Ikhtiar Nabi Muhammad dan Nabi Yusuf Menghadapi Musim Kemarau
Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:00 WIB
Jakarta, NU Online
Musim kemarau panjang kerap membawa tantangan berupa kesulitan air bersih, kekeringan hingga lahan dan pertanian gagal panen. Seperti halnya terjadi di Makkah, yang pernah dilanda kering kerontang selama berbulan-bulan. Peristiwa tersebut terjadi ketika Nabi Muhammad masih kecil.
Dalam kondisi seperti itu, para pemuka Quraisy berembuk mencari solusi atas situasi yang mereka alami. Mereka memutuskan untuk sowan kepada Abu Thalib, paman Muhammad untuk konsultasi perkara dan meminta doa.
Abu Thalib kemudian memenuhi permintaan itu dengan mengajak Nabi Muhammad ke sekitar Ka’bah. Di sana, ia menempelkan punggung Nabi Muhammad ke dinding bangunan yang tampak berbentuk kubus itu sembari memegang kedua tangannya. Walhasil, langit kemudian menurunkan air dengan deras.
Kondisi demikian digambarkan Ibnu Asakir di dalam bukunya Tarikh Madinah Dimasyqi dan Shafiyurrahman Mubarakfuri dalam Rahiqul Makhtum miliknya. Menurut penulis keislaman NU Online, Zainuddin Lubis, kisah tersebut mengandung pesan untuk memohon perlindungan kepada Allah.
“Kisah ini juga mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt, terutama ketika kita ditimpa musibah,” tulis Zain dalam artikelnya, Kisah Rasulullah Meminta Hujan saat Kemarau Panjang dikutip Sabtu (25/7/2026).
Ia mengemukakan bahwa fenomena kemarau juga pernah terjadi kembali di Mekkah ketika Muhammad telah diangkat menjadi Rasulullah. Masyarakat Mekkah yang mengalami kesulitan menemui dan mengadu kepadanya. Rasulullah kemudian menengadahkan tangan, berdoa. Kisah ini dituturkan di dalam buku Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir.
“Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya dan berkata, ‘Ya Allah, turunkan hujan untuk kami, ya Allah, turunkan hujan untuk kami, ya Allah, turunkan hujan untuk kami’,” lanjut Zain mengutip penggalan kisah yang diriwayatkan Imam Bukhari.
Jauh sebelum itu, dikisahkan bahwa Nabi Yusuf menyarankan agar para raja dan pemangku negara untuk memanfaatkan situasi masa subur. Masukan ini dalam rangka menghadapi krisis yang akan terjadi akibat kemarau panjang.
“Pada waktu itu ternak habis musnah, tanaman-tanaman tidak berbuah, udara panas, dan kemarau panjang. Sumber-sumber air menjadi kering dan rakyat menderita kekurangan makanan. Semua simpanan makanan akan habis, kecuali tinggal sedikit untuk dijadikan benih,” tulis Muhamad Hanif Rahman di dalam Kemarau Panjang di Mesir: Mimpi Raja dan Tawil Nabi Yusuf.
Setelah masa itu, lanjut Hanif, Nabi Yusuf memprediksi seluruh negeri akan memasuki hidup yang makmur dan sejahtera jika saran yang diajukannya dipenuhi. Menanggapi kisah ini, Wahbah Zuhaili berkomentar bahwa ta’wil yang dikatakan Nabi Yusuf bersumber langsung dari Allah.
“Mengabarkan perkara-perkara ghaib yang akan terjadi mendatang sumbernya adalah wahyu dan ilham dari Allah, bukan hanya penjelasan atau ta'bir mimpi saja,” jelas Wahbah, diterjemahkan Hanif.
Diketahui, kisah bermula dari mimpi raja Mesir bernama ar-Rayyan bin al-Walid yang diabadikan di dalam al-Quran surat Yusuf ayat 43-49. Dengan kecerdasan dan kejernihan hati Nabi Yusuf menakwilkan mimpi tersebut, Mesir dapat melewati tantangan akibat musim kemarau panjang itu.