Kemenag Luncurkan 20 Program Ramadhan, dari Dakwah hingga Pemberdayaan Umat
Selasa, 10 Februari 2026 | 20:15 WIB
Konferensi pers Kemenag soal peluncuran program Ramadhan di Jakarta, pada Selasa (10/2/2026). (Foto: NU Online/Suci)
Jakarta, NU Online
Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan 20 program untuk menyambut dan mengisi Ramadhan 1447 H. Program bertajuk Joyful Ramadhan ini mencakup penguatan ibadah, dakwah, hingga pemberdayaan sosial ekonomi umat. Program-prorgam ini dirancang sebagai ikhtiar menghadirkan Ramadhan yang menggembirakan, produktif secara sosial, dan khusyuk secara spiritual.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kemenag Abu Rokhmad menyampaikan bahwa Joyful Ramadhan menjadi agenda strategis Ditjen Bimas Islam dalam mengoptimalkan peran layanan keagamaan selama bulan suci.
Abu menjelaskan, terdapat tiga fokus utama dalam pelaksanaan Joyful Ramadhan. Pertama, penguatan layanan keagamaan melalui optimalisasi peran masjid sebagai pusat ibadah dan pemberdayaan, Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai simpul pembinaan keluarga sakinah, serta penyuluh agama sebagai agen literasi keagamaan di tengah masyarakat.
“Kami ingin memastikan layanan keagamaan selama Ramadhan mudah diakses, responsif, dan memberi manfaat nyata, mulai dari bimbingan ibadah, konsultasi keluarga, hingga edukasi zakat, wakaf, dan filantropi Islam,” ujar Ismail pada konferensi pers Joyful Ramadhan, di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Fokus kedua adalah penguatan literasi keislaman yang mencerahkan melalui narasi dakwah yang ramah, moderat, dan menyejukkan. Materi dakwah selama Ramadhan diarahkan pada isu keluarga, ekonomi umat, dan kebangsaan, dengan penekanan pada konten yang edukatif serta berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Ia menyebut, seluruh aktivitas dakwah Ramadhan berada dalam koridor pembinaan dan pemantauan agar sejalan dengan nilai keislaman yang damai dan inklusif. Kolaborasi dengan ulama, organisasi kemasyarakatan Islam, akademisi, dan komunitas menjadi kunci untuk memastikan pesan-pesan keagamaan tersampaikan secara konstruktif.
Fokus ketiga adalah pemberdayaan sosial ekonomi umat melalui optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Program seperti Kolaborasi Indonesia Berdaya, TerasZAWA, bazar Ramadhan, hingga dukungan bagi UMKM masjid diarahkan untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum penguatan kesejahteraan spiritual dan material.
“Ramadhan bukan hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial, ketahanan keluarga, dan distribusi filantropi produktif. Dampaknya diharapkan terasa hingga pada penguatan harmoni dan moderasi kehidupan berbangsa,” kata Abu.
Ia menambahkan, rangkaian Joyful Ramadhan 1447 H mencakup berbagai agenda nasional. Program pertama adalah Tarhib Ramadhan yang telah digelar pada Ahad (8/2/2026) di Jakarta, sebagai pintu awal menyemarakkan bulan suci.
Kedua, Indonesia Berdaya Ramadhan. Abu menjelaskan Kemenag bersama Kemenko PM dan MUI menginisiasi kolaborasi dengan misi mengoptimalkan pemberdayaan dana umat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di wilayah kemiskinan ekstrem.
Ketiga, Future Leaders of Masjid yang diharapkan menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi penerus masjid agar siap berkontribusi, berinovasi, dan menjaga keberlanjutan peran masjid sebagai pusat peradaban.
Keempat, Sakinah Funwalk yang akan digelar di Simpang Lima, Semarang. Kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai keharmonisan keluarga sekaligus meningkatkan kesadaran pentingnya pencatatan pernikahan melalui kegiatan olahraga ringan.
Kelima, Hilal Observation Coaching sebagai forum edukasi ilmu falak bagi generasi muda. Keenam, Qari Goes to Campus yang menghadirkan para juara MTQ untuk berbagi inspirasi, motivasi, dan nilai-nilai Qurani di lingkungan kampus.
Program lainnya meliputi Peringatan Nuzulul Quran tingkat kenegaraan, Move for Sakinah Maslahat, TerasZawa, Ekspedisi Masjid Indonesia, Semesta Ramadhan Ibu Kota Negara, Pengiriman Dai ke daerah 3T, Halal Goes to Campus, Shalat Tarawih Keliling, serta Ruang Dakwah bersama Menteri Kabinet Merah Putih.
Selain itu, terdapat pula agenda Takbir Akbar dan Shalat Idul Fitri, Indonesia Berzakat, Festival Ramadhan PLKI, hingga Islamic Wedding Expo.
“Melalui Joyful Ramadhan, kami ingin menghadirkan Ramadhan yang menggembirakan, bermakna, dan berdampak. Negara hadir untuk melayani, membersamai, dan menguatkan umat dalam menjalani ibadah dengan tenang dan penuh harapan,” pungkasnya.
Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu menambahkan bahwa Joyful Ramadhan berangkat dari mandat utama Kementerian Agama, yaitu mendekatkan umat dengan ajaran agamanya.
Menurutnya, semakin dekat umat dengan nilai-nilai keagamaan, semakin damai kehidupan sosial. Sebaliknya, jarak dengan ajaran agama berpotensi melemahkan harmoni masyarakat.
“Tugas Kementerian Agama adalah mendekatkan umat dengan ajarannya. Semakin dekat umat dengan agama, semakin damai kehidupan ini. Ramadan menjadi momentum paling tepat untuk memastikan kedekatan itu benar-benar terwujud,” ujar Ismail.
Ia menjelaskan, Ramadhan diposisikan sebagai ruang transformasi yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga spiritual, sosial, dan kebangsaan. Konsep Joyful Ramadhan memuat tiga makna utama, yakni ibadah yang menggembirakan dan menumbuhkan optimisme, penguatan kebersamaan sosial melalui solidaritas dan kepedulian, serta produktivitas keberagamaan yang edukatif dan solutif.
Ismail berharap, rangkaian kegiatan Joyful Ramadhan memberi dampak nyata pada penguatan moderasi beragama, harmoni sosial, serta peningkatan kualitas layanan publik keagamaan. Seluruh program dirancang inklusif dan melibatkan berbagai elemen, mulai dari ulama, ormas keagamaan, akademisi, hingga komunitas masyarakat.
“Ramadhan harus melahirkan umat yang saleh secara spiritual, kuat secara sosial, dan mampu berkontribusi bagi bangsa. Di sinilah negara hadir sebagai pelayan umat, penggerak harmoni, dan penjaga nilai-nilai keagamaan yang damai,” katanya.