Firdaus (55) bersama rekan kerjanya sedang merawat beberapa gulungan pita seluloid di Sinematek, di Gedung Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026). (Foto: NU Online/Suwitno).
Jakarta, NU Online
Di sebuah ruang penyimpanan bersuhu dingin, ribuan kaleng logam berisi gulungan pita film tersusun rapi di rak-rak tinggi. Di tempat inilah, potongan film Indonesia yang bersejarah disimpan dan dirawat dengan teliti.
Bagi salah satu petugas arsip, Firdaus (55), setiap gulungan film bukan sekadar rekaman cerita, melainkan jejak waktu yang menyimpan potret kehidupan pada masanya.
Firdaus bercerita, lembaga arsip film ini dirintis oleh Haji Misbach Yusa Biran pada 1971 dan diresmikan pada 20 Oktober 1975. Kini, lembaga tersebut berada di bawah naungan Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) dan berfungsi sebagai pusat pengarsipan serta dokumentasi film.
"Koleksi yang tersimpan tidak hanya berupa film seluloid, tetapi juga berbagai media lain seperti video, DVD, laser disc, poster, hingga skenario film. Bahkan, ada sejumlah peralatan produksi lama seperti proyektor dan kamera lawas di sini. Intinya semua yang berhubungan dengan film kita koleksi di sini,” kata Firdaus saat diwawancarai NU Online, Selasa (31/3/2026), di Sinematek, Gedung Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.
Saat ini, menurut Firdaus, arsip tersebut menyimpan hampir seribu judul film. Sekitar 700 judul di antaranya tersedia dalam bentuk positif dengan beberapa salinan, sementara sebagian besar lainnya tersimpan dalam format negatif film yang memerlukan penanganan khusus.
Di antara koleksi berharga itu terdapat film klasik berjudul Titipan Kayu produksi 1935 yang telah dialihmediakan ke format digital sehingga dapat kembali disaksikan oleh masyarakat.
"Selain itu, terdapat pula film Darah dan Doa karya Usmar Ismail yang diproduksi pada 1950. Film tersebut dikenal sebagai film pertama yang sepenuhnya dibuat oleh sineas pribumi Indonesia. Pengambilan gambar pertamanya pada 30 Maret 1950 kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional," ujarnya.
Merawat film seluloid bukan perkara sederhana. Menurut Firdaus, pita film sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembaban. Ruang penyimpanan harus dijaga pada suhu sekitar 7 hingga 12 derajat celsius dengan tingkat kelembaban antara 45 hingga 50 persen.
"Selain itu, film juga perlu dibersihkan menggunakan bahan khusus dan digulung ulang secara berkala setiap tiga hingga empat bulan untuk mencegah kerusakan serta pertumbuhan jamur," katanya.
Bagi Firdaus, upaya merawat arsip film bukan hanya tentang menjaga benda lama. Film, menurutnya, merupakan dokumen sejarah yang merekam berbagai aspek kehidupan, mulai dari budaya, bahasa, hingga perkembangan kota dari masa ke masa.
“Di dalam film itu bukan hanya cerita, tapi juga gambaran kehidupan pada zamannya,” ujarnya.