Nasional

Ketergantungan AI Bisa Melemahkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa

Selasa, 20 Oktober 2026 | 12:00 WIB

Ketergantungan AI Bisa Melemahkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa

Ilustrasi: Membaca dan berdiskusi tetap diperlukan agar mahasiswa berlatih berpikir kritis (Magnific)

Jakarta, NU Online

Tantangan lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan terbatasnya lapangan kerja, tetapi juga kesiapan kompetensi dalam menghadapi kebutuhan dunia profesional. Ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

 

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof R Agus Sartono, mengingatkan bahwa penggunaan AI, termasuk ChatGPT, perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir mandiri.

 

Menurutnya, teknologi yang semestinya membantu proses belajar justru dapat merugikan mahasiswa apabila menggantikan proses berpikir mereka.

 

“Tidak apa-apa menggunakan ini, tapi menggunakan AI dan GPT itu justru akan merugikan diri sendiri, karena critical thinking skill-nya akan tergantikan oleh AI. Padahal untuk bekerja diperlukan anak seperti itu,” ujarnya dalam keterangan yang diterima NU Online, Selasa (20/10/2026).

 

Prof Agus menyampaikan bahwa kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah tetap dibutuhkan ketika lulusan memasuki dunia kerja.

 

“Mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan teknologi untuk memperoleh informasi dan menyelesaikan tugas, tetapi juga harus mampu memahami persoalan, mengevaluasi informasi, serta menyusun argumen secara mandiri,” katanya.

 

Ia menekankan pentingnya membangun minat baca dan keterlibatan aktif mahasiswa selama perkuliahan. “Mahasiswa perlu membaca materi sebelum kelas, mendiskusikan gagasan, dan menghubungkan pengetahuan dengan persoalan yang dibahas,” ujarnya.

 

Prof Agus juga menerapkan metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa menyampaikan pendapat dan aktif berdiskusi. Melalui proses tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengartikulasikan gagasan, mempertanggungjawabkan pemikiran, dan berkomunikasi dengan baik.

 

Namun, peningkatan kompetensi individu tidak dapat menjadi satu-satunya jawaban atas persoalan ketenagakerjaan. Ia menegaskan bahwa kesiapan lulusan harus berjalan beriringan dengan perluasan kesempatan kerja.

 

“Peningkatan kompetensi lulusan perlu berjalan beriringan dengan perluasan kesempatan kerja. Pendidikan dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia profesional, tetapi kesiapan individu saja tidak cukup apabila pertumbuhan lapangan kerja masih tertinggal dari jumlah pencari kerja,” katanya.

 

Menurutnya, upaya mengatasi tantangan tersebut perlu mencakup pengembangan industri padat karya, kebijakan investasi yang mempertimbangkan penyerapan tenaga kerja, penguatan ekonomi daerah, serta pendidikan yang membangun kompetensi lulusan.

 

“Pertumbuhan ekonomi perlu diikuti oleh terbukanya peluang kerja agar masyarakat tidak hanya memperoleh pendidikan dan keterampilan, tetapi juga kesempatan untuk menggunakannya dalam pekerjaan yang produktif,” pungkas Prof Agus.