Kiai Ma'ruf Amin: Pola Pikir Mbah Wahab Chasbullah Relevan untuk Abad Kedua NU
Sabtu, 14 Februari 2026 | 16:00 WIB
Musytasyar PBNU, KH Ma'ruf Amin saat Bedah Buku KH Wahab Chasbullah di Gedung Kementerian Haji dan Umrah RI, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026).(Foto: Budianto)
Jakarta, NU Online
Musytasyar PBNU KH Ma'ruf Amin mengatakan pola pikir yang dirintis pendiri NU KH Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) dapat menjadi rujukan penting bagi warga NU untuk menapaki abad kedua NU.
Pernyataan ini disampaikan Kiai Ma'ruf Amin saat membuka Bedah Buku KH Wahab Chasbullah di Gedung Kementerian Haji dan Umrah RI, Jakarta Pusat pada Sabtu (14/2/2026).
"Bagaimana mengaktualkan kembali cara berpikir ini untuk kebangkitan Tanah Air, hifdzul wathan, kifayatul wathan, agar mampu meredam propaganda yang dapat merusak bangsa ini, baik dari dalam maupun luar. Itulah semangat imaratul wathan atau memakmurkan negeri,” kata Kiai Ma'ruf.
Menurutnya, pemikiran Mbah Wahab perlu dihidupkan kembali untuk menjaga paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di tengah tantangan zaman bukan hanya tekstualisme, liberalisme, rasionalisme atau radikalisme.
"Oleh karena itu, semangat yang dirintis Mbah Wahab harus kita rumuskan kembali sesuai tantangan yang kita hadapi di abad kedua NU,” ujarnya.
Menurutnya, Buku Mbah Wahab yang ditulis Kiai Mun'im DZ untuk melahirkan kembali pemikiran seperti KH Wahab Chasbullah di abad kedua NU.
Baca Juga
Sorban Diponegoro Kiai Wahab Chasbullah
"Ini buku yang luar biasa dan sangat menginspirasi kita semua untuk melahirkan kembali Wahab Chasbullah abad kedua NU," katanya.
Di mata kiai Ma'ruf, Mbah Wahab merupakan sosok visioner dan sangat responsif terhadap keadaan. Salah satu gagasan terbesarnya adalah membentuk Taswirul Afkar atau forum para ulama untuk berdiskusi dan memperluas wawasan keislaman serta kebangsaan.
"Itu sesuatu yang luar biasa, membuat forum ulama untuk berdiskusi tentang keadaan, memperluas cakrawala pandangan terhadap berbagai pemikiran, untuk kemudian direspons. Dari diskusi itulah lahir Nahdlatul Wathan,” jelasnya.
Mbah Wahab juga menggagas kemandirian ekonomi dengan mendirikan Nahdlatut Tujjar, wadah usaha bagi warga Nahdliyin karena tidak mungkin berjuang tanpa biaya.
"Ini pemikiran yang luar biasa menurut saya,” tegas Kiai Ma'ruf.
Sementara itu, putri Kiai Wahab, Nyai Hj Hizbiyah Rochim, mengatakan buku tentang Mbah Wahab bukan sekadar karya biografi, tetapi juga upaya menghidupkan kembali jejak pemikiran yang sering dikaji dan relevan dengan konteks kekinian.
"Buku ini merupakan upaya penting bahwa beragama harus selaras dengan mencintai Tanah Air, hubbul wathan minal iman," katanya.
Menurutnya, melalui buku ini generasi muda diingatkan kembali bagaimana Kiai Wahab mengelola perbedaan dengan dialog, namun tetap teguh memegang prinsip Aswaja.
"Beliau (Mbah Wahab) membuktikan bahwa menjadi muslim yang taat dan menjadi warga negara yang nasionalis bukanlah dua hal yang bertentangan,” tandasnya.