Erupsi Hampir Bersamaan, Dosen UGM Ungkap Gunung Punya Karakteristik dan Siklus Masing-Masing
NU Online · Jumat, 11 September 2026 | 21:30 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang relatif bersamaan. Fenomena tersebut melibatkan Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ile Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Indranova Suhendro menyampaikan bahwa aktivitas enam gunung api tersebut memiliki karakteristik dan siklus aktivitas masing-masing.
Indranova menjelaskan bahwa kesamaan waktu erupsi lebih tepat dilihat sebagai pertemuan siklus aktivitas yang berbeda. Sejumlah gunung api memiliki frekuensi erupsi tinggi, seperti Semeru dan Anak Krakatau. Sementara, gunung api lainnya memiliki periode istirahat yang lebih panjang sebelum kembali aktif.
“Ketika siklus-siklus tersebut beririsan pada satu periode, sejumlah gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan,” ujarnya kepada NU Online, Jumat (11/9/2026).
Indranova mengatakan setiap gunung memiliki sistem magma yang bekerja secara lokal, sehingga erupsi pada satu gunung tidak serta-merta menjadi pemicu bagi gunung lainnya.
Dia menambahkan, kemungkinan keterkaitan aktivitas lebih terbuka pada gunung-gunung yang lokasinya berdekatan. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan enam gunung api yang saat ini tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara, dan Maluku.
“Saat ini gunung-gunung yang mengalami erupsi berada pada posisi yang sangat jauh antar yang satu dengan yang lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin,” katanya.
Perbedaan sistem tersebut tercermin pada mekanisme erupsi masing-masing gunung. Pada Sinabung, Ibu, dan Semeru, Indranova menyampaikan adanya mekanisme ketika panas dari magma di bawah gunung memanaskan air yang tersimpan di tubuh gunung. Kondisi itu dapat meningkatkan tekanan dan memicu erupsi freatik tanpa selalu disertai tanda kenaikan aktivitas kegempaan vulkanik yang jelas.
“Mekanisme semacam ini berbeda dengan erupsi magmatik pada Anak Krakatau yang berkaitan dengan magma dengan kandungan gas tinggi. Erupsi magmatik bersifat eksplosif disebabkan karena adanya nukleasi gas secara masif akibat proses dekompresi yang intens,” ujarnya.
Dia mengatakan, jika sebagian aktivitas berlangsung melalui proses internal masing-masing gunung, faktor dari luar sistem gunung api juga dapat berperan pada kondisi tertentu. Salah satunya peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik pada Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok setelah gempa di Flores yang kemudian diikuti aktivitas erupsi.
Indranova mengaitkan kemungkinan tersebut dengan pengaruh guncangan gempa terhadap gas yang terlarut dalam magma. Namun, dia menegaskan mekanisme tersebut belum dapat dipastikan berlaku pada seluruh gunung api.
“Bukti bahwa gejala aktivitas kegempaan vulkanik pada Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki meningkat drastis pascagempa menjadi penanda kuat bahwa mereka dibangunkan oleh aktivitas kegempaan Flores, mirip seperti pada kasus erupsi Gunung Ruang tahun 2024 yang dibangunkan oleh gempa berkekuatan 6.5 M di sekitar Halmahera,” ungkapnya.
Dia mengatakan bahwa dampak erupsi tidak hanya dilihat dari ancaman di sekitar gunung. Abu vulkanik yang terbawa angin dapat mencapai wilayah lebih jauh, mengganggu kualitas udara dan kesehatan. Gangguan terhadap penerbangan juga dapat merembet pada sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi lainnya.
Indranova menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun berdasarkan pemahaman mengenai jenis bahaya yang mungkin muncul di wilayah masing-masing, bukan semata-mata berdasarkan informasi bahwa sebuah gunung sedang erupsi.
“Kita harus sangat intens mengedukasi masyarakat untuk memberitahu bahwa ada bahaya yang jenisnya berbeda, ada yang jatuhan, ada yang aliran, supaya masyarakat lebih aware (sadar) dan tidak panik,” pungkasnya.
Terpopuler
1
KH Miftachul Akhyar: Muktamar Ke-35 Jadi Pelajaran NU untuk Berani Keluar dari Kebiasaan
2
Khutbah Jumat: Beberapa Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Kematian
3
Khutbah Jumat: Hati Merasa Jauh dari Allah, Apa yang Harus Dilakukan?
4
Khutbah Istisqa: Saat Kekeringan Melanda Saatnya Muhasabah dan Berbenah Diri
5
Khutbah Jumat: Musim Kemarau dan Anjuran Hemat Air dalam Islam
6
Jadi Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Komitmen Tak Lupakan PWNU Jatim
Terkini
Lihat Semua