Nasional

Gus Kikin Ingatkan Pentingnya Pemerataan Hasil Kekayaan Alam

Jumat, 30 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Gus Kikin Ingatkan Pentingnya Pemerataan Hasil Kekayaan Alam

Ketum PBNU Gus Kikin dalam kegiatan Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026) malam. (tangkapan layar kanal YouTube Pesantren Kemenag).

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) mengingatkan agar kekayaan alam Indonesia benar-benar dikelola untuk kemakmuran rakyat. Ia tidak ingin Indonesia mewariskan kekayaan alam yang melimpah, tetapi masyarakatnya masih kesulitan menikmati hasil kekayaan tersebut.


Pesan itu disampaikan Gus Kikin dalam acara Munajat Santri untuk Negeri 2026 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari puncak peringatan Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Ditjen Pesantren Kemenag.


"Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut kemerdekaan, perjuangan pada masa sekarang perlu diwujudkan melalui pendidikan yang baik, masyarakat yang beradab, ekonomi yang lebih adil, serta persatuan yang semakin kuat," katanya.


Menurutnya, agar Indonesia Emas 2045 benar-benar menjadi kenyataan, cita-cita besar tersebut harus diwujudkan melalui pekerjaan nyata yang dimulai sejak sekarang. Ia mengajak pemerintah, ulama, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan generasi muda mengambil peran masing-masing untuk menjawab persoalan tersebut. 


"Mari kita mengingat kembali satu pesan sederhana. Mari kita gali potensi, hilangkan friksi, kita kerahkan kemampuan membangun negeri, dan kita hindari perselisihan yang tidak perlu. Jangan sampai kita mewariskan negeri yang kaya, tetapi rakyatnya masih kesulitan menikmati hasil kekayaan," tuturnya.


Gus Kikin mengatakan, penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 pada hakikatnya menjadi kesempatan bagi seluruh masyarakat untuk melihat kembali tanggung jawab terhadap bangsa.


Menurutnya, tanggung jawab tersebut tidak terlepas dari pengorbanan para pendahulu yang telah mempertaruhkan hidup untuk memastikan Indonesia merdeka. Karena itu, setelah lebih dari delapan dekade kemerdekaan, masyarakat perlu kembali mempertanyakan apa yang harus dikerjakan agar cita-cita kemerdekaan benar-benar dirasakan rakyat Indonesia.


"Saya pernah menerima buku Paradoks Indonesia dari Bapak Presiden (Prabowo) ketika berkunjung ke Tebuireng. Beliau mengajak melihat satu persoalan besar, Indonesia memiliki kekayaan alam dan potensi manusia yang luar biasa, tetapi kesejahteraan belum dinikmati secara merata," ujarnya.


Gus Kikin menilai, persoalan tersebut patut terus direnungkan bersama. Kekayaan alam yang dahulu diperebutkan bangsa lain harus dapat dikelola dengan baik sehingga memberikan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.


Ia menyebut, Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari pendidikan, ketimpangan ekonomi, kesempatan kerja, kerusakan lingkungan, hingga perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.


Berbagai persoalan tersebut, lanjutnya, membutuhkan ilmu pengetahuan, kejujuran, kerja keras, dan kerja sama. Perbedaan politik, organisasi, maupun pandangan keagamaan tidak boleh menghabiskan energi yang semestinya digunakan untuk menyelesaikan persoalan bangsa.


"Kita harus meyakini bahwa ilmu dan ukhuwah adalah dua hal yang harus kita terapkan. Dengan ilmu, kita dapat memahami persoalan dan mencari jalan keluarnya yang tepat. Dengan ukhuwah, kemampuan yang berbeda dapat disatukan menjadi kekuatan bersama," tuturnya.


Namun demikian, ilmu dan ukhuwah perlu ditopang dengan adab, sikap saling menghormati sesama, menjaga amanat, serta mendahulukan kemaslahatan umat.


Dalam hal ini, Gus Kikin menilai kalangan santri dan pesantren mempunyai tanggung jawab besar bersama unsur bangsa lainnya untuk menjawab kebutuhan masyarakat.


"Santri harus terus meningkatkan kualitas ilmu, memahami perkembangan teknologi, terlibat dalam pemberdayaan ekonomi, serta hadir ketika masyarakat membutuhkan," kata Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, itu.