Nasional

Guru Besar UI Soroti Tantangan NU: Keterlibatan Global Harus Libatkan Basis Perdesaan

Rabu, 8 April 2026 | 13:30 WIB

Guru Besar UI Soroti Tantangan NU: Keterlibatan Global Harus Libatkan Basis Perdesaan

Guru Besar Ilmu Susastra di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof Muhammad Luthfi Zuhdi dalam Diskusi Pojok Kramat Edisi Harlah Lakpesdam PBNU ke-41 dan Halal Bihalal dengan tema Peran NU dalam Perdamaian Dunia di Plaza Gedung PBNU, Jakan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/4/2026). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube TVNU)

Jakarta, NU Online

Guru Besar Ilmu Susastra di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof Muhammad Luthfi Zuhdi, menyoroti tantangan besar yang dihadapi Nahdlatul Ulama (NU) dalam menghadapi perubahan sosial dan peran global.


Prof Luthfi menjelaskan bahwa sekitar 60 hingga 70 persen warga NU berasal dari kalangan rural yang sehari-hari lebih bergelut dengan persoalan praktis, seperti harga pupuk dan ketersediaan air untuk pertanian. Dia menilai, wacana besar seperti peradaban dan perdamaian dunia belum sepenuhnya menjadi perhatian utama di tingkat akar rumput. 


"Tetapi sebetulnya bukan berarti harus berhenti. Menghentikan tidak harus, tetapi bagaimana keterlibatan NU di dalam situasi dunia ini menyertakan masyarakat yang rural itu, yang di perdesaan itu," katanya dalam Diskusi Pojok Kramat Edisi Harlah Lakpesdam PBNU ke-41 dan Halal Bihalal dengan tema Peran NU dalam Perdamaian Dunia di Plaza Gedung PBNU, Jakan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/4/2026).


Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa realitas global masih diwarnai konflik, sehingga narasi perdamaian perlu ditempatkan secara proporsional.


"Oh, NU sekarang baru mengadakan perdamaian dunia, apa yang buat dunia damai? Nyatanya perang terus. Ini juga perlu dipahami," jelasnya.


Prof Luthfi mengatakan, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah membuka akses lebih luas terhadap pendidikan, termasuk mendorong kerja sama beasiswa luar negeri yang relevan dengan kebutuhan masyarakat desa, seperti di bidang pertanian.


"Mungkin kalau kita ketemu dubes Amerika, minta itu beasiswa, kita kirim beasiswa itu yang pertanian," katanya.


Terkait perubahan sosial menuju tahun 2045, ia menyebutkan bahwa sekitar 70 persen penduduk Indonesia diperkirakan akan tinggal di wilayah perkotaan. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan populasi desa dan memunculkan fenomena rumah kosong, sebagaimana yang terjadi di Jepang. 


"Sekarang masih di beberapa kota di Danau Toba, orangnya menjadi lawyer di sini, ditinggalin tuh wilayah-wilayah Toba, kosong, rumah bagus-bagus," jelasnya.


Prof Luthfi memandang, perubahan tersebut juga bakal berdampak langsung pada karakter sosial NU. Secara jumlah, lanjutnya, warga NU mungkin tetap besar, tetapi pola hidupnya akan bergeser dari masyarakat perdesaan ke masyarakat perkotaan. 


"Nah, apakah di situ NU akan berebut dengan Muhammadiyah yang sama-sama perkotaan? Ini harus dihitung dari sekarang," katanya.


Ia juga berpandangan, isu-isu global seperti perdamaian dunia akan lebih relevan ketika tingkat urbanisasi meningkat dan kapasitas pemahaman masyarakat semakin berkembang.


Di sisi lain, ia melihat adanya peluang dengan generasi muda NU dapat dilakukan melalui pelatihan keterampilan, peningkatan kapasitas, serta kerja sama internasional yang terarah.


Diketahui, acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla dan Dosen HI Binus University, Tia Mariatul Kibtiah.