Nasional

Kiai Anwar Manshur Ingatkan Kebiasaan Sepele Jadi Penghambat Datangnya Rezeki

Selasa, 3 Maret 2026 | 19:33 WIB

Kiai Anwar Manshur Ingatkan Kebiasaan Sepele Jadi Penghambat Datangnya Rezeki

Mustasyar PBNU sekaligus Pengasuh Pesantren Lirboyo saat mengampu pengajian Ramadhan. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Anwar Manshur mengingatkan bahwa terdapat berbagai faktor yang dapat menghambat datangnya rezeki. Di antara penghambat datangnya rezeki itu adalah berbagai kebiasaan sepele yang kerap dilakukan dalam sehari-hari.


Ia menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, rezeki bukan semata hasil kalkulasi matematis dari kerja keras, melainkan buah dari interaksi spiritual antara hamba dan Sang Pencipta. Karena itu, dimensi batin seseorang turut menentukan kelapangan atau kesempitan hidupnya.


“Seseorang dapat terhalang rezekinya karena dosa yang ia lakukan,” ujar Kiai Anwar dalam pengajian Ramadhan Kitab Ta’limul Muta’allim yang tayang di kanal Youtube Lirboyo, diakses NU Online pada Selasa (3/3/2026).


Ia menyoroti kebohongan sebagai salah satu dosa yang berdampak langsung terhadap keberkahan hidup. Dusta, menurutnya, bukan sekadar pelanggaran moral, melainkan memiliki konsekuensi spiritual yang panjang.


“Kebohongan itu mewariskan kefakiran,” ucapnya.


Kiai Anwar menyampaikan perlunya refleksi atas realitas sosial yang kerap menormalisasi kebohongan, baik dalam urusan pribadi maupun publik.


Ia menegaskan bahwa perilaku yang dianggap sepele dapat menjadi penghalang rezeki karena merusak integritas batin seseorang.


Selain dosa kebohongan, Kiai Anwar menyinggung kebiasaan harian yang sering diremehkan, yakni tidur setelah waktu subuh. Menurutnya, pagi hari adalah momentum distribusi keberkahan.


“Waktu pagi adalah saat di mana keberkahan didistribusikan. Tidur di waktu pagi itu menghalangi rezeki,” tutur Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur itu.


Kiai Anwar mengajak jamaah untuk menghidupkan waktu fajar dengan aktivitas yang bernilai ibadah maupun produktif.


Ia menyebut zikir, membersihkan rumah, hingga menjaga kebersihan wadah makanan sebagai bagian dari ikhtiar spiritual menarik keberkahan.


“Menyapu halaman rumah dan menjaga kebersihan wadah makanan adalah bagian dari upaya menarik kekayaan,” ungkapnya.


Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kualitas ibadah sebagai fondasi kelapangan rezeki. Shalat, menurutnya, tidak cukup dilakukan sekedar menggugurkan kewajiban. Tuma'ninah atau ketenangan dalam shalat menjadi unsur penting yang menentukan nilai spiritualnya.


Kiai Anwar juga menyoroti fenomena shalat yang dilakukan terburu-buru tanpa penghayatan. Padahal, dalam perspektif tasawuf, kualitas hubungan dengan Allah diyakini berbanding lurus dengan keberkahan hidup.


“Rutinitas shalat Dhuha dan pembacaan Surah Al-Waqi’ah juga dapat sebagai amalan memperlancar rezeki yang paling ampuh,” tuturnya.


Kiai Anwar menegaskan bahwa persoalan rezeki tidak hanya bertumpu pada strategi ekonomi, tetapi juga pada pembenahan moral dan spiritual.


Di tengah kompetisi material yang kian ketat, ia mengingatkan pentingnya menjaga integritas batin sebagai jalan membuka pintu keberkahan.


“Menjaga diri itu wajib supaya pintu-pintu rezeki dan keberkahan datang,” ujar Kiai Anwar.