Frekuensi Bencana Meningkat, Guru Besar UGM Minta SDM dan Teknologi Diperkuat
Sabtu, 12 September 2026 | 10:00 WIB
Guru Besar Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dwikorita Karnawati (kanan) (ugm.ac.id)
Jakarta, NU Online
Guru Besar Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dwikorita Karnawati menilai peningkatan frekuensi dan kompleksitas bencana di Indonesia perlu diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia (SDM), anggaran, dan teknologi.
Menurutnya, penguatan ketiga aspek tersebut diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas penanganan bencana.
Kepala BMKG periode 2017-2025 itu mengungkapkan, tingginya risiko bencana di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi geografis, luas wilayah, serta beragamnya ancaman bencana. Kondisi tersebut, katanya, menjadi tantangan dalam penanggulangan bencana.
“Kesiapan saat ini tampaknya belum seimbang dengan meningkatnya tantangan yang ada. Baik dari segi SDM, dari segi anggaran, kemudian nanti ujung-ujungnya akan ke teknologi,” katanya dikutip NU Online dari laman ugm.ac.id pada Sabtu (12/9/2026).
Selain itu, ia menekankan pentingnya pemeliharaan teknologi pemantauan agar investasi peralatan dapat berfungsi secara optimal. “Alat itu kalau nggak dipelihara, secanggih apa pun itu akan decline,” katanya.
Erupsi Beberapa Gunung Api Bersamaan Bisa Terjadi
Pakar Vulkanologi UGM Prof Agung Harijoko menyebut erupsi beberapa gunung api secara bersamaan sangat mungkin terjadi. Namun, setiap gunung memiliki sistem magma sendiri sehingga erupsi pada satu gunung tidak serta-merta memicu erupsi pada gunung lainnya.
“Bisa. Sangat bisa, karena mereka punya sistem sendiri-sendiri,” katanya dikutip NU Online dari laman ugm.ac.id pada Sabtu (12/9/2026).
Prof Agung menjelaskan, erupsi terjadi ketika tekanan di dapur magma meningkat, salah satunya akibat masuknya magma baru. “Ketika tekanan tersebut melebihi tekanan batuan penutup, magma dapat terdorong keluar dan memicu erupsi,” ujarnya.
Selain itu, Prof Agung mengungkapkan bahwa pemerintah kini lebih fokus memantau gunung api tipe A melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Sementara itu, gunung api lainnya tetap dipantau, tetapi tidak secara terus-menerus.
“Di Indonesia saat ini monitoring gunung api itu lebih difokuskan kepada gunung api tipe A. Dan ini tugas pokok dan fungsinya adalah di PVMBG,” katanya.
Ia menjelaskan, sistem peringatan dini gunung api bergantung pada pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan. Prof Agung mengatakan, informasi mengenai aktivitas gunung api juga disampaikan melalui kanal resmi PVMBG untuk mencegah penyebaran informasi yang keliru.
“Masyarakat perlu untuk memastikan informasi mengenai aktivitas gunung api melalui kanal resmi PVMBG sebagai lembaga yang melakukan pengamatan dan monitoring aktivitas gunung api secara real time sehingga informasi yang disampaikan dapat menjadi rujukan,” terangnya.