Nasional

Indonesia Darurat Sampah Pangan, Prof Quraish Ingatkan Jangan Makan yang Berlebihan

Rabu, 18 Maret 2026 | 18:45 WIB

Indonesia Darurat Sampah Pangan, Prof Quraish Ingatkan Jangan Makan yang Berlebihan

Prof Quraish Shihab. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, NU Online

Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasinal (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat pada 2025, sampah di seluruh Indonesia berjumlah 25.842.813,63 ton, sedangkan sampah yang terkelola hanya 8.930.959,28 ton atau 34,5 persen saja. Indonesia menempati urutan kedua sebagai penyumbang sampah makanan (food waste) terbesar di dunia.


Pakar Tafsir Prof M Quraish Shihab mengingatkan agar tidak makan berlebihan, sebab dalam Al-Qur’an, yang berlebihan termasuk sikap boros (israf).


Hal tersebut ia sampaikan dalam Pengajian Ramadan Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk Halal Saja, Tidak Cukup yang tayang di kanal Youtube Quraish Shihab, diakses Rabu (18/3/2026).


Ia menyayangkan kebiasaan masyarakat, terutama pada momen tertentu seperti bulan Ramadhan, yang sering kali menghidangkan makanan jauh melampaui kapasitas perut.


“Makan minumlah, tetapi jangan boros. Boros itu bisa berarti memasak berlebih dari kebutuhan, atau makan lebih dari kebutuhan. Kita sering lupa bahwa makan melebihi kebutuhan itu tidak proporsional,” ujarnya.


Prof Quraish menjelaskan bahwa konsep thayyib sangat berkaitan dengan kondisi personal seseorang. Sesuatu yang halal bisa menjadi tidak baik jika dikonsumsi secara berlebihan atau tidak tepat sasaran.


Ia mencontohkan bahwa gula adalah halal, namun bagi penderita diabetes, mengonsumsi gula berlebih menjadi tidak thayyib karena merusak kesehatan.


“Makan itu mestinya melahirkan aktivitas positif. Dalam konteks itulah, maka dikatakannya ia harus halal dan thayyib. Karena ada makanan yang halal secara hukum, tetapi tidak thayyib karena tidak melahirkan aktivitas baik atau tidak sesuai kebutuhan tubuh,” katanya.


Prof Quraish juga menjabarkan filosofi orang tua zaman dahulu yang mengajarkan anak-anak agar tidak menyisakan nasi, dengan ungkapan bahwa butiran nasi tersebut bisa menangis.


“Nenek Kakek itu selalu bilang begini, ‘itu masih ada beberapa butir beras, kalau tidak dimakan Nangis tuh dia’. Nenek Kakek atau orang tua itu ingin makan dan minum jangan ambil terlalu banyak, ambil dahulu sedikit. Itu adab makan dalam agama,” ucapnya.


Ia menyampaikan bahwa pendidikan adab dalam makanan merupakan bentuk menghargai rezeki yang ada. Dalam agama Islam juga diajarkan untuk berbagi makanan kepada yang membutuhkan.


“Ingat, ada orang yang tidak punya makan, kasihan mereka. Karena itu, dalam konteks agama, jangan segan bersedekah walau hanya sepotong kurma. Kirimkan kepada tetangga yang boleh jadi tidak memilikinya,” pungkas Prof Quraish.