Nasional

Biaya Solar Mahal, Nelayan Terancam Tak Bisa Lagi Melaut

Senin, 6 April 2026 | 10:00 WIB

Biaya Solar Mahal, Nelayan Terancam Tak Bisa Lagi Melaut

Beberapa kapal nelayan pulang dan pergi mencari ikan di Pelabuhan Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Ahad (5/4/2026). (Foto: NU Online/Suwitno).

Tangerang, NU Online

Erpin (32), seorang nelayan di pesisir Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, terlihat sibuk memarkirkan perahu yang telah membawanya mencari ikan. Kemudian ia, menguras air yang masuk ke perahunya.


Bagi Erpin, rutinitas berangkat sebelum fajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara mempertahankan hidup di tengah tekanan biaya yang kian berat.


"Sekitar jam tiga pagi kita sudah bersiap menuju laut, kemudian pulang jam delapan pagi. Hasilnya sudah dipilah kemudian langsung masuk ke pelelangan," kata Erpin saat diwawancarai NU Online, Ahad (5/4/2026).


Setiap kali melaut, Erpin membutuhkan sekitar 10 liter solar untuk menggerakkan mesin perahu. Namun jumlah itu sering kali belum cukup, tergantung jarak yang ditempuh di laut. Harga solar yang kini mencapai Rp10.000 per liter membuat biaya operasional semakin tinggi.


"Padahal beberapa tahun lalu harga bahan bakar tersebut masih berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp8.000 per liter," ujarnya.


Kenaikan harga energi ini menjadi persoalan besar bagi nelayan kecil. Solar bukan sekadar bahan bakar, tetapi penentu apakah mereka bisa melaut atau tidak.


“Kalau tidak ada solar, kami tidak bisa jalan,” lanjut Erpin.
 

Erpin seorang nelayan di Pelabuhan Tanjung Kait, Mauk, Kabupaten Tangerang sedang menguras air pada perahu setelah pulang dari mencari ikan. Perahu lama yang ia pakai terkadang kemasukan air karena bocor. (Foto: NU Online/Suwitno).

Kemudian Erpin bercerita, saat musim ikan melimpah, ia bisa membawa pulang 10 hingga 12 kilogram ikan dalam sekali melaut. Sebaliknya, ketika angin kencang dan cuaca tidak bersahabat, hasil tangkapan bisa turun drastis.


“Kalau lagi susah paling sekitar lima kilo,” ungkapnya.


Dari hasil tersebut, penghasilan yang diperoleh tidak selalu sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Dalam sehari, keuntungan bersih yang didapat Erpin terkadang hanya sekitar Rp100 ribu, bahkan bisa lebih kecil jika tangkapan sedikit.


"Apalagi saya ini perahunya sewa. Kalau buat kapal sendiri biayanya cukup mahal bisa Rp30 juta," katanya.


Selain mahalnya bahan bakar, Erpin mengatakan, faktor keselamatan juga menjadi kekhawatiran. Perahu kecil yang digunakan nelayan sering kali tidak dilengkapi peralatan keselamatan memadai.


"Semoga sih harga solar bisa lebih terjangkau. Kemudian pemerintah juga bisa menyediakan perlengkapan seperti pelampung untuk mengurangi risiko kecelakaan di laut," harapnya.


Harga ikan di pelelangan cenderung stabil

Haerudin (32), salah satu pedagang ikan di Pelelangan Tanjung Kait, Mauk, Kabupaten Tangerang menjelaskan, harga ikan di lapaknya bergantung pada jenis dan ketersediaan dari nelayan. Beberapa jenis ikan masih berada pada kisaran harga yang relatif stabil.


"Ikan manyung misalnya sekitar Rp30 ribuan per kilogram, tongkol sekitar Rp40 ribu, sementara cucut berkisar Rp25 ribu. Ada pula jenis lain seperti ikan kuwe yang berada di atas Rp50 ribu per kilogram," jelas Haerudin.
 

Dua orang nelayan sedang memilah ikan hias tangkapanya di Pelabuhan Tanjung Kait, Mauk, Kabupaten Tangerang, Ahad (5/4/2026). (Foto: NU Online/Suwitno).

Di antara berbagai jenis ikan laut, bawal putih menjadi salah satu yang paling mahal. Menurut Haerudin, harga ikan tersebut bisa mencapai sekitar Rp300 ribu per kilogram untuk ukuran tertentu.


"Bahkan pada momen tertentu seperti perayaan Imlek, harganya bisa melonjak hingga sekitar Rp500 ribu per kilogram karena permintaan yang meningkat," katanya.


Sebagai pedagang, Haerudin membeli ikan langsung dari nelayan. Ia kemudian menjualnya kembali dengan margin keuntungan yang tidak terlalu besar, sekitar Rp5.000 per kilogram.


Keuntungan itu, menurutnya, sudah cukup untuk menutup kebutuhan operasional sekaligus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Kemudian Siti Husnah (41), salah satu pembeli ikan di Pelelangan Tanjung Kait mengatakan bahwa pekerjaan nelayan tidaklah mudah. Untuk itu, ia tidak mempermasalahkan soal harga ikan.


"Makanya saya kalau nawar tidak keterlaluan, dan kalau tidak bisa ditawar ya sudah beli dengan harga yang ada," ujarnya.


Terkahir, Siti Husnah berharap para nelayan di Indonesia dapat bekerja tanpa banyak kendala dan selalu diberi keselamatan.


"Untuk itu, kita sebagai pembeli juga harus ingat perjuangan mereka, mereka bekerja mempertaruhkan nyawa demi kebutuhan keluarga,” pungkasnya.