Nasional

BI Siapkan Antisipasi setelah Rupiah Melemah Akibat Faktor Global dan Permintaan Dolar Jemaah Haji

Rabu, 6 Mei 2026 | 11:30 WIB

BI Siapkan Antisipasi setelah Rupiah Melemah Akibat Faktor Global dan Permintaan Dolar Jemaah Haji

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (tengah) saat Ratas bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/6/2026). (Foto: Sekretariat Presiden)

Jakarta, NU Online

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh faktor global. Ia menambahkan, tekanan jangka pendek juga dipicu faktor musiman, seperti kebutuhan devisa untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, serta kebutuhan jemaah haji yang meningkatkan permintaan dolar.


Hal itu disampaikan Perry saat bertemu dalam Rapat Terbatas (Ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri lainnya di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (5/6/2026).


“Faktor globalnya apa yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek ini? Adalah satu, harga minyak yang tinggi. Dua, suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi. Yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47 persen. Demikian juga dolar yang menguat,” katanya dalam siniar Sekretariat Presiden yang dikutip NU Online, Rabu (6/5/2026).


Perry mengungkapkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia dinilai kuat, ditandai dengan pertumbuhan yang mencapai 5,61 persen, inflasi yang rendah, pertumbuhan kredit yang tinggi, serta cadangan devisa yang solid.


"Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” ujarnya.


Langkah Antisipasi BI

Perry mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah perbaikan. Ia menegaskan, BI akan memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun luar negeri untuk menstabilkan rupiah.


“Cadangan devisa kami lebih, jadi cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu,” jelasnya.


Ia menyebut langkah lanjutan akan difokuskan pada penguatan arus modal dan koordinasi fiskal-moneter. BI, menurut Perry, akan mendorong masuknya dana melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menutup keluarnya dana dari Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, serta terus membeli SBN di pasar sekunder.


“Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun. Kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter,” jelasnya.

 

Selanjutnya, Perry menyebut Bank Indonesia akan menjaga likuiditas perbankan tetap longgar serta membatasi pembelian dolar di pasar domestik. 


Ia menjelaskan, batas pembelian yang sebelumnya 100 ribu dolar per orang per bulan diturunkan menjadi 50 ribu dolar per orang per bulan, dan kebijakan ini telah dikoordinasikan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk penguatan.


Lebih lanjut, kata Perry, BI akan segera melakukan penguatan intervensi di pasar offshore serta peningkatan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi. Selain itu, pengawasan diperketat melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.


“Yang terutama kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana koordinasi dengan Bu Friderica Widyasari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga,” terangnya.