Ketua PBNU Soroti Tantangan Generasi Kini Hadapi Lonjakan Teknologi
Ahad, 14 Juni 2026 | 16:00 WIB
Ketua PBNU, H Mohamad Syafi Alielha (Savic Ali/kanan) Komisi Aswaja an-Nahdliyah dan Tantangan Emerging Technology pada Muktamar Kebudayaan Indonesia di Unwaha, Jombang, Sabtu (13/6/2026). (Foto: NU Online/Syamsul Arifin)
Jombang, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), H Mohamad Syafi' Alielha (Savic Ali), menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi saat saat ini di era digital, khususnya di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI).
Menurut Savic, di balik kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan teknologi, ada gejala pelemahan yang pada generasi saat ini. Salah satunya adalah penurunan kapasitas fisik. Jika dibandingkan dengan generasi terdahulu, fisik generasi masa kini cenderung lebih lemah karena aktivitas fisik telah banyak digantikan oleh mesin.
"Fisik kita lebih lemah daripada kakek-kakek, bapak-bapak kita. Kakek kita biasa jalan kaki ke mana-mana sehingga fisiknya bagus. Kenapa kita berbeda? Karena pekerjaan fisik kita sudah diambil alih oleh teknologi, mulai dari motor, mobil, dan sebagainya," ujar Savic saat menjadi pemantik dalam Komisi Aswaja an-Nahdliyah dan Tantangan Emerging Technology pada Muktamar Kebudayaan Indonesia di Unwaha, Jombang, Sabtu (13/6/2026).
Selain fisik, Savic juga menyoroti fenomena anomali pada kemampuan berpikir. Logikanya, ketika pekerjaan fisik sudah diwakili oleh teknologi, manusia memiliki lebih banyak waktu untuk mengasah kemampuan kognitifnya. Namun, realitas yang terjadi justru sebaliknya, daya pikir generasi saat ini terindikasi ikut melemah.
"Fisik yang lemah itu sebenarnya memberikan privilege agar otak kita bisa lebih mengembangkan kemampuan kognitif dan kecerdasan berpikir. Padahal, yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah karena kita memiliki kecerdasan berpikir (hayawanun nathik)," jelasnya.
Kendati demikian, Savic Ali mengaku tidak sepenuhnya cemas dengan lompatan teknologi ini. Ia meyakini manusia dibekali kemampuan dan kesadaran murni untuk mengevaluasi sekaligus memperbaiki diri saat menghadapi masalah.
Oleh karena itu, di tengah tren penurunan tersebut, ia optimis akan selalu lahir sekelompok kecil generasi yang justru mampu melampaui capaian generasi sebelumnya.
"Di era ketika rata-rata kecerdasan orang mulai menurun, akan tetap lahir orang-orang dengan kepintaran di atas rata-rata yang menjadi ilmuwan, ulama, dan ahli lainnya. Sama seperti bidang fisik, kita tetap melihat lahirnya para olahragawan, pelari maraton, hingga pendaki profesional," ungkapnya.
Meski begitu, Savic mengingatkan satu hal krusial yang harus menjadi perhatian bersama, risiko terbentuknya sebuah peradaban yang timpang, di saat populasi dunia didominasi oleh mayoritas yang lemah secara fisik dan berpikir, sementara keunggulan hanya tersentralisasi pada segelintir orang.
"Bagaimana nanti sebuah peradaban berjalan jika yang pintar hanya segelintir orang, dan yang kuat secara fisik juga hanya segelintir orang?" pungkasnya.