KH Miftachul Akhyar: Muktamar Ke-35 Jadi Pelajaran NU untuk Berani Keluar dari Kebiasaan
Jumat, 11 September 2026 | 01:45 WIB
Rais Aam PBNU terpilih, KH Miftachul Akhyar dalam acara Pembubaran Panitia Muktamar ke-35 NU di GSG Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Kamis (10/9/2026) malam. (Foto: Tangkapan layar Tambakberas TV)
Jombang, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2026-2031 KH Miftachul Akhyar menyebut pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjadi pelajaran penting bagi Nahdlatul Ulama untuk berani melakukan terobosan dan keluar dari kebiasaan.
Hal itu disampaikan KH Miftachul Akhyar dalam sambutannya pada acara pembubaran Panitia Muktamar Ke-35 NU di Gedung Serba Guna KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (10/9/2026) malam.
Menurut Kiai Miftach, keberhasilan penyelenggaraan Muktamar Ke-35 menunjukkan bahwa sesuatu yang semula dianggap sulit, bahkan tidak mungkin, dapat diwujudkan melalui kekompakan dan ikhtiar bersama.
Ia mengutip pesan Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam yang, menurutnya, mengajarkan pentingnya menerobos kebiasaan yang selama ini menjadi ukuran dalam melihat dan menilai sesuatu.
“Jadi muktamar ini pelajaran penting buat NU, buat kita semuanya, agar nguri-nguri hal-hal yang di luar kebiasaan,” ujarnya.
Kiai Miftach menilai pelaksanaan Muktamar Ke-35 menjadi contoh bahwa ukuran dan perhitungan yang sebelumnya dianggap sebagai batas tidak selalu menjadi sesuatu yang mutlak. Menurutnya, kekompakan seluruh pihak menjadi salah satu faktor penting yang membuat penyelenggaraan Muktamar dapat berlangsung dengan baik.
“Hal-hal yang cara ukuran itu sudah menurut hitung-hitungannya, ternyata hitungan-hitungan itu tidak sama dengan apa yang di luar hitungan. Pokoknya luar biasa kemarin itu,” tuturnya.
Sebut Tanah Haramnya Nahdlatul Ulama
Kiai Miftach juga mengaitkan keberhasilan Muktamar dengan keberadaan para muassis atau pendiri pesantren di kawasan Jombang. Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan Muktamar di Tambakberas tidak semata-mata lahir dari ikhtiar manusia, tetapi juga tidak terlepas dari keberkahan dan doa para pendiri pesantren.
“Kalau ternyata berhasil sungguh kompak, karena di sini adalah Jombang, Tambakberas, Tebuireng, Denanyar, Peterongan. Ini saya anggap Tanah Haramnya Nahdlatul Ulama,” katanya.
Ia mengatakan berbagai hal yang semula dipandang tidak mungkin akhirnya dapat diwujudkan melalui kekompakan dan ikhtiar. Karena itu, ia berharap keberhasilan yang ditunjukkan dalam Muktamar Ke-35 dapat dipertahankan dan menjadi inspirasi bagi pesantren serta penyelenggaraan kegiatan NU lainnya.
“Sekaligus nambah hal-hal yang mungkin dianggap kurang baik di Muktamar Jombang yang kemarin, itu dihapus di Tambakberas ini. Lah ini agar bisa dipertahankan. Dipertahankan sebuah keluarbiasaan ini,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kiai Miftach memandang keberhasilan Muktamar sebagai bentuk rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tetap hadir melalui proses ikhtiar yang dilakukan oleh seluruh pihak.
“Jadi muktamar kemarin itu termasuk bagian daripada rezeki min haitsu la yahtasib. Tapi semua itu akan ditunjukkan oleh Allah dengan upaya dan ikhtiar,” ungkapnya.
Kiai Miftach juga mengapresiasi kerja panitia yang dinilainya telah berupaya keras memberikan pelayanan kepada seluruh peserta Muktamar. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja bersama antara panitia, pesantren, warga NU, dan berbagai pihak yang terlibat.
Di akhir sambutannya, Kiai Miftach berharap keberkahan dan kesuksesan Muktamar Ke-35 dapat terus dipertahankan. Ia juga berharap Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dapat menjadi tolok ukur bagi pesantren lainnya.
“Semoga berkah dan kesuksesan ini terus bisa kita pertahankan, dan Tambakberas akan menjadi tolok ukur untuk pesantren-pesantren yang lain,” pungkasnya.