Nasional

BMKG: Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Terjadi pada Awal Maret 2026

Ahad, 1 Maret 2026 | 12:46 WIB

BMKG: Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Terjadi pada Awal Maret 2026

Ilustrasi hujan lebat angin kencang. (Foto: freepik)

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga Maret 2026 atau bertepatan dengan sepuluh hari kedua Ramadhan 1447.


Hal ini dipengaruhi oleh masih aktifnya monsun Asia yang membawa massa udara basah dari Benua Asia ke wilayah Indonesia bagian selatan.


BMKG menyebut kondisi ini dipengaruhi fenomena atmosfer pada skala global, regional, dan lokal.


“Cuaca di Indonesia sampai 5 Maret 2026 umumnya didominasi oleh hujan ringan hingga hujan sedang. Namun perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” ujar Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani, dalam keterangannya, dikutip Ahad (1/3/2026).


Faktor global dan regional

Andri menjelaskan bahwa pada skala global, La Nina lemah masih terdeteksi dan berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di Indonesia bagian timur.


Sementara Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi masih mempengaruhi kondisi atmosfer Indonesia dalam beberapa hari ke depan sehingga mendorong pembentukan awan hujan.


Kombinasi MJO dengan gelombang Rossby ekuator, gelombang Kelvin, serta gelombang frekuensi rendah diperkirakan aktif di sejumlah wilayah, antara lain di Samudera Hindia barat daya Lampung, hingga selatan Nusa Tenggara Timur; Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat; sebagian Kalimantan; laut Sulawesi; sebagian besar Sulawesi; Maluku Utara dan Maluku; serta sebagian besar Papua.


Fenomena tersebut berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di wilayah-wilayah tersebut.


Sementara itu, sirkulasi siklonik terpantau di Samudera Hindia barat daya Lampung dan di Samudera Pasifik timur laut Papua Nugini. Sistem ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang memanjang di Samudera Hindia barat daya Banten serta Samudera Pasifik timur laut Papua.


Selain itu, terdapat penguatan angin baratan dari Samudera Hindia yang meningkatkan suplai uap air dan mendukung pembentukan awan hujan secara intensif. Kelembapan udara yang tinggi serta labilitas atmosfer yang kuat turut menyebabkan masifnya pembentukan awan dan hujan di sebagian wilayah Indonesia bagian selatan.


Berikut prediksi potensi cuaca ekstrem pada 1-2 Maret 2026 dikutip dari laman BMKG:

1 Maret 2026

Hujan sedang-lebat: Banten, Bengkulu, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan


Hujan lebat-sangat lebat: Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur


Angin kencang: Jawa Timur, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara


2 Maret 2026

Hujan sedang-lebat: Aceh, Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, Sumatra Utara


Hujan lebat-sangat lebat: Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur


Angin kencang: Bali, Banten, Jawa Barat, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara


Waspada banjir dan longsor

Menyikapi potensi cuaca ekstrem tersebut, BMKG mengimbau agar masyarakat mewaspadai bencana banjir dan tanah longsor.


“Kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini diharapkan menjadi perhatian dalam perencanaan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta berbagai kegiatan luar ruang seperti ibadah dan wisata,” kata Andri.


BMKG juga mengingatkan masyarakat agar secara berkala memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem melalui kanal resmi BMKG, baik melalui laman resmi, aplikasi InfoBMKG, maupun media sosial @infobmkg.


Selain itu, BMKG menyediakan layanan informasi cuaca khusus jalur perjalanan melalui Digital Weather for Traffic (DWT) yang telah terintegrasi di seluruh wilayah Indonesia. Layanan ini memungkinkan masyarakat memperoleh informasi cuaca sepanjang rute perjalanan.