Berikut Latar Rabiul Akhir Jadi Nama Bulan Keempat Hijriah
Jumat, 11 September 2026 | 20:00 WIB
Jakarta, NU Online
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengumumkan bahwa awal bulan Rabiul Akhir 1448 H jatuh pada Ahad (13/9/2026) lusa.
"Awal bulan Rabi'ul Akhir 1448 H bertepatan dengan Ahad Pon 13 September 2026 M (mulai malam Ahad) atas dasar istikmal," sebagaimana tertulis dalam Pengumuman Nomor Nomor: 163/PB.08/A.II.11.13/13/09/2026 yang dikeluarkan pada Jumat (11/9/2026).
Keputusan didasarkan pada rukyatul hilal yang tidak berhasil melihat hilal 1 Rabiul Akhir 1448 H pada Jumat, 29 Rabiul Awal 1448 H bertepatan 11 September 2026 M.
"Telah dilaporkan penyelenggaraan rukyatul hilal pada Jumat Legi 29 Rabi'ul Awal 1448 H / 11 September 2026 M. Laporan lokasi yang menyelenggarakan rukyatul hilal terlampir. Semua lokasi tidak melihat hilal," tulis pengumuman itu.
Bulan keempat dalam kalender Hijriah ini dikenal dengan nama Rabiul Akhir. Ada sebagian orang menyebutnya Rabiuts Tsani. Nama ini, konon, diberikan oleh Kilab bin Murrah, kakek buyut kelima Rasulullah saw. Hal ini sebagaimana dikutip dari artikel NU Online berjudul Rabiul Akhir, Asal-Usul Penamaan dan Peristiwa Penting di Dalamnya.
Ustadz M Tatam Wijaya menjelaskan bahwa sebelum berganti menjadi Rabiul Akhir atau Rabiuts Tsani, bulan ini bernama Wubshan atau Wabshan, sedangkan bulan Rabiul Awwal memiliki nama Khawwan atau Khuwwan. Catatan Abu Bakar Muhammad dalam kitab Jamhartul Lughah (1987) menjadi dasar pandangan tersebut.
Perubahan nama kedua bulan tersebut menjadi Rabiul Akhir ini berkaitan erat dengan peristiwa alam, yaitu musim keempat (rabi') di Jazirah Arab. Maksud dari musim rabi' adalah musim semi. Di musim itulah, tumbuh-tumbuhan kembali menghijau dan subur, serta berbuah lebat.
Musim semi atau rabi' ini biasanya terjadi selama dua bulan. Karenanya, istilah Rabi' pun disematkan pada dua bulan tersebut saat musim itu berlangsung sehingga muncul nama bulan yang dikenal sebagai Rabiul Awwal dan Rabiul Akhir.
Tatam juga mencatat, mengutip Abu al-Ghauts dalam Lisanul Arab, bahwa kata rabi‘ tidak saja disandang sebagai nama dari dua bulan Hijriah, yakni bulan ketiga dan keempat saja. Lebih dari itu, kata rabi' juga menjadi nama musim di antara enam musim yang ada, yaitu ar-rabi al-awwal (musim semi pertama), shaif (musim panas), qaizh (puncak musim panas), al-rabi‘ al-tsani (musim semi kedua), kharif (musim gugur), dan syitha (musim dingin).
Di samping itu, Ustadz Tatam juga menjelaskan bahwa masyarakat Arab menyebut bulan tersebut dengan awalan syahr yang memiliki arti bulan (dalam kalender).
Adapun pengucapan bulan ketiga dan keempat ini bisa dengan dua cara, sebagaimana ia mengutip dari Ahman ibn Muhammad dalam kitab al-Misbahul Munir. Pertama, penyebutannya dengan model sifat mausuf (na'at-man'ut), yakni syahru rabi‘in al-akhir atau al-awwal. Kedua, penyebutannya dengan cara mengidhafahkan, yakni syahru rabi‘il akhir atau syahru rabi'il awwal.