Nasional

Gus Yahya Tegaskan Politik NU Bukan Politik Praktis

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 09:50 WIB

Gus Yahya Tegaskan Politik NU Bukan Politik Praktis

Suasana saat LPJ PBNU Masa Khidmah 2021-2026 pada Muktamar Ke-35 NU di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, Jumat (28/8/2026). (Foto: NU Online/Siti Ratna Sari)

Jombang, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyatakan bahwa NU harus berhubungan dengan politik. Hal tersebut disampaikan saat laporan pertanggungjawaban (LPJ) pada sidang pleno II Muktamar ke-35 NU di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, di Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.


Ia menegaskan, politik NU bukan pada politik praktis atau kekuasaan, tetapi jauh lebih dari itu, yaitu kebangsaan dengan mengedepankan prinsip-prinsip moral dan nilai dasar yang didapatkan dari agama dan akhlak.


“NU menegaskan kembali keputusannya untuk tetap berada di luar politik praktis sesuai Khittah. Hal itu merujuk pada keputusan Muktamar ke-27 tahun 1984 dan Muktamar ke-28 tahun 1989,” kata Gus Yahya pada Jumat (28/8/2026). 


Ia mengatakan jamiyah jelas harus berhubungan dengan politik. Karena punya kepedulian kepada nasib orang banyak, sekurang-kurangnya warga NU sendiri, tentu juga lapisan masyarakat yang lain. Hal itu dapat ditentukan oleh kebijakan-kebijakan politik


“Kedudukan politik warga Nahdliyin berhak untuk dipilih, memilih, serta berhak menduduki jabatan tertentu. Namun harus ada pembedaan antara politik pribadi warga Nahdliyin dengan politik kelembagaan dari jamiyah NU,” katanya.


Selain itu, Gus Yahya menyebut presentase umat Muslim Indonesia yang mengaku berafiliasi dengan NU melonjak drastis, berdasarkan hasil survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI).


“Dari 27% pada tahun 2005 menjadi 56,9% pada tahun 2023 sehingga itu akan menjadi tantangan bagi PBNU,” imbuhnya.


Namun, tantangan PBNU bukan lagi membesarkan jamiyah. NU kini telah menjadi kekuatan global, kehadirannya telah diterima oleh masyarakat internasional. Dari kebesaran itu, NU harus bisa menghasilkan manfaat yang sama dengan ukurannya. Menurutnya, inilah tantangan utama pengurus ke depan. 


“Pertanyaan yang menerpa kami sejak awal sebetulnya bukanlah pertanyaan tentang bagaimana membesarkan NU karena NU sudah besar, NU sudah menjadi raksasa. NU menjadi organisasi Muslim terbesar di dunia, pertanyaannya adalah bagaimana kebesaran NU ini bisa menghasilkan manfaat maslahat yang sepadan dengan ukurannya,” tandasnya.


Kontributor: Siti Ratna Sari