Nasional

Ie Bu Blang Dalam, Tradisi Sedekah Ramadhan yang Terjaga di Pidie Jaya

Selasa, 3 Maret 2026 | 15:00 WIB

Ie Bu Blang Dalam, Tradisi Sedekah Ramadhan yang Terjaga di Pidie Jaya

Aroma Ie Bu (bubur kanji) yang mengepul dari halaman meunasah. Tradisi ini diwariskan turun-temurun sebagai bentuk sedekah kolektif masyarakat di bulan suci di Pidie Jaya, Aceh. (Foto: dok Helmi Abu Bakar)

Pidie Jaya, NU Online

Ramadhan di Gampong Blang Dalam, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, yang dikenal sebagai Negeri Japakeh, selalu identik dengan aroma Ie Bu (bubur kanji) yang mengepul dari halaman meunasah. Tradisi ini diwariskan turun-temurun sebagai bentuk sedekah kolektif masyarakat di bulan suci.


Keuchik Blang Dalam, Mukhtar, menegaskan bahwa memasak Ie Bu bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan warisan adat yang sarat nilai kebersamaan.


“Tradisi ini sudah ada sejak lama. Setiap Ramadhan, masyarakat menyumbang sesuai kemampuan, baik beras, kelapa, uang, maupun bahan lainnya. Semua untuk kepentingan bersama,” ujarnya.


Setiap hari selama Ramadhan, proses memasak dimulai sekitar pukul 13.30 WIB. Di dapur terbuka meunasah, belanga besar diletakkan di atas tungku kayu bakar. Beras yang telah direndam dimasukkan bersama santan dan air, lalu diaduk perlahan selama dua hingga tiga jam hingga teksturnya lembut.


Sosok yang hampir selalu berada di balik belanga besar itu adalah Tgk Heri. Ia dipercaya sebagai petugas utama yang memasak kanji di Blang Dalam.


Menurutnya, kunci cita rasa Ie Bu terletak pada kesabaran dan komposisi bumbu. Untuk jenis ie bu leumak atau kanji rempah, digunakan bawang merah, serai, jahe, kulit manis, cengkih, daun teumeurui (kari), serta santan kental dari kelapa pilihan.


“Kalau apinya terlalu besar, bisa hangus di bawah. Harus sabar mengaduknya. Ini bukan cuma soal memasak, tapi juga soal niat,” katanya.


Menjelang pukul 16.30 WIB, anak-anak mulai berdatangan ke meunasah dengan membawa wadah masing-masing. Suasana menjadi riuh penuh canda. Bubur yang telah matang dibagikan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang datang, baik warga setempat maupun musafir.


Imum Gampong Blang Dalam, Tgk Junaidi, menjelaskan bahwa Ie Bu merupakan simbol sedekah masyarakat untuk masyarakat.


“Ini sudah menjadi adat. Ie Bu dimasak dari hasil sedekah warga dan dibagikan kembali kepada warga. Tidak ada pungutan. Semua dilakukan dengan ikhlas karena Allah,” ujarnya.


Ia menekankan bahwa biaya memasak tidak boleh diambil dari pos zakat, melainkan murni dari sedekah atau kesepakatan warga melalui musyawarah gampong, agar tetap sesuai dengan syariat.


Bagi masyarakat Blang Dalam Negeri Japakeh, Ie Bu memiliki fungsi ganda. Pertama, sebagai hidangan berbuka puasa yang menghangatkan tubuh. Kedua, sebagai pelengkap buka puasa bagi jamaah yang berbuka di meunasah sebelum melaksanakan shalat Maghrib berjamaah.


Lebih dari sekadar makanan, tradisi ini memperkuat peran meunasah sebagai pusat aktivitas Ramadhan. Selain memasak Ie Bu, masyarakat juga menggelar tadarus Al-Qur’an, buka puasa bersama, hingga pembayaran zakat fitrah di tempat yang sama.


Mukhtar berharap generasi muda terus menjaga warisan ini. “Selama masih ada kebersamaan dan semangat berbagi, tradisi Ie Bu akan tetap hidup di Negeri Japakeh,” katanya.


Di Blang Dalam, Ie Bu bukan sekadar bubur kanji. Ia menjadi simbol gotong royong, syiar Ramadhan, sekaligus warisan budaya Pidie Jaya yang dijaga dengan penuh cinta dan keikhlasan.