pemegang kebijakan segera bertindak untuk menghentikan karhutla serta memberikan sanksi kepada pihak yang bertanggung jawab.
“Tolong diseriusi, tolong diperhatikan karena kami sudah hampir empat bulan tidak menghirup udara bersih dan udara kotor semua yang kami hirup. Dan kita harus mengakui bahwa Kalimantan memang tidak baik-baik aja, bukan normal. Yang kami minta adalah kebijakannya, sanksinya terhadap mereka yang lalai ataupun membakar,” tegasnya.