Nasional

Gus Mus soal Adab Penguasa: Harus Rendah Hati kepada Rakyatnya

Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:00 WIB

Gus Mus soal Adab Penguasa: Harus Rendah Hati kepada Rakyatnya

Mustasyar PBNU, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) saat ngaji Kitab Riyadhus Shalihin. (Foto: Youtube Gus Mus Channel)

Rembang, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menegaskan bahwa pemimpin, pejabat, atau penguasa harus memiliki sikap lemah lembut, belas kasihan, dan rendah hati kepada rakyatnya. 


"Adabnya pemimpin itu harus rendah hati kepada yang dipimpin," katanya saat ngaji Kitab Riyadhus Shalihin dikutip dari Gus Mus Channel Sabtu (23/5/2026). 


Menurut Gus Mus, sikap tersebut adalah perintah Allah langsung kepada Nabi Muhammad, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an pada surat Asy-Syu'ara' ayat 215:


وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَۚ ۝٢١٥


Artinya, "Rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang Mukmin".


"Kanjeng Nabi itu apa yang didawuhkan Gusti Allah ya dilaksanakan. Kanjeng Nabi yang dengan pengikutnya sangat rendah hati. Kalau keluar dengan sahabat, sahabat yang disuruh di depan. Kalau sekarang kan gak mau didahului," ucapnya.


Para pemimpin hendaknya menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan sepanjang zaman. Dia pemimpin yang senantiasa menghargai rakyatnya, tidak pernah berbesar kepala, justru selalu rendah hati di hadapan rakyatnya. Inilah sosok pemimpin yang selalu dirindukan rakyat, tapi hari-hari ini susah untuk ditemui. 


"Biasanya tidak sekarang, pemimpin merendahkan yang dipimpin, tidak merendahkan hati kepada yang dipimpin. Karenanya sampai sekarang sulit meniru Nabi Muhammad," ujarnya.


Rendah hati kepada rakyatnya tidak mengurangi sedikitpun kewibawaan seorang pemimpin. Justru dengan hal itu, rakyat mencintainya dengan tulus. Kebijakan-kebijakannya akan selalu didengar dan dilaksanakan dengan senang hati, bukan karena terpaksa atau dipaksa.


"Kalau pemimpin bisa meniru Kanjeng Nabi pasti rakyatnya sangat mencintainya. Tidak perlu disentak-sentak, bakal nurut semua, tidak perlu disuruh bakal bayar pajak semua kalau rendah hati sama rakyatnya," jelasnya.


Gus Mus juga menyoroti orang-orang kepercayaan pejabat (pemimpin) yang justru kadang menimbulkan perdebatan di tengah rakyatnya sendiri. Pasalnya, mereka yang sebenarnya banyak berperan atas gerak-gerik atasannya. Ini menurut Gus Mus bisa menjadi bias dan membuat jarak yang makin jauh di antara pejabat dan rakyatnya sendiri jika sengaja tidak diberikan informasi yang utuh dan benar.


"Tangan kanannya itu yang kadang membuat pimpinan atau pejabat besar kepala. Mau mampir ke desa atau hendak berkunjung ke desa, tangan kanannya lalu bilang, "gak usah pak", gak penting ini, terus gak jadi. Mau meninjau rakyatnya sendiri, pimpinannya mungkin kepingin, tapi tangan kanannya itu," tuturnya.


Pemimpin harus adil dan punya sifat ihsan. Jika sudah tidak bisa adil, sudah barang tentu tidak akan bisa berperilaku baik kepada rakyatnya. 


"Ihsan itu di atas adil. Kalau kamu tidak bisa adil, apalagi dengan ihsan, tambah gak bisa. Tatarannya adil dulu baru kamu bisa ihsan. Makanya ayatnya itu adil didahulukan, innallaha yakmuru biladli wal ihsan," tegasnya.


Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah ini mengingatkan bahwa semua pemimpin akan dimintai pertanggungannya kelak. 


"Al-Imam, pemerintah, presiden, gubernur, bupati, camat, lurah itu bertanggung jawab atas rakyatnya. Jangan enak-enak kepingin dipilih, pas dipilih terus lupa dengan rakyatnya, celaka itu. Nanti dimintai pertanggung jawaban," jelasnya.