Nasional

Gus Ulil Tekankan Pentingnya Adaptasi dan Pembelajar Sepanjang Hayat

Selasa, 3 Maret 2026 | 09:00 WIB

Gus Ulil Tekankan Pentingnya Adaptasi dan Pembelajar Sepanjang Hayat

Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) menyampaikan materi dalam Muskerwil ke-5 PWNU DKI Jakarta di Kinasih Resort Conference, Bogor, Ahad (9/11/2025). (Foto: NU Online Jakarta/Ambar)

Jakarta, NU Online

 

Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dan menjadi pembelajar sepanjang hayat (long-life learner) di tengah percepatan perkembangan teknologi.

 

Dalam arahannya, Gus Ulil mengingatkan bahwa perubahan teknologi bergerak sangat cepat sehingga generasi muda NU tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki saat ini.

 

“Kita hidup di zaman yang berubah sangat cepat. Karena itu, kalian harus menjadi pribadi yang agile, lincah beradaptasi. Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu hari ini. Jadilah pembelajar sepanjang hayat,” tegasnya saat memberikan arahan dalam Seminar 1 Beasiswa STEM untuk Talenta NU (BEST NU), Sabtu (28/2/2026).

 

Menurutnya, penguasaan STEM bukan semata-mata soal kecakapan teknis, tetapi juga soal mentalitas belajar yang terus bertumbuh. Santri dan pelajar NU, kata dia, harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan kesiapan untuk terus memperbarui pengetahuan seiring perkembangan zaman.

 

Seminar ini juga dirancang sebagai ruang membangun jejaring sejak dini. Para peserta diajak untuk berpindah tempat duduk dan berkenalan dengan pelajar dari sekolah lain sebagai latihan membangun networking. Sejumlah peserta bahkan berbagi cita-cita mereka, mulai dari menjadi pengusaha Muslim sukses, diplomat, psikolog, hingga pemimpin masa depan.

 

Direktur NU Scholarship Muhammad Syauqilah menegaskan bahwa pesantren memiliki potensi besar dalam melahirkan talenta unggul di bidang sains dan teknologi.

 

“Pesantren adalah basis kaderisasi NU yang luar biasa. Melalui BEST NU, kami ingin memastikan talenta santri mendapatkan pendampingan yang terstruktur, bukan hanya agar lolos masuk perguruan tinggi, tetapi juga siap menghadapi tantangan akademik di bidang STEM,” ujarnya.

 

Sementara itu, Deputi II BAZNAS RI Imdadun Rahmat menegaskan bahwa dukungan terhadap program ini merupakan bagian dari komitmen pendayagunaan zakat untuk pendidikan yang berdampak jangka panjang.

 

“BAZNAS mendukung penuh program yang mendorong kemandirian dan daya saing generasi muda. Pendidikan STEM adalah investasi masa depan, dan melalui kolaborasi ini kita berharap lahir talenta NU yang mampu berkontribusi secara nyata bagi bangsa,” jelasnya.

 

Seminar ditutup dengan doa bersama serta penguatan semangat melalui yel-yel “Talenta Muda NU: Cerdas, Kompeten, dan Berdaya Saing! Berkhidmat untuk Masa Depan!”. Hal tersebut sebagai simbol komitmen peserta untuk terus belajar, beradaptasi, dan berkontribusi di era transformasi teknologi.

 

Program BEST NU (Beasiswa STEM untuk Talenta NU) merupakan ikhtiar strategis NU Scholarship dalam menyiapkan generasi muda Nahdlatul Ulama yang unggul, kompeten, dan siap bersaing di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Program ini memberikan pendampingan intensif selama enam bulan bagi siswa kelas akhir MA/SMA/SMK sederajat sebagai bekal memasuki perguruan tinggi di bidang STEM.

 

Program BEST NU memberikan manfaat kepada 100 siswa kelas XII yang terpilih melalui proses seleksi ketat yang meliputi seleksi administrasi, tes logika dan minat bakat, serta wawancara untuk mengukur kesiapan dan komitmen peserta. Para penerima manfaat akan mendapatkan tiga kali seminar karir, 42 sesi bimbingan belajar daring, 16 sesi mentoring intensif, serta dua kali try out sebagai persiapan masuk perguruan tinggi.