Gus Yahya Ingatkan Pengurus Tidak Silau dengan Kebesaran NU, Ajak Selalu Introspeksi
Ahad, 16 Agustus 2026 | 12:00 WIB
Ketum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat Sarasehan Nasional Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama di Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (15/8/2026) malam. (Foto: Unwaha Tambakberas)
Jombang, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengingatkan pengurus dan warga NU agar tidak terjebak oleh kebesaran NU. Ia menegaskan pentingnya niat tulus dan introspeksi diri dalam berkhidmah di NU.
Hal tersebut disampaikan Gus Yahya dalam acara Istighotsah dan Bedah Buku KH Abdul Wahab Chasbullah dalam rangka Sarasehan Nasional Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama di Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (15/8/2026) malam.
Dalam arahannya, Gus Yahya meminta setiap individu yang berkhidmah di NU untuk secara berkala bertanya kepada dirinya sendiri, apakah murni demi kemaslahatan organisasi atau untuk kepentingan pribadi.
"Jangan sampai kita terjebak karena silau oleh kebesaran Nahdlatul Ulama," ujar Gus Yahya.
Ia menekankan bahwa ketulusan niat merupakan kunci utama dalam menjaga keberkahan dan keutuhan jam'iyah. Oleh karena itu, introspeksi diri menjadi hal yang mesti terus dilakukan bagi siapa saja yang berada di dalam kepengurusan NU khususnya.
"Kuncinya adalah bahwa siapapun yang berkhidmah di dalam jam’iyah ini harus sungguh-sungguh meneliti di dalam dirinya, dia ini maunya apa? Dia mau mencari sesuatu untuk dirinya sendiri atau dia ingin berkhidmah untuk kemaslahatan jam’iyah," katanya.
Gus Yahya tak menampik bahwa perbedaan pendapat di tubuh pengurus ataupun warga NU tentu tidak bisa dielakkan. Namun, hal itu tidak boleh menggeser niat dan ketulusan dalam berkhidmah di NU.
"Yang harus diteliti pada diri masing-masing apa yang dicari, apa yang diinginkan? Apakah sekadar mengharapkan Alhamdulillah? Ataukah memang sungguh-sungguh di dalam dirinya ada ghirah untuk bertabaruk dengan ikut menyumbang ikhtiar bagi kemaslahatan jamaiyah ini." ungkapnya.
"Karena ini bukan urusan kecil, ini urusan Nahdlatul Ulama," imbuhnya.
Keunikan Inisiasi Peradaban oleh Ulama
Pada kesempatan ini, Gus Yahya juga menguraikan keunikan sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama. Menurutnya, sepanjang sejarah peradaban dunia, gerakan besar umumnya diprakarsai oleh pemimpin politik atau militer.
Ia mencontohkan sejarah Kekhalifahan Islam hingga imperium dunia yang digerakkan oleh tokoh-tokoh militer dan pemimpin politik.
"Sayyidina Muawiyah itu adalah pemimpin politik besar, politisi besar. Kunci kemenangan Sayyidina Muawiyah karena kapasitas politiknya memang luar biasa, sehingga mampu mengalahkan Sayyidina Ali," paparnya.
Gus Yahya menuturkan bahwa pola kepemimpinan militer dan politik tersebut berlanjut pada era dinasti-dinasti setelahnya hingga kerjaan atau di berbagai penjuru dunia.
"Sesudah itu Abbasiyah dipimpin oleh Abul Abbas As-Saffah, pemimpin militer panglima militer. Sesudah itu yang namanya Fatimiyah Solahaudzin Al-Ayubi, Nurudin Zanki siapa lagi atau Muhammad Al Fatih semuanya pemimpin militer atau pemimpin politik," jelasnya.
Namun, fenomena berbeda terjadi di Indonesia ketika KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) bersama para ulama menginisiasi berdirinya Nahdlatul Ulama sebagai bentuk perintisan peradaban baru.
"Mbah Wahab mengajak ulama untuk membuat inisiasi rintisan peradaban ini, Masyaallah. Bukan pemimpin militer. Pemimpin dari mana? Ini anak-anak jajahan. Pasti juga bukan pemimpin politik karena yang menjadi pemimpin politik pada waktu itu bangsanya intelektual-intelektual hasil pendidikan Belanda," tegasnya.
Keunikan sejarah inilah yang menurut Gus Yahya menjadikan Nahdlatul Ulama sebagai entitas organisasi yang tiada duanya di dunia hingga saat ini.
"Maka, ini membuat saya pribadi yakin betul bahwa Nahdlatul Ulama ini memang keramat. Tidak ada yang seperti ini, sampai hari ini sepanjang sejarah, tidak ada fenomena entitas seperti Nahdlatul Ulama ini tidak ada di seluruh dunia sampai hari ini. Nahdlatul Ulama satu-satunya," pungkasnya.