Nasional

Jejak Ulama Lasem, Peninggalan KH Abdul Halim Dirawat di Museum Nusantara

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:00 WIB

Jejak Ulama Lasem, Peninggalan KH Abdul Halim Dirawat di Museum Nusantara

Tongkat kayu jati dan alat memanah yang diyakini memiliki nilai historis di Perpustakaan/Museum Nusantara Masjid Jami Lasem, Kabupaten Rembang Peninggalan ulama Lasem, KH Abdul Halim atau Mbah Halim. (Foto: NU Online/Ayu Lestari)

Rembang, NU Online

Peninggalan ulama Lasem, KH Abdul Halim atau Mbah Halim, kini tersimpan di Perpustakaan/Museum Nusantara Masjid Jami Lasem, Kabupaten Rembang. Dua benda tersebut berupa tongkat kayu jati dan alat memanah yang diyakini memiliki nilai historis.


KH Abdul Halim merupakan putra ketiga Kiai Baidhowi Lasem. Informasi mengenai peninggalan tersebut diperoleh dari Kiai Ishaq, yang kemudian menitipkannya kepada pengelola museum.


“Benda ini titipan dari Kiai Ishaq,” ujar Abdullah, pengelola Perpustakaan dan Museum Nusantara Masjid Jami Lasem, kepada NU Online, Selasa (24/2/2026).


Menurut pihak keluarga, alat memanah dan tongkat tersebut diduga terinspirasi dari sejarah Perang Kuning Lasem pada 1750 M. Namun, Abdullah menegaskan bahwa penelusuran nilai historisnya tetap merujuk pada referensi bacaan dan sumber sejarah yang tersedia.


Selain dikenal sebagai ulama, Mbah Halim juga dipandang masyarakat sebagai sosok yang memiliki maqam jadzab dalam tradisi tasawuf, yakni kondisi spiritual ketika seseorang tenggelam dalam kecintaan kepada Allah SWT hingga mengabaikan kesadaran rasional dan norma sosial umum. Sosok dengan maqam tersebut kerap diasosiasikan dengan perilaku khariq al-adah serta kehidupan yang dipenuhi zikir dan ibadah.


Abdullah juga menyebut adanya kisah karamah yang berkembang di masyarakat tentang Mbah Halim. Diceritakan, seorang tokoh nasional pernah didoakan olehnya dan sehari kemudian terbebas dari persoalan yang dihadapi. Kisah tersebut diyakini sebagai bagian dari karamah yang melekat pada dirinya.


Hingga kini, tongkat dan alat panah tersebut tersimpan rapi sebagai koleksi museum.


Sejumlah catatan sejarah Lasem turut menjadi rujukan, di antaranya naskah Carita Sejarah Lasem yang ditulis Raden Panji Kamzah pada 1858. Naskah tersebut kemudian disadur Raden Panji Karsono pada 1920 dan kembali disadur pada 1986. Namun, sebagian referensi hasil saduran lama belum sepenuhnya dapat diakses.


“Ini menjadi tantangan sumber sejarah kita. Padahal bisa menjadi dasar ilmu pengetahuan bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum,” ujar Abdullah.


Sebagai upaya pelestarian, museum bersama sejumlah pihak melakukan digitalisasi manuskrip kuno. Museum Nusantara Masjid Jami Lasem juga menjadi lokasi praktik kerja lapangan mahasiswa IAI Khozinatul Ulum Blora.


Selain itu, digitalisasi manuskrip Masjid Jami Lasem diprakarsai STAI Al-Anwar Sarang bekerja sama dengan The British Library. Pihak museum menyiapkan satu manuskrip ageng untuk didigitalisasi.


Upaya serupa juga dilakukan Perpustakaan Daerah Rembang yang mendigitalisasi mushaf Al-Qur’an kuno dari Temanggung. Langkah ini diharapkan memperkuat pelestarian arsip sejarah dan manuskrip keislaman agar tetap terjaga serta dapat diakses masyarakat luas.