KH Afifuddin Muhajir Ajak Pengurus NU Akhiri Masa Khidmah dengan Husnul Khatimah
Kamis, 21 Mei 2026 | 17:00 WIB
Rapat Pleno PBNU terkait penentuan Munas dan Konbes di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (Foto: NU Online/Aji)
Jakarta, NU Online
Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Afifuddin Muhajir mengajak seluruh pengurus pusat NU di berbagai bidang dan lembaga untuk menutup masa kepengurusan dengan semangat husnul khatimah atau akhir yang baik.
“Kepengurusan PBNU yang sekarang ini husnul khatimah, karena husnul khatimah itu bisa melunturkan gonjang-ganjing yang ada sebelumnya,” ujarnya dalam Rapat Pleno PBNU di Lantai 8 Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Kiai Afif menyampaikan bahwa akhir masa kepengurusan bukan sekadar pergantian struktur organisasi, melainkan momentum untuk meninggalkan jejak dan keputusan penting bagi masa depan NU.
“Kita sekarang sudah berada di ujung, mungkin sebentar lagi. Dalam periode yang akan datang, mungkin kita tidak akan lagi menjadi pengurus PBNU, seluruhnya atau sebagian. Akan tetapi, yang penting adalah husnul khatimah,” ujarnya.
Ia mengatakan penting bagi pengurus melakukan refleksi terhadap warisan yang akan ditinggalkan kepada generasi penerus organisasi.
Menurutnya, NU tidak cukup hanya menjalankan roda organisasi, tetapi juga harus melahirkan keputusan strategis yang memiliki dampak jangka panjang bagi umat dan bangsa.
“Ada pertanyaan besar dari saya, kira-kira kita ini akan meninggalkan PBNU apa? Apa yang akan diwariskan kepada pengurus PBNU yang akan datang atau kepada nahdliyin? Apa yang akan kita wariskan?” katanya.
Kiai Afif menyampaikan bahwa keputusan besar yang lahir dari muktamar mendatang dapat menjadi warisan penting bagi generasi penerus NU.
“Kalau muktamar yang akan datang kita kerjakan bersama dan melahirkan keputusan, mungkin itu yang akan kita wariskan kepada para penggantinya nanti,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pengurus NU mengesampingkan kepentingan pribadi maupun kelompok demi tujuan bersama organisasi.
“Mudah-mudahan ini bisa diupayakan, bagaimana muktamar yang akan datang adalah muktamar yang luar biasa, dalam tanda petik. Perlu kita kesampingkan kepentingan demi tujuan yang sama ini,” tuturnya.
Kiai Afif juga menyinggung karakter muktamar mendatang yang dinilainya memiliki kemiripan dengan Muktamar Ke-27 NU di Situbondo, Jawa Timur. Muktamar tersebut dikenang sebagai momentum penting karena mampu menyelesaikan konflik internal sekaligus melahirkan keputusan besar mengenai hubungan Pancasila dan Islam.
“Muktamar yang akan datang ini memiliki karakter yang sama dengan Muktamar Ke-27 di Situbondo, yang menurut saya bisa disebut sebagai muktamar luar biasa karena menyelesaikan konflik yang terjadi sebelumnya,” ujarnya.
Ia berharap muktamar mendatang tidak hanya menjadi agenda rutin pergantian kepengurusan, tetapi juga mampu menjadi ruang konsolidasi organisasi.
“Mudah-mudahan muktamar yang akan datang bisa menyelesaikan persoalan ini dan bukan hanya bisa menyelesaikan,” tandas Kiai Afif.