Nasional

Gus Mus Ingatkan Jangan Tunda Mengingat Allah

Rabu, 25 Februari 2026 | 21:45 WIB

Gus Mus Ingatkan Jangan Tunda Mengingat Allah

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. (Foto: NU Onine/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus menegaskan bahwa setiap tarikan dan hembusan napas manusia berada dalam ketentuan Allah Swt. Tidak ada satu napas pun yang terlepas dari ukuran dan kehendak-Nya.


Hal itu disampaikan dalam Pengajian Ramadhan yang ditayangkan melalui YouTube NU Online, Rabu (25/2/2026). Dalam kajian Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah, ia menekankan bahwa hal paling sederhana dalam hidup manusia, bernapas, sepenuhnya berada dalam kuasa Allah.


“Tidak ada satu tarikan atau hembusan napas pun yang keluar darimu kecuali telah ditentukan kadarnya oleh Allah dan dilangsungkan oleh-Nya,” ujarnya.


Menurutnya, ada orang yang dapat bernapas lega, ada yang mengalami sesak, bahkan ada yang tiba-tiba berhenti bernapas. Semua itu terjadi dalam ketentuan Allah. Jika napas saja diatur sedemikian detail, maka terlebih lagi urusan lain yang lebih besar dalam kehidupan manusia.


Jangan Menunggu Longgar untuk Mengingat Allah

Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus mengingatkan agar manusia tidak menunda mengingat Allah dengan alasan kesibukan duniawi. “Jangan menunggu sampai urusan-urusan selain Allah selesai baru engkau mengingat Allah,” pesannya.


Ia mencontohkan sikap sebagian orang yang menunggu urusan orang tua, keluarga, pekerjaan, atau tanggung jawab sosial selesai sebelum fokus beribadah. Menurutnya, sikap demikian dapat memutus muraqabah, yakni kesadaran terus-menerus akan kehadiran Allah.


Mengingat Allah, lanjutnya, tidak terbatas pada ruang dan waktu tertentu. Kesadaran itu dapat dihadirkan saat makan, minum, berjalan, hingga bernapas.


“Saat makan, ingat bahwa rezeki dari Allah. Saat minum, ingat Allah. Saat berjalan dan bernapas, ingat bahwa Allah yang menciptakan udara dan memberi kehidupan,” jelasnya.


Ia mengingatkan, jika seseorang hanya mengingat Allah pada waktu tertentu, bahkan salat pun bisa dilakukan tanpa kesadaran akan kehadiran-Nya.


Dunia Memang Penuh Kekeruhan

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah itu juga mengajak jamaah untuk tidak heran dengan berbagai persoalan dan “kekeruhan” dalam kehidupan dunia. “Jangan heran dengan terjadinya berbagai kekeruhan selama engkau masih hidup di dunia ini,” katanya.


Menurutnya, dunia diciptakan dengan karakter yang bercampur antara kesenangan dan kesulitan, ketenangan dan kegelisahan. Ia mengibaratkan dunia seperti air yang keruh karena bercampur pasir atau lumpur.


Selama manusia masih hidup di dunia, lanjutnya, kesulitan dan gangguan merupakan bagian dari sifat alaminya. Jika menginginkan kehidupan tanpa kekeruhan, tempatnya bukan di dunia, melainkan di akhirat.


Di surga tidak ada keletihan, kegelisahan, maupun kesusahan. Sementara dunia diciptakan sebagai ruang ujian dan cobaan. Karena itu, manusia dituntut untuk tetap istiqamah menuju Allah dan tidak terperdaya oleh berbagai kekeruhan kehidupan.