Nasional

Harlah Ke-74, Pergunu Desak Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Guru yang Lebih Adil dan Merata

Selasa, 31 Maret 2026 | 14:30 WIB

Harlah Ke-74, Pergunu Desak Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan Guru yang Lebih Adil dan Merata

Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu). (Foto: dok NU Online)

Jakarta, NU Online

Badan otonom Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), pada Selasa (31/3/2026) memperingati hari lahir (harlah) yang ke-74 tahun. Peringatan tahun ini mengusung tema Guru Unggul, Pendidikan Bermutu, Indonesia Maju.


Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintah agar tidak lagi menempatkan isu kesejahteraan guru sebagai agenda pinggiran.


Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Pergunu, Aris Adi Leksono, mengatakan masih banyak guru, khususnya di sektor swasta dan honorer, yang belum memperoleh kesejahteraan layak.


“Kondisi ini merupakan bentuk ketimpangan yang tidak boleh terus dibiarkan. Guru adalah penopang utama lahirnya generasi unggul. Jika kesejahteraan guru diabaikan, maka negara sedang mempertaruhkan masa depan Indonesia,” ujar Aris kepada NU Online.


Pergunu mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret dan terukur. Pertama, meningkatkan kesejahteraan guru secara signifikan melalui perbaikan penghasilan, tunjangan, serta jaminan sosial yang adil dan merata.


Kedua, membuka akses seluas-luasnya bagi guru swasta untuk menjadi ASN maupun PPPK tanpa diskriminasi, dengan mekanisme yang transparan dan berkeadilan.


Ketiga, memperkuat program peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan agar selaras dengan tantangan pendidikan masa depan.


“Kesejahteraan dan kompetensi guru adalah dua sisi yang tidak terpisahkan. Tanpa dukungan negara yang kuat, sulit mewujudkan sistem pendidikan yang bermutu dan berdaya saing global,” tutur Aris, yang juga komisioner KPAI.


Ia menambahkan, pada usia ke-74 tahun, Pergunu tidak hanya hadir sebagai wadah profesi, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan pendidikan.


Berbagai program telah dijalankan, mulai dari pemberian beasiswa bagi guru dan keluarga, pelatihan peningkatan kompetensi, gerakan teacherpreneur untuk mendorong kemandirian ekonomi, hingga advokasi perlindungan guru. Namun, Pergunu menilai upaya tersebut tidak akan optimal tanpa dukungan penuh dari negara.


“Sudah saatnya negara hadir lebih kuat. Jangan biarkan guru berjuang sendiri. Jika Indonesia ingin maju, maka menyejahterakan guru bukan pilihan, melainkan keharusan,” tegasnya.


Pergunu berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan pendidikan nasional agar berpihak pada guru, sekaligus memperkuat kontribusi dalam membangun sistem pendidikan yang maju, unggul, dan bermutu sebagai fondasi terwujudnya Indonesia yang adil dan makmur.


Momentum harlah ke-74 ini menjadi pengingat bahwa investasi terbesar bangsa terletak pada guru. Tanpa keberpihakan nyata, cita-cita kemerdekaan hanya akan menjadi slogan. “Guru Sejahtera, Indonesia Maju,” pungkas Aris.