Nasional

Harga Plastik Melonjak, UMKM Tertekan, Keuntungan Penjualan Menipis

Selasa, 7 April 2026 | 12:30 WIB

Harga Plastik Melonjak, UMKM Tertekan, Keuntungan Penjualan Menipis

Ilustrasi: toples plastik untuk produk UMKM. (Foto: dok Rohmah)

Batang, NU Online

Kenaikan harga plastik dan bahan pokok dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya biaya produksi dan menipisnya margin keuntungan.


Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak tersebut adalah Rohmah, pemilik usaha Rohmah Snack di Desa Depok, Dukuh Sibango, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ia mengungkapkan, kenaikan harga mulai terasa signifikan sejak sepuluh hari menjelang awal puasa, tepatnya pada 13 Maret 2026.


Menurutnya, lonjakan harga tidak hanya terjadi pada bahan baku utama, tetapi juga pada kemasan plastik yang menjadi kebutuhan penting dalam usaha makanan ringan. Beberapa jenis kemasan bahkan mengalami kenaikan cukup tinggi.


“Plastik tepak naik sekitar 40 persen, plastik PE tebal juga naik hingga 45 persen, dari semula Rp38 ribu menjadi Rp55 ribu per pak. Kemasan plastik cup merek tertentu yang sebelumnya sekitar Rp210 ribu per karton kini mencapai Rp470 ribu,” ujar Rohmah kepada NU Online, Senin (6/4/2026).


Selain plastik, harga kemasan lain seperti toples juga mengalami kenaikan, dari Rp6 ribu menjadi Rp7.500 per unit. Kenaikan ini membuat biaya produksi meningkat cukup signifikan.


Ia juga menyebut komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih mengalami kenaikan cukup tinggi, bahkan hingga 54 persen.


Rohmah merinci, harga cabai merah yang sebelumnya Rp18 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp35 ribu di tingkat grosir, bahkan mencapai Rp50 ribu di tingkat eceran. Cabai rawit melonjak hingga Rp80 ribu per kilogram. Sementara itu, bawang merah naik dari Rp20 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram, dan bawang putih dari Rp30 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.


Tak hanya bahan baku, kenaikan juga terjadi pada minyak goreng dan kemasan. Harga minyak goreng merek Sunco ukuran 2 liter yang sebelumnya Rp40-41 ribu kini menjadi Rp47 ribu.


Kondisi semakin berat dengan melonjaknya harga berbagai jenis kemasan. Plastik kantong naik sekitar Rp2 ribu per pak, plastik tepak naik dari Rp28 ribu menjadi Rp39-42 ribu, dan plastik PE tebal meningkat hingga 40-45 persen dari Rp38 ribu menjadi Rp55 ribu per pak.


Meski demikian, Rohmah mengaku tidak dapat menaikkan harga jual secara signifikan. Ia memilih menekan margin keuntungan demi mempertahankan pelanggan.


“Kami hanya menaikkan harga sekitar Rp1.000 sampai Rp2.000 per produk. Biaya produksi naik, tetapi kami khawatir pelanggan berkurang jika harga dinaikkan terlalu tinggi. Kami memilih margin keuntungan lebih sedikit demi menjaga konsumen tetap berlangganan,” katanya.


Ia menambahkan, sebelum Lebaran jumlah pembeli masih relatif stabil. Namun, setelah Lebaran, saat harga bahan dan kemasan terus meningkat, permintaan mulai menurun.


Untuk menyiasati kondisi tersebut, Rohmah kini lebih selektif dalam produksi dengan hanya membuat produk sesuai pesanan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko kerugian akibat barang yang tidak terjual.


“Keuntungan jelas menurun karena biaya produksi naik, sementara harga jual tidak bisa mengikuti,” jelasnya.


Rohmah berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga bahan pokok dan kemasan, serta memastikan distribusi berjalan lancar agar tidak terjadi kelangkaan di pasaran.


Ia menilai, kenaikan harga saat ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca yang memengaruhi hasil panen hingga situasi global yang berdampak pada harga minyak dan bahan baku plastik.


“Karena plastik berasal dari minyak, harganya ikut naik. Dampaknya sangat terasa bagi UMKM seperti kami,” pungkasnya.