Empat WNI Diculik di Teluk Guinea, DPR Tegaskan Kewajiban Negara Lindungi Warga
Kamis, 15 Januari 2026 | 13:30 WIB
Jakarta, NU Online
Kapal penangkap ikan IB FISH 7 diserang sekelompok bajak laut di perairan Ekwata, Teluk Guinea, Republik Gabon, pada Sabtu (10/1/2026) waktu setempat. Serangan terjadi saat kapal berbendera Gabon tersebut tengah melakukan aktivitas penangkapan ikan di laut lepas, sekitar 7 mil laut tenggara Equata.
Kepala Staf Angkatan Laut Gabon Laksamana Madya Charles Hubert Bekale Meyong memastikan bahwa pembajakan terjadi secara tiba-tiba dan melibatkan penculikan awak kapal.
“Kapal penangkap ikan berbendera Gabon, IB FISH 7, diserang bajak laut saat menangkap ikan sekitar 7 mil laut tenggara Equata di perairan Gabon,” kata Meyong, Senin (12/1/2026).
Dalam peristiwa tersebut, sembilan awak kapal diculik dari total 12 orang yang berada di kapal. Para korban penculikan terdiri atas empat warga negara Indonesia (WNI) dan lima warga negara China. Sementara itu, tiga awak kapal lainnya, termasuk dua WNI, berhasil lolos dari penculikan.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai penculikan tersebut bukan sekadar tindak kriminal, melainkan menyangkut langsung tanggung jawab negara dalam melindungi warga negaranya di luar negeri.
“Peristiwa penculikan empat WNI oleh bajak laut di perairan Gabon merupakan tragedi yang sangat memprihatinkan dan menuntut perhatian serius dari negara. Komisi I DPR RI menilai bahwa kasus ini bukan sekadar tindak kriminal, melainkan menyangkut tanggung jawab negara dalam melindungi setiap warga negara Indonesia di luar negeri,” tutur Dave dalam keterangan yang diterima NU Online, Rabu (15/1/2026).
Dave menegaskan bahwa insiden di Teluk Guinea kembali menunjukkan tingginya risiko keselamatan WNI yang bekerja di sektor perikanan dan pelayaran internasional, khususnya di wilayah yang dikenal rawan pembajakan.
“Insiden ini juga menegaskan bahwa ancaman terhadap keselamatan WNI di kawasan rawan konflik atau perairan internasional harus diantisipasi dengan langkah yang sistematis dan terukur,” tambahnya.
Ia mendorong pemerintah untuk melakukan diplomasi aktif dengan otoritas Gabon serta memperkuat kerja sama internasional demi keselamatan para sandera.
“Diplomasi yang aktif dan terarah melalui Kementerian Luar Negeri menjadi kunci, baik dalam menjalin komunikasi dengan aparat keamanan setempat maupun dalam membangun dukungan internasional,” ucap Dave.
Menurut Dave, keselamatan para sandera harus menjadi prioritas utama negara, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sistem perlindungan jangka panjang bagi WNI di sektor maritim.
“Pemerintah harus memastikan bahwa keselamatan para sandera menjadi prioritas utama, sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam melindungi warganya di manapun mereka berada,” ucap Dave.
“Pendataan yang lebih ketat, pelatihan keselamatan, serta kerja sama keamanan maritim dengan negara-negara sahabat di kawasan Afrika harus segera ditingkatkan. Indonesia juga perlu mengambil peran aktif dalam forum internasional terkait keamanan maritim, sehingga suara kita didengar dan kepentingan WNI terlindungi secara berkelanjutan,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyatakan bahwa Kementerian Luar Negeri telah melakukan langkah diplomatik sejak awal kejadian. Pemerintah Indonesia juga menjalin koordinasi dengan otoritas China, mengingat korban penculikan berasal dari dua negara.
“Saya juga mencoba untuk berkoordinasi dengan Kedutaan Besar China,” kata Sugiono usai menyampaikan Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Sugiono menegaskan bahwa pemantauan dilakukan secara intensif dan pemerintah menerima laporan perkembangan situasi secara berkala.
“Saya memantau laporannya setiap jam, dan setiap ada pembaruan informasi,” ujar Sugiono.
Namun demikian, Sugiono mengakui bahwa hingga kini pemerintah belum memperoleh informasi lengkap mengenai keberadaan seluruh WNI yang diculik.
“Terus terang, sejauh ini juga kita belum tahu nasib yang dua,” kata Sugiono.
Sebagai tindak lanjut teknis di lapangan, Plt Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI Heni Hamidah menyampaikan bahwa KBRI Yaounde terus melakukan koordinasi dengan otoritas Gabon dan berbagai pihak terkait sejak awal kejadian.
Ia menjelaskan bahwa sebagian awak kapal berhasil selamat dan langsung berada dalam pengamanan aparat setempat.
“Tiga awak lainnya, dua di antaranya WNI, saat ini dalam kondisi aman, dan tetap berada di kapal yang sama. Tiga awak kapal termasuk dua WNI yang berada di kapal IB FISH 7 telah dikawal oleh Angkatan Laut Gabon menuju ke Libreville, ibu kota Gabon,” kata Heni, Selasa (13/1/2026).
Selain itu, KBRI Yaounde juga terus memantau kondisi kesehatan para WNI serta memastikan pemenuhan hak-hak ketenagakerjaan awak kapal dan keluarganya.
“KBRI Yaounde juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan bahwa penanggung jawab tetap melaksanakan semua hak ketenagakerjaan yang dimiliki para ABK WNI maupun keluarganya,” kata Heni.
Pemerintah menegaskan akan terus mengintensifkan upaya diplomatik dan pemantauan hingga keberadaan serta keselamatan seluruh WNI yang diculik dapat dipastikan.