Gus Mus saat mengampu pengajian Ramadhan di Pesantren Roudlatut Thalibin, disiarkan melalui Kanal Youtube NU Online. (Foto: tangkapan layar)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan umat Islam agar tidak menuntut Allah mengubah keadaan hidup demi memenuhi keinginan pribadi.
Gus Mus menjelaskan, Allah memberi sesuatu kepada manusia sesuai dengan kehendak-Nya, bukan berdasarkan kehendak makhluk. Sikap menuntut agar keinginan segera dikabulkan, bahkan memaksa perubahan keadaan, merupakan tindakan yang tidak bijak.
Ia menegaskan, termasuk bentuk “menuntut” adalah meminta agar dipindahkan dari satu kondisi ke kondisi lain dengan alasan supaya bisa lebih giat beramal.
Gus Mus menuturkan, kualitas ibadah tidak bergantung pada perubahan situasi hidup. Allah Mahakuasa menjadikan seorang hamba tetap rajin beribadah dalam kondisi apa pun, tanpa harus mengubah keadaannya terlebih dahulu.
“Misalnya seseorang berdoa, ‘Ya Allah, keluarkan aku dari kondisi ini supaya aku bisa lebih khusyuk, lebih rajin, lebih kuat beribadah.’ Tidak perlu menuntut demikian. Jika Allah menghendaki, Dia mampu menjadikanmu beramal tanpa harus mengubah keadaanmu,” ujarnya dalam Pengajian Ramadhan yang ditayangkan melalui akun Youtube NU Online, diakses Selasa (24/2/2026).
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menegaskan, Allah dapat menjadikan seseorang tetap taat, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Karena itu, perubahan situasi tidak semestinya dijadikan syarat untuk memperbaiki kualitas ibadah.
Menuntut bisa bermakna “menuduh”
Lebih jauh, Gus Mus menjelaskan bahwa dalam perspektif tasawuf, sikap menuntut kepada Allah dapat dimaknai seolah-olah menuduh Allah.
“Seakan-akan seseorang berkata, ‘Ya Allah, aku susah begini.’ Padahal Allah sudah mengetahui keadaan hamba-Nya,” tuturnya dalam pengajian yang mengulas Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah.
Ia menerangkan, ketika seseorang meminta dengan nada seakan-akan Allah tidak mengetahui kebutuhannya, hal itu dapat dipahami sebagai bentuk prasangka kepada-Nya. Padahal, Allah-lah yang menetapkan seseorang berada dalam kondisi miskin atau kaya, lapang atau sempit.
Dalam maqam spiritual yang tinggi, lanjutnya, seorang hamba dituntut memiliki totalitas pasrah, ridha, dan husnuzan kepada Allah dalam segala keadaan. Mengadukan ketetapan Allah kepada Allah sendiri, dalam sudut pandang ini, menunjukkan belum sepenuhnya memahami kebijaksanaan-Nya.
“Jika engkau meminta kepada Allah, itu seakan-akan bentuk ‘menggunjing’ kepada-Nya. Seolah-olah engkau membicarakan Allah dan mempersoalkan keputusan-Nya,” ungkapnya.
Tanda jauh dari Allah
Gus Mus juga mengingatkan bahaya menggantungkan harapan kepada selain Allah. Menurutnya, ketika seseorang lebih memilih meminta kepada manusia dibanding kepada Allah, hal itu menunjukkan jauhnya kedekatan batin dengan Sang Pencipta.
“Jika seseorang meminta kepada selain Allah, itu menunjukkan ia merasa lebih dekat kepada selain Allah tersebut daripada kepada Allah sendiri. Ia merasa lebih dekat kepada atasannya, misalnya, daripada kepada Allah,” katanya.
Ia menambahkan, jika seorang hamba benar-benar merasa dekat kepada Allah maka tentu ia akan menggantungkan seluruh harapan hanya kepada-Nya.
Pesan tersebut, menurut Gus Mus, merupakan ajaran tasawuf yang mendalam. Intinya, seorang hamba hendaknya memperkuat kepercayaan penuh kepada Allah, berbaik sangka atas segala ketetapan-Nya, serta tetap beramal dalam kondisi apa pun tanpa menunggu perubahan keadaan.