Kemarau Diprediksi Berlangsung hingga November 2026, Ini Imbauan kepada Masyarakat
NU Online · Rabu, 16 September 2026 | 14:00 WIB
Warga Cibarusah Bekasi Jawa Barat mengantre untuk mendapatkan air bersih, Agustus 2026 (Dokumen warga)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia berlangsung hingga November 2026. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar ancaman kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, kebakaran, hingga gangguan terhadap produksi pertanian dan kesehatan masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan, berdasarkan data kekeringan sepanjang 2015 hingga 2025, periode kekeringan dapat berlangsung sejak Mei hingga November bahkan Desember.
Menurutnya, kekeringan memiliki tren yang cukup panjang dengan sejumlah periode puncak yang berbeda setiap tahunnya.
“Jadi, bencana yang kekeringan ini menunjukkan tren yang cukup panjang dengan rentan waktu atau tahun mulai dari Mei sampai November bahkan Desember. Beberapa puncaknya ada di bulan Juli, Agustus, September,” katanya dalam konferensi pers yang dilakukan secara daring pada Selasa (15/9/2026).
Dia menyampaikan bahwa kekeringan dalam jangka waktu panjang, umumnya akibat curah hujan yang rendah atau tidak merata. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dapat mengancam sektor pertanian dan ketahanan pangan.
“Bencana yang diakibatkan berkurangnya ketersediaan air dalam jangka waktu yang panjang umumnya karena curah hujan yang rendah atau tidak merata. Jadi ini perlu disikapi dengan bijak oleh semua warga negara,” tuturnya.
Berton menambahkan, kekeringan dapat mengganggu produksi pertanian, menurunkan ketersediaan air bersih, meningkatkan risiko kebakaran, serta menimbulkan ancaman terhadap ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.
Berton mengatakan terdapat sepuluh kabupaten/kota dengan tingkat kekeringan tertinggi tahun ini didominasi wilayah Jawa dan Nusa Tenggara, yakni Bima, Bogor, Parigi Moutong, Subang, Bekasi, Bandung Barat, Pangandaran, Demak, Semarang, dan Pekalongan.
Selain itu, kekeringan juga ditemukan di sejumlah wilayah Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, Sumatera, hingga Bangka Belitung. Dalam 20 hari terakhir, kekeringan tercatat antara lain di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Papua bagian Merauke, Sumatera bagian selatan, dan Bangka Belitung.
Berton mengatakan bahwa perlu meningkatkan upaya mitigasi melalui optimalisasi cadangan air, operasi modifikasi cuaca (OMC), pengisian embung, danau, waduk, serta penampungan air lainnya. Penguatan kapasitas daerah juga dilakukan melalui dukungan sarana dan prasarana.
“Fokus kami adalah pembangunan sumur dalam dan BNPB sudah melakukan beberapa pembangunan sumur dalam,” ucapnya.
Dia juga mengimbau masyarakat menjaga sumber mata air dan menggunakan air secara bijak, terutama untuk kebutuhan esensial seperti air bersih, memasak, dan sanitasi.
“Mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga sumber air mata air kita, menggunakan dengan bijak sumber mata air, kurangi pemakaian air yang berlebihan dan matikan keran air jika tidak diperlukan,” pungkasnya.
Bantuan NU
Sejumlah lembaga dan badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) terus menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan.
Berdasarkan penelusuran dan pemberitaan NU Online, di Cilacap, NU Peduli menyalurkan 432.000 liter atau 54 tangki air kepada 5.320 penerima di 28 desa dan 10 kecamatan. Sementara NU Peduli Pemalang mendistribusikan 280.000 liter air bersih sepanjang 19 Juli hingga 3 September 2026.
Di Bantul, PAC GP Ansor Pundong menyalurkan 25 tangki air bersih kepada warga Dermojurang, Seloharjo, Pundong, dalam tiga gelombang. Adapun NU Care-LAZISNU DIY menyalurkan 30.000 liter air kepada warga Saptosari, Gunung Kidul. Total bantuan yang tercatat mencapai 742.000 liter, belum termasuk Bantul.
Terpopuler
1
Menkeu Suahasil: Keuangan Negara Harus Bisa Jalankan Program Prioritas Pemerintah
2
137 Mahasantri Ma'had Aly Lolos Seleksi Administrasi Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35 NU
3
Prabowo Bicara Ketahanan di BRICS, Rakyat Indonesia Masih Menghirup Asap Karhutla
4
Menteri Agama Lantik Basnang Said Jadi Dirjen Pesantren Pertama
5
Di KTT BRICS, Prabowo Dorong Global South Bersatu
6
Data Antrean Haji Dibersihkan, Masa Tunggu Faktual Diperkirakan 14-15 Tahun
Terkini
Lihat Semua