Nasional

Gus Mus: Pesantren Bukan Sekadar Tempat Transfer Ilmu, tapi Pendidikan Karakter

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 21:20 WIB

Gus Mus: Pesantren Bukan Sekadar Tempat Transfer Ilmu, tapi Pendidikan Karakter

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri  (Gus Mus) di Pondok Pesantren An-Najiyah 1 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026). (Foto: RMI PBNU)

Jombang, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri  (Gus Mus) menegaskan bahwa pesantren pada hakikatnya merupakan lembaga pendidikan, bukan sekadar tempat pengajaran.


Hal itu disampaikan saat menghadiri Halaqah Pengurus Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) se-Indonesia, di Pondok Pesantren An-Najiyah 1 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026).


Menurut Gus Mus, pengajaran hanya berfokus pada proses penyampaian atau pemindahan informasi dari guru kepada murid. Seseorang yang mendapatkan pengajaran tentang Al-Qur'an, fikih, atau hadist akan mengetahui berbagai informasi. Namun, pengetahuan itu belum tentu tercermin dalam perilakunya.


“Pengajaran jangan sekadar memindahkan informasi, tapi perilaku juga harus mencerminkan Al-Qur'an," ujarnya.


Pendidikan di pesantren memiliki tujuan yang lebih luas, yakni membentuk karakter dan memastikan ilmu yang dipelajari tercermin dalam kehidupan sehari-hari.


“Pendidikan yang sejati itu ada pada keselarasan antara ucapan dan perbuatan, antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan,” tegasnya.


Lebih lanjut, Gus Mus berharap RMI sebagai wadah pesantren nahdliyin harus senantiasa menjaga esensi pesantren sebagai lembaga tarbiyah. Ia menilai figur kiai dan nyai memiliki posisi penting dalam membentuk karakter santri. Maka dari itu, RMI perlu memperbanyak ruang pertemuan antarpengasuh supaya terjalin ikatan kuat antarpesantren.


“RMI harus sering mempertemukan para pengasuh pesantren agar terjalin tabithah ma'ahid yang sebenarnya,” tuturnya.


Menurut Gus Mus, pertemuan antarpengasuh bukan berarti menyeragamkan seluruh metode pendidikan pesantren. Setiap pesantren tetap memiliki kekhasan dan cara masing-masing dalam mendidik santri. Akan tetapi, perbedaan metode tersebut perlu berada dalam satu kesatuan nilai, ideologi, tujuan dan keyakinan.


“Dengan itu ada kesatuan ideologi, tujuan, dan keyakinan di antara santri-santrinya, meskipun metode dan cara pengajarannya bisa berbeda-beda,” jelasnya.


Gus Mus mengingatkan bahwa pada masa lalu kiai memiliki peran yang sangat luas di tengah masyarakat. Kiai tidak hanya menjadi pengajar agama, tetapi juga tempat masyarakat berkonsultasi mengenai berbagai persoalan kehidupan, mulai dari urusan keluarga, spiritual, hingga persoalan pertanian.


“Dulu kiai merangkul seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kiai menjadi pengajar, pembimbing sampai tempat berkonsultasi mengenai masalah pertanian,” pungkasnya.


Kontributor: Septy Aisah