Nasional

Gus Salam Maju Calon Ketua Umum PBNU, Usung Rekonsiliasi Organisasi

Senin, 27 Juli 2026 | 06:30 WIB

Gus Salam Maju Calon Ketua Umum PBNU, Usung Rekonsiliasi Organisasi

KH Abdussalam Shohib (Gus Salam). (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), menyatakan maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-35 NU.


Keputusan tersebut diambil setelah mendapat dawuh dari sesepuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Nurul Huda Djazuli, serta dukungan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama.


"Sebetulnya sejak Muktamar di Lampung beberapa teman mendorong kami, tetapi kami merasa belum memiliki kemampuan untuk berkhidmah sebagai ketua umum. Kebetulan juga ada kiai kami yang mendawuhi untuk membantu Gus Yahya. Saya berpandangan bahwa berkhidmah di pesantren juga merupakan bagian dari khidmah di NU karena NU lahir dari pesantren," tutur Gus Salam kepada NU Online.


Namun, seiring munculnya dinamika di tubuh PBNU yang dinilainya perlu mendapat perhatian, sejumlah rekan dan putra kiai kembali mendorongnya untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.


"'Sudahlah, sampeyan coba.' Saat itu saya masih memikirkan berbagai konsekuensinya. Ketika ada pertemuan alumni Ploso di Malang, KH Nurul Huda Djazuli hadir dan berdiskusi mengenai situasi NU. Beliau kemudian mengatakan, 'Ya sudah, Gus Salam maju sebagai ikhtiar.' Saya memahaminya sebagai ikhtiar agar NU kembali lebih baik," ujarnya.


Gus Salam mengungkapkan, KH Nurul Huda Djazuli kembali menanyakan kesanggupannya. Setelah berdiskusi dengan para putra kiai, ia memutuskan menjalankan amanah tersebut.


"Kami memahami bahwa ikhtiar menuju Muktamar membutuhkan banyak persiapan. Setelah menjajaki berbagai kemungkinan dan merasa ada jalan untuk berikhtiar, kami kembali sowan kepada beliau memohon doa restu agar dapat menjalankan amanah itu seoptimal mungkin," katanya.


Sejak itu, Gus Salam intensif menjalin komunikasi dengan pengurus PWNU, PCNU di berbagai daerah, serta para pengasuh pesantren.


"Kami sowan kepada Kiai Mansur, Kiai Kafabih, Kiai Hanan, Kiai Miftachul Akhyar, Kiai Fuad Sidogiri, Kiai Cholil, dan hampir seluruh kiai di Jawa Timur," ujarnya.


Selain itu, ia juga meminta restu kepada KH Said Aqil Siradj, KH Ma'ruf Amin, serta sejumlah kiai dan sesepuh di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Aceh.


"Karena kami berangkat dari perintah para masyayikh, maka penting bagi kami memperoleh doa restu dari para sesepuh," imbuhnya.


Menurut Gus Salam, dari berbagai silaturahim tersebut muncul dua pesan utama. Pertama, merukunkan kembali seluruh elemen NU yang terlibat dalam dinamika organisasi. Kedua, memastikan tata kelola NU tetap berpijak pada tradisi pesantren sebagai fondasi lahirnya jam'iyah.


"Di setiap silaturahim dengan PCNU dan PWNU, saya selalu membawa semangat merawat persaudaraan dan menghidupkan kembali ruh para pendiri NU. Itu terinspirasi dari pesan para masyayikh," katanya.


Rekonsiliasi Menjadi Prioritas

Gus Salam mengatakan, apabila mendapat amanah memimpin PBNU, langkah pertama yang akan dilakukan ialah membangun rekonsiliasi melalui silaturahim kepada para masyayikh dan seluruh elemen NU, termasuk Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), serta Menteri Agama KH Nasaruddin Umar.


"Sejauh ini, alhamdulillah, tidak ada kendala yang kami temui. Para fungsionaris NU di daerah juga mempersilakan kami bersilaturahim," ujarnya.


Menurutnya, kebersamaan dan kekompakan merupakan modal utama bagi NU untuk menjawab berbagai tantangan pada masa mendatang.


"Sebaik apa pun program yang kita siapkan, sehebat apa pun rencana yang akan kita lakukan, tanpa kebersamaan dan kekompakan, hampir semuanya tidak akan ada gunanya," katanya.


Ia mencontohkan kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dinilainya mampu menjaga eksistensi NU pada masa Orde Baru karena berhasil menyatukan unsur struktural dan kultural organisasi.


"Menurut saya, itulah bentuk rekonsiliasi yang harus kita lakukan. Modal utamanya adalah silaturahim," jelasnya.


Fokus Menjalankan Hasil Muktamar

Terkait program yang akan diusung, Gus Salam menegaskan tugas utama Ketua Umum PBNU ialah melaksanakan seluruh keputusan Muktamar, baik hasil Komisi Organisasi, Komisi Program, maupun berbagai rekomendasi yang dihasilkan.


"Maka tugas pertama PBNU bersama pengurus wilayah dan cabang adalah melaksanakan seluruh hasil Muktamar. Apa yang diputuskan dalam komisi organisasi, program, maupun rekomendasi, itulah yang harus dijalankan," katanya.


KH Abdussalam Shohib merupakan cucu salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama, KH Bisri Syansuri. Ia lahir di Bangkalan, Madura, pada 1977. Ayahnya adalah KH Shohib Bisri.


Pendidikan dasarnya ditempuh di pesantren keluarga hingga jenjang Madrasah Tsanawiyah. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, selama lima tahun. Setelah itu, ia mengabdi di pesantren tersebut selama tiga tahun sebelum menikah dengan putri dari keluarga besar Pesantren Al Falah Ploso.


Karier organisasinya dimulai pada 2002 sebagai pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Kota Kediri. Pada 2009, ia bergabung dengan LBMNU Jombang, kemudian dipercaya menjadi anggota Syuriyah PCNU Jombang pada 2012.


Di tingkat nasional, pada 2015 ia dipercaya menjadi Katib PBNU pada periode kedua kepemimpinan KH Said Aqil Siradj. Tiga tahun kemudian, ia menjabat Wakil Ketua PWNU Jawa Timur. Pada kepengurusan PBNU masa khidmah 2022–2027, Gus Salam sempat menjabat Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU sebelum mengundurkan diri.


Selain Gus Salam, sejumlah nama juga disebut dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU, antara lain Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi, serta Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).


NU Online akan menyajikan profil tokoh-tokoh lain yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada laporan terpisah.